alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi
Sepatu Dwi R-Jaya

Bertahan karena Costumize

11 Januari 2021, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Wasis tampak memberikan sentuhan akhir pada produk sepatu di bengkel kerjanya.

Wasis tampak memberikan sentuhan akhir pada produk sepatu di bengkel kerjanya. (Fendy Hermansyah/Radar Mojokerto)

Kreativitas para perajin sepatu kian diuji pada masa pandemi ini. Tak sedikit di antara mereka yang mengembangkan jalur pemasaran menggunakan pemasaran online.

HAL itu seperti dilakoni Wasis, perajin sepatu asal Dusun Panggreman, Desa Tunggalpager, Kecamatan Pungging ini. Pria berkumis tipis ini awalnya merintis usaha sepatu sejak tahun 2000-an.

Dia mengembangkan kemampuan membuat sepatu yang didapatnya ketika bekerja di sebuah pabrik sepatu asal Ngoro Industrial Park (NIP).

Merasa kemampuannya mencukupi, tahun 2005 dirinya memutuskan keluar dari pabrik. Kemudian memantapkan diri berwiraswasta membuat kerajinan alas kaki. ’’Istri saya ajak. Modalnya uang hanya Rp 1 juta,’’ ujar dia.

Selama 15 tahun berjalan, usahanya kian berkembang. Kini, dia mengandalkan empat pekerja saja. Semuanya merupakan pemuda desa setempat. Selain itu, alat yang digunakan masih konvensional.

Dalam sehari, ratusan pasang sepatu, khususnya sepatu wanita tercipta. Pembeli produk sepatunya kebanyakan berasal dari pesanan/order pembeli. Kebanyakan pembeli dari kalangan pekerja kantoran, baik pemerintahan maupun swasta.

’’Semua proses pembuatan sepatu dari membuat pola sepatu hingga pengepakan atau packing dilakukan di tempat ini,’’ bebernya. Kini, dia telah memiliki merek tersendiri, yakni Dwi R-Jaya. Nama itu hasil pemikiran istri yang dikombinasikan nama anak Wasis.

Berjalan belasan tahun, Wasis mengaku baru kali ini bertemu dengan masa krisi yakni masa pandemi wabah korona. Pandemi ini juga memengaruhi usahanya.

Maklum, biasanya pesanan sepatu bermunculan menjelang tahun ajaran baru dan menjelang Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran. ’’Untungnya, banyak order customize (pesanan khusus),’’ sebut dia.

Order pesanan itu banyak berasal dari kalangan TNI/Polri. Para aparat keamanan itu banyak memesan sepatu PDL (pakaian dinas lapangan). Selain itu, dari kalangan anggota satpol PP dan ormas yang menggunakan sepatu PDL.

’’Kami tidak hanya membuat sepatu wanita, tetapi juga PDL yang laris manis,’’ sebut pria 55 tahun ini. Meski begitu, diakui Wasis, kendala mengembangkan usaha masih terjadi. Utamanya, terkait permodalan usaha.

Ketika banyak pesanan sepatu PDL seperti sekarang ini, dirinya kekurangan pekerja. ’’Karena modal tak cukup terpaksa kami batasi pesanannya,’’ imbuh dia. Wasis mengakui jika produk yang dihasilkan keterampilan tangan karyawannya berbeda dari yang lain.

Bahkan, produknya dapat bertahan selama lebih dari 3 tahun. ’’Alhamdulillah banyak konsumen yang mengakui kualitas produksi kami, bahkan bisa bertahan sampai lebih dari tiga tahun meskipun digunakan setiap hari,’’ pungkasnya. 

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya