alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Cabai Mahal, Petani Cabai Terpaksa Panen Dini

08 Januari 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

jawapos.radarmojokerto.com

LEBIH AWAL: Petani di Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong memetik cabai yang masih berusia muda, Kamis (7/1). (Sofan Kurniawan/Radarmojokerto.jawapos.com)

DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Harga komoditas cabai rawit sedang mengalami fluktuasi. Di tingkat pasaran, harga tertinggi mencapai Rp 90 ribu per kilogram (kg). Sejumlah petani cabai di Kecamatan Dawarblandong pun mempercepat masa panen. Meskipun cabai muda hanya terjual Rp 20 ribu per kilogram (kg), panen dini terpaksa dilakukan karena tanaman mulai rusak.

Petani mengaku sudah mulai memanen cabainya sejak beberapa hari lalu. Mereka mempercepat panen setelah banyak tanaman cabai membusuk akibat intensitas hujan tinggi yang turun akhir-akhir ini. Selain itu, panen dini terpaksa dilakukan untuk menghindari cabai yang rontok dan kering karena serangan hama.

Kamah, 58, salah satu petani cabai rawit di Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong mengatakan, saat ini petani cabai sedang dilanda dilema. Banyaknya tanaman cabai yang rusak membuat mereka terpaksa mempercepat masa panen. Namun, dengan harga jual cabai muda yang dinilainya sangat rendah itu membuat petani merugi. ”Harga (cabai rawit muda) hanya dihargai Rp 20 ribu (per kg). Tapi, kalau ndak dipanen sekrang eman banyak yang rontok,” ungkapnya Kamis (7/1).

Kamah mengaku dalam sekali panen, lahan dengan luas sekitar setengah hektare itu mampu menghasilkan satu kuintal lebih cabai. Hasil panen tersebut biasanya disetorkan ke pengepul yang menjamur di kawasannya. Namun, jumlah tersebut diprediksinya turun tajam lantaran sebagian besar tanaman cabai rusak. ”Banyak yang rontok dan busuk karena terkena hujan terus,” tuturnya.

Selain pengaruh hujan, rusaknya tanaman cabai disebabkan serangan hama. Banyak cabai yang kering dan membusuk karena dimakan ulat dan kepik. ”Petani sudah ndak kebagian lah.  Banyak yang dimakan hama juga,” tambahnya. Alasan tersebut lah yang membuat dirinya dan petani lainnya di Kecamatan Dawarblandong memutuskan untuk mempercepat masa panen.

Kamah menambahkan, fluktuasi harga cabai r di tingkat pasar tidak banyak berpengaruh pada harga cabai di tingkat petani. Cabai muda yang dipanen hanya laku Rp 20 ribu  per kg. Kendati di pasaran harga cabai campuran mencapai Rp 90 ribu per kg. Kondisi lebih baik hanya bisa dirasakan petani ketika memanen cabai sesuai waktunya. Menurut Kamah, harga cabai rawit yang sudah tua atau memerah bisa mencapai Rp 70 ribu per kg. Namun, hal itu dirasa sulit karena banyak tanaman cabai yang rusak sebelum masa panen.

Dengan demikian, para petani pun harus memaneh lebih awal. ”Ya mau gimana lagi kita petani ya ndak bisa ngatur harga juga,” pungkasnya. (adi)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya