alexametrics
Sabtu, 27 Feb 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Pedagang Kantin Sekolah Selama Sekolah Online

Rintis Usaha Nasi Kotak hingga Beralih Jualan Gorengan

25 Januari 2021, 09: 05: 59 WIB | editor : Imron Arlado

radarmojokerto.jawapos.com

RINTIS USAHA BARU: Nur Hidayati hendak mengirim nasi kotak buatannya. Bisnis baru itu dijalani sejak kantin sekolah tutup di masa pandemi. (rizal amrulloh/radarmojokerto)

Para pedagang di kantin sekolah harus memutar otak untuk bisa tetap mendapat penghasilan selama ditiadakannya pembelajaran tatap muka. Di Kota Mojokerto, sejumlah pedagang mulai mencoba peruntungan dengan alih profesi menjadi penjual nasi kotak hingga menjajakan gorengan.

RIZAL AMRULLOH, Kranggan, Jawa Pos Radar Mojokerto

SEPULUH bulan lebih Suhari mengunci rapat-rapat tempat usaha miliknya di Kantin Telaga Lima yang berada di lingkungan SMPN 5 Kota Mojokerto. Deretan meja dan kursi yang biasanya dipenuhi siswa saat jam istirahat dibiarkan tertumpuk begitu saja.

Kondisi yang sama juga dialami di lima kios kantin lainnya. Para pedagang terpaksa menutup usahanya lantaran tidak ada lagi pembeli. Maklum, sejak pandemi melanda, Pemkot Mojokerto menghentikan sementara aktivitas belajar tatap muka di sekolah.

Praktis, kantin sekolah pun kehilangan pelanggan utamanya. Sebab, seluruh peserta didik diminta untuk belajar di rumah masing-masing melalui daring. ’’Kantin libur sejak pertengahan Maret 2020 lalu,’’ terangnya.

Sebelum pandemi, pria yang akrab disapa Hari ini, berjualan di kantin SMPN 5 Kota Mojokerto. Dengan dibantu istrinya, Nur Hayati, mereka menjajakan aneka makanan dan minuman. Di hari aktif sekolah, usahanya tersebut mampu menghasilkan omzet kurang lebih Rp 200 ribu-Rp 300 ribu per hari.

Sejak diterapkannya pembelajaran jarak jauh (PJJ), pasangan suami istri (pasutri) itu pun akhirnya kehilangan sumber penghasilan dari usahanya. Hari menceritakan, awalnya dia masih berharap untuk bisa membuka kembali usaha kantin sekolah.

Namun, harapan itu pupus ketika menerima informasi resmi dari sekolah bahwa pembelajaran tatap muka dihentikan hingga batas waktu yang tidak ditetentukan. ’’Saya juga tidak mengira kalau tidak bisa jualan sampai sepanjang ini,’’ bebernya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ayah tiga anak ini pun sempat hanya menggantungkan dari honornya sebagai penjaga sekolah di SMPN 5. Namun, dengan penghasilan rata-rata sebesar Rp 500 ribu per bulan dinilai masih belum mencukupi untuk menjaga dapur rumahnya tetap mengepul.

Hingga akhirnya, Hari dan istrinya memberanikan diri merintis usaha kecil-kecilan sejak Juni 2020 lalu. Dengan bantuan modal pinjaman, pasutri ini memproduksi nasi kotak dengan menu ayam geprek. ’’Karena belum ada kepastian, akhirnya ada pemikiran untuk coba-coba nitipkan nasi ke warung-warung,’’ ulasnya.

Diakuinya, alih usaha tersebut awalnya cukup sulit untuk dijalankan. Bahkan, dari 5-10 porsi saja belum pasti habis setiap hari. Meski demikian, dia dan istrinya tetap berusaha untuk menjajakan ke sejumlah penjual lainnya.

Sampai saat ini, sudah ada sepuluh tempat lebih yang bersedia menerima paket nasi produksinya. Secara bertahap, pelanggan pun semakin bertambah. Dan, jerih payah mereka tak sia-sia karena bisa menghasilkan omzet Rp 400-500 ribu per hari. ’’Alhamdulilah saat ini sudah bisa sampai 80-100 nasi per hari,’’ tandasnya.

Hari tak sendiri, beberapa pedagang di kantin lainnya juga telah alih pekerjaan sejak pandemi. Beberapa ada yang bertahan berjualan, tetapi dengan membuka lapak di luar lingkungan sekolah. Ada pula yang banting setir berjualan gorengan di area Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto.

Meski bisnis yang dirintisnya kini sudah menjadi sumber penghasilan baru, tetapi pria kelahiran Surabaya 9 Mei 1969 ini tetap berharap agar aktivitas belajar mengajar bisa segera normal seperti biasanya. Pasalnya, dia mengaku masih ingin kembali menjalankan usaha kantin yang digeluti sejak 2010 lalu. (abi)

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP