alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Proyek Rp 10 M Gagal Kendalikan Banjir

06 Januari 2021, 13: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

jawapos.radarmojokerto.com

GAGAL: Proyek dam penyaring sampah dibangun dengan anggaran Rp 10 miliar ini bertujuan mengendalikan banjir Afvoer Watudakon Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang. (vad/radarmojokerto.jawapos.com)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Dam proyek penyaring sampah di afvoer Kali Watudakon Desa Ngingasrembyong, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, gagal mengendalikan banjir. Lantaran, sampah yang tersaring menumpuk mengakibatkan aliran sungai terhambat hingga meluap di sejumlah desa.

Menurut informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, proyek dam penyaring sampah dibangun dengan anggaran Rp 10 miliar lebih pada tahun 2020. Proyek tersebut bertujuan mengendalikan banjir Afvoer Watudakon Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang. Bersumber dana APBN melalui DIPA SNVT pelaksana jaringan sumber air brantas.

Proyek yang dilaksanakan PT Inti Jawa Timur asal Gudang Pojokrejo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang itu dibangun tahun 2020 lalu. Dalam naungan Kementerian PUPR Dirjen Sumberdaya Air BBWS Wilayah Sungai Brantas di Surabaya.

Meski telah berfungsi sebagai penyaring sampah, nyatanya pengendalian banjir oleh dam anyar itu gagal terwujud. Bahkan, tumpukan sampah menyumbat aliran afvoer Kali Watudakon. Akibatnya, luapan air sungai tak terelakkan di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, dan Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang.

Salah satu warga menilai, keberadaan dam penyaring sampah tidak hanya gagal mengendalikan banjir, malah memperparah kondisi banjir. ’’Itu kan seharusnya membantu melancarkan aliran sungai, tapi malah menghambat hingga memicu banjir,’’ ujar Eko, warga setempat.

Lokasi dam juga dikunjungi Wabup terpilih, Muhamad Al Barra. Didampingi sejumlah anggota dewan, Camat Sooko, dan Kepala DPUPR Bambang Purwanto, Gus Barra-sapaan akrabnya melihat langsung kondisi dam. ’’Memang sudah begini adanya, tinggal bagaimana kita menyikapi saja,’’ ujar dia disinggung tanggapannya soal dam penyaring sampah yang dikeluhkan warga.

Menurut dia, solusi yang paling bisa dilakukan yakni menyiapkan sarana dan prasarana serta personil pembersihan. Itu agar penumpukan sampah tak terulang lagi. ’’Solusinya kita menyiapkan alat dan orang. Jadi ketika ada sampah terkumpul di sini bisa langsung disikapi,’’ bebernya.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Mojokerto Bambang Purwanto menyebutkan dam penyaring itu milik BBWS Sungai Brantas. Dibangun di wilayah Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang.

Ia mengatakan, pihaknya bersama PT Jasa Tirta dan sejumlah elemen lain membersihkan sampah yang tersangkut. Sebelumnya, warga dari Desa Tempuran dan Jombok inisiatif membersihkan meski secara manual. ’’Karena itu bukan kewenangan pemkab, kita tidak bisa menambah belanja modal di lokasi tersebut,’’ kata dia.

Lanjut dia, upaya pembersihan sampah yang tersangkut di dam penyaring sampah alias trash track terpaksa menggunakan alat berat backhoe. Mengingat, besaran volume sampah dan kondisi aliran sungai. ’’Kami siagakan alat berat jika sewaktu-waktu nanti dibutuhkan untuk pembersihan lagi,’’ tambah dia.

Sementara itu, kendati permukiman warga masih tergenang banjir, tetapi air di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, mulai surut. Jika sebelumnya ketingggian mencapai 60 sentimeter hingga satu meter itu kemarin tinggal 40 sentimeter.

Namun, ketinggian air luapan sungai itu berpotensi meningkat kembali lantaran Selasa  (5/1) petang hujan kembali mengguyur wilayah Mojokerto. (vad)

(mj/fen/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya