alexametrics
Sabtu, 27 Feb 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Januari, 71 Meninggal Akibat Covid-19 di Kota

30 Januari 2021, 08: 45: 59 WIB | editor : Imron Arlado

radarmojokerto.jawapos.com

DISEMAYAMKAN: Tim pemulasaraan Covid-19 melakukan pemakaman jenazah secara protokol kesehatan di kompleks Makam Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Jumat (29/1). (Sofan Kurniawan/Radarmojokerto.jawapos.com)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Mengawali tahun 2021, Kota Mojokerto mencatatakan rekor baru terkait kasus periodik Covid-19. Sepanjang Januari, penambahan kasus terkonfirmasi mencapai 904 kasus. Pun dengan angka kematian yang mengalami peningkatan signifikan. Sebanyak 71 nyawa melayang akibat terpapar virus korona.

Lonjakan tersebut tercatat sebagai yang tertinggi selama pandemi. Sebab, jumlah kematian tersebut bahkan melampaui total kasus meninggal dunia sepanjang tahun lalu. Tercatat, selama 2020 jumlah warga meninggal akibat ada 58 orang. Sedangkan dalam waktu belum genap sebulan ini sudah menembus 129 orang atau meningkat dari dua kali lipat lebih.

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Kota Mojoekrto dr Achmad Reza mengjelaskan, tren peningkatan kasus dan penambahan jumlah kematian akibat virus korona terjadi sejak pengujung tahun 2020 lalu. Menurutnya, kondisi tersebit dipicu keterlambatan pasien untuk dirujuk ke rumah sakit (RS). ’’Banyak yang meninggal itu karena terlambat. Sehingga sampai ke rumah sakit rujukan sudah jelek kondisinya, pasien sering langsung meninggal,’’ terangnya Covid-19 di Kota.

Menurutnya, keterlambatan itu karena masyarakat yang masih antipati

datang ke fasilitas kesehatan, khususnya rumah sakit. Di samping itu, adanya stigma negatif terhadap warga yang terpapar virus korona juga menyebabkan warga memilih untuk tidak memeriksakan kondisi kesehatannya. ’’Sehingga saat kondisi jelek, baru terpaska datang ke rumah sakit. Padahal kalau datang awal-awal peluang sembuhnya banyak,’’ bebernya.

Kabid Yanmed RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo ini menyebutkan, sumbangan jumlah kematian juga tidak lepas dengan peningkatan kasus yang signifikan. Akibatnya, lonjakan kasus itu membuat ruang isolasi di RS rujukan Covid-19 Kota Mojokerto sempat mengalami overcapacity. Apalagi, daya tampung ruang Intensive Care Unit (ICU) Covid-19 juga terbatas. ’’Akhirnya kita tetap berusaha semaksimal mungkin. Tapi ada yang berhasil, ada juga yang tidak,’’ terang Reza.

Karena itu, di masa pandemi ini, baiknya warga lebih tanggap untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Terutama saat mengalami keluhan atau gejala yang mengarah pada Covid-19. Sehingga, jika diketahui terkonfirmasi sejak awal, maka pasien bisa mendapatkan penanganan yang lebih optimal. ’’Makanya tidak perlu takut ke rumah sakit atau puskesmas. Apalagi stigma juga sudah mulai diminimalkan sekarang,’’ ujarnya.

Dokter spesialis kandungan ini mengatakan, penyakit bawaan juga menjadi salah satu faktor memengaruhi angka kematian. Pasalnya, komorbid akan memperburuk kondisi pasien yang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Sehingga dibutuhkan penanganan dan treatment yang lebih ekstra.

Dia menyebut, dari keseluruhan pasien Covid-19 yang memiliki komorbid, didominasi dengan penyakit diabetes melitus (DM) dan darah tinggi. ’’Komorbid jelas memperberat, tapi bukan berati kalau tidak ada pasti aman. Karena ada juga pasien yang masih muda yang kena (Covid-19) tanpa komorbid juga meninggal,’’ imbuhnya.

Sejak pandemi, di rumah sakit pelat merah milik Pemkot Mojokerto ini sudah 200 lebih pasien Covid-19 yang tidak tertolong. Namun, jumlah tersebut tidak hanya berasal dari warga Kota Mojokerto, tetapi juga dari daerah tetangga. Seperti Kabupaten Mojokerto, Jombang, dan wilayah lainnya.

Namun, sejak Kota Mojokerto menerapkan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) per 15 Januari lalu, tren kasus dan jumlah kematian mulai melandai. Sehingga, status kota yang sebelumnya zona merah (risiko tinggi) turun menjadi oranye (risiko sedang).

Saat ini, kasus Covid-19 juga lebih bisa lebih ditekan. Pengendalian itu dikarenakan sudah dilakukan penambahan kapasitas ruang isolasi di RS rujukan maupun RS non-rujukan Covid-19.

Termasuk di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo yang saat ini juga bakal kembali menambah ruang isolasi yang saat ini menampung 75 tempat tidur (TT) dengan 7 ruang ICU. ’’Kita akan menambah ruang ICU mungkin 4-5 TT lagi dan menambah ruang Isolasinya satu lantai lagi dengan minimal 20 TT,’’ pungkas Reza. 

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP