alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader

Alang-alang Dudu Aling-aling

02 Januari 2021, 10: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

jawapos.radarmojokerto.com

Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto Abi Mukhlisin. (nadzir/Radarmojokerto.jawapos.com)

TAK seperti biasanya. Ruangan itu sangat sepi. Gelak tawa atau amarah yang kerap mewarnai seolah tak bersisa. Dia duduk sendiri di antara tumpukan kertas penuh rangkaian kata. Sesekali tangannya meraih gelas plastik berisi kopi. Diseruput dan langsung ditelan. Pahit atau manis, tidak dia dirasakan.

Satu jam dia bertahan di kursi itu. Tatap matanya menggambarkan ketidaktenangan. Dia berusaha menutupi semua. Tak boleh ada seorang pun tahu. Apalagi turut tenggelam dalam masalahnya. Bagi dia, sedih miliknya sendiri. Jangan ada yang minta. Begitulah dia.

Pemandangan itu berakhir seiring senja tiba dan mengharuskan melupakan semua. Dia harus pulang bertemu keluarganya. Seketika dia menyelipkan rasa sebenarnya sedalam-dalamnya. Menata muka seolah bahagia. Berhasil. Dia tertawa. Yang ada sekarang, bahagia bohongan.

Hari berganti. Dia duduk di kursi kesukaannya. Gelak tawa membahana. Bibir tersenyum di mana-mana, di ruangan itu. Entah ditata atau begitu semestinya, yang pasti, wajahnya nampak gembira.

Waktu yang cepat untuk melepaskan masalah yang melilit sehari sebelumnya. Begitu mudahnya dia move on. Bangkit dan melakukan sesuatu. Teluran pemikiran untuk maju bermunculan. Hanya dalam waktu tak lebih dari dua jam, beberapa gagasan mampu dimatangkan. Harus segera dilaksanakan. Sebab, dia sangat menghindari kata nanti.

Cerita itu terjadi di tahun 2020. Di bulan yang sudah dilanda pandemi. Banyak orang dibuat terpuruk. Mulai dari kesehatan, ekonomi, dan percaya diri. Bahkan, dari yang tidak banyak, masih ada yang berpikiran dunia sudah berakhir. Terlebih mereka yang jatuh di titik terendah.

Ketakutan menyerang mental segala lini. Demi tetap sehat, aktivitas sehari-hari dihentikan. Salah satunya pendidikan. Semua harus belajar di rumah meskipun akhirnya dilanda kejenuhan. Para orang tua banyak yang diklaim anak-anaknya tidak berbakat menjadi guru atau pendidik. Sebaliknya, para orang tua perang batin antara jengkel, sayang, dan tega.

Permasalahan kala itu begitu kompleks. Satu ditekan, satunya menyembul. Ini dibiarkan moncer, itu terseok-seok. Begitu seterusnya sampai sekarang. Pemerintah dengan perangkat dan kekuatan yang dimiliki sudah hadir di tengah-tengah mereka. Namun, masalah tetap setia dengan kesukaannya hari ini.

’’Memang situasi ini sedang sulit. Tapi, apakah kita harus pasrah?’’ kata dia yang duduk di kursi kesukaannya.

Bukan karakter dan kebiasaan dia untuk gampang pasrah. Banyak jalan menuju Alun-Alun Kota Mojokerto. Seabrek akses untuk tiba di Pacet dan Trawas. ’’Asalkan ada kemauan dan kesungguhan, kita pasti bisa,’’ sambung dia.

Berangkat dari kemauan yang kuat, dia pun meninggalkan nanti untuk melakukan gerakan yang pasti. Berbagai terobosan dia telurkan. Bermacam hasil yang diraih. Gagal, pasti ada. Tapi tak sedikit yang berhasil.

Kondisi serbasulit justru membuatnya bergairah menaklukkan. Alang-alang dudu aling-aling. Pandemi bukan akhir dari segalanya. Penghalang yang ada tidak menutup kesempatan untuk tetap bisa melakukan sesuatu yang lebih baik. Soal berujung bahagia atau gundah, tak begitu dipikirkan. Yang terpenting sudah dipikirkan dan diperhitungkan dengan matang.

Berbekal menjauhkan diri dari nanti ketika sudah meyakini bisa lebih baik, kini dia membuktikan menjadi sosok yang survive. Dia yang senantiasa memegang pepatah Jawa alang-alang dudu aling-aling margining kautamaan, tidak mau istirahat untuk sejenak tak menelurkan terobosan. Tak sedikit yang sudah merasakan buah gagasan, kemauan, dan langkahnya. 

Hingga di akhir 2020, masih tersimpan keinginan untuk bisa melakukan sesuatu di tengah kekangan pandemi. Keinginan itu sedang dimatangkan untuk 2021. Dari dia yang duduk di kursi, selalu ada yang baru.

Kemarin, kita secara resmi menginjakkan kaki di bumi tahun 2021. Apa yang bakal terjadi selama 365 hari ke depan. Apakah tantangannya lebih hebat dari tahun 2020? Dilihat dan dirasakan nanti sambil berjalan.

Dulu, setahun yang lalu, sambil menunggu tahun berganti 2019 menjadi 2020, kita tidak pernah menyangka jika penyakit sedemikian kuatnya. Awalnya menyerang kesehatan manusia, tapi semakin lama, dampaknya merusak segalanya.

Pun kemarin malam. Di saat kita menunggu tahun berganti menjadi 2021 tanpa terompet dan kembang api, kita hanya bisa berharap pandemi segera usai. Sebab, kita juga tidak mengetahui secara pasti perubahan dari hari ke hari nanti.

Namun, apa pun yang terjadi nanti, setidaknya selama sepuluh bulan kita sudah banyak belajar. Berpikir, melangkah, juga bersabar, untuk bisa bertahan di tengah gempuran penyakit. Setidaknya, masing-masing kita, atau kelompok, sudah mempunyai rumus atau cara menaklukkan hegemoni pandemi.

Dengan hingga kemarin dan hari ini kita bisa bertahan, membuktikan jika rumus atau cara itu manjur. Tak hanya satu, tetapi ada banyak cara. Bahkan, di pengujung tahun 2020, sudah diberi sinyal penyakit model baru. Dari situ, setidaknya, kemarin kita juga sudah merumuskan cara bisa bertahan model baru juga.

Begitu seterusnya. Bersamaan dunia berputar, selalu ada yang baru. Dengan terus berharap doa dan dukungan orang tua, saudara, orang-orang tercinta, teman, sahabat, mitra kerja, dan semua saja yang kenal maupun tidak kenal, saya yakin jika alang-alang dudu aling-aling margining kautamaan.

Terima kasih 2020 atas pelajaran berharga yang telah diberikan. Selamat datang 2021 dengan harapan besar meraih yang lebih baik. (*) 

Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya