alexametrics
Sabtu, 27 Feb 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Mengunjungi Dusun Janjing, Desa Seloliman

Debit Air Susut, Daya Listrik Langsung Menyusut

24 Januari 2021, 14: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Gardu generator pengubah aliran Sungai Maron menjadi tenaga listrik bagi Dusun Janjing yang terletak di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas.

Gardu generator pengubah aliran Sungai Maron menjadi tenaga listrik bagi Dusun Janjing yang terletak di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

SEJAK pertama kali didirikan tahun 1993, keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Kali Maron (PLTMH) Kali Maron, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, tak semulus yang diperkirakan.

Pembangkit listrik besutan Pusat Pelatihan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman bersama warga Dusun Janjing, Desa Seloliman, itu memiliki dinamika tersendiri. Mulai dari upgrading turbin hingga terkendala anjloknya debit air saat musim kemarau.

Ketua Badan Pengurus Paguyuban Kali Maron Suroso menjelaskan, sejak pertama kali PLTMH Kali Maron didirikan sudah mengalami sejumlah pengembangan. Mulai dari peningkatan daya hingga jumlah turbin.

Peningkatan daya tersebut berdasarkan pertimbangan debit air yang mencapai 350 liter per detik yang mampu menghasilkan 40 kWh. ”Sejak mulai beroperasi tahun 1994 itu, dayanya hanya 12 kWh. Karena dinilai masih mampu ditambah daya, tahun 2000 kami ganti turbin dengan daya 25 kWh,” ujarnya.

Penggunaan listrik tersebut bukan hanya warga Dusun Janjing. Namun, juga sejumlah rumah di Dusun Sempur dan sejumlah aset kantor PPLH Seloliman sendiri. Rata-rata, turbin tersebut menghasilkan daya sebesar 15 kWh. Sejak tahun 2009, jumlah turbin yang terletak di Dusun Biting, Desa Seloliman itu digandakan.

Yang semula hanya ada PLTMH Kali Maron, kini ditambah dengan PLTMH Wot Lemah. Bertujuan agar cakupan aliran listrik dapat dinikmati masyarakat secara luas. ”Itu diresmikan langsung oleh Pakde Karwo (Gubernur Jatim, kala itu), tapi kapasitasnya cuma 15 kWh,” ujarnya.

Sayangnya, PLTMH Wot Lemah tak bertahan lama. Tahun 2018 turbin PLTMH itu rusak setelah sempat beberapa kali mendapatkan perawatan. Otomatis, kini hanya tersisa satu PLTMH dengan daya turbin 25 kWh untuk mengaliri listrik sekitar 60 rumah.

”Karena manufaktur turbin ini berbeda, kualitasnya pun berbeda. Yang Wot Lemah itu dari China, sedangkan yang di sini (Kali Maron) dari Jerman,” ungkapnya. Suroso menerangkan, PLTMH Kali Maron tersebut hasil menabung dari kerja samanya dengan PLN. Sejak 2003 lalu, PLTMH Kali Maron terinterkoneksi dengan PLN.

Dengan kata lain, sisa daya yang dihasilkan PLTMH Kali Maron dijual ke PLN. Sehingga, hasil kerja sama tersebut menghasilkan pundi-pundi rupiah. Sekitar Rp 8 juta dikantongi paguyuban sebagai keuntungan. ”Sejak 2019 lalu kami sudah putus hubungan dengan PLN. Sekarang, listrik PLTMH ini hanya untuk masyarakat sendiri,” bebernya.

Beberapa kendala kerap membayangi PLTMH Kali Maron setiap saat. Mulai dari sumbatan sampah di aliran PLTMH hingga jumlah debit air yang menyusut saat musim kemarau. Ketika musim kemarau, debit air menyusut hingga 50 persen, hanya sekitar 170 liter per detik.

Otomatis, daya yang dihasikan menurun. ”Kalau musim hujan gini debit airnya aman,” terangnya sembari di menjelaskan komponen di ruang turbin. Dia membeberkan bagaimana tujuan lain dari didirikannya PLTMH tersebut.

Pihaknya konsen merubah pola pikir masyarakat Dusun Janjing agar dapat hidup berdampingan dengan alam. Pasalnya, sebelum mengenal PLTMH, warga setempat berkecimpung dalam illegal logging.

”Supaya membuat mereka sadar agar tidak menebang pohon lagi. Kalau tetap saja, mereka nggak akan menikmati listrik. Jadi, intinya hutan, air, dan listrik,” tandasnya. Kini, tujuan tersebut dirasa mulai terwujud. Warga setempat mulai beralih profesi sebgai petani, pedagang, hingga penyedia wisata. (vad)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP