alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader

Menunggu Janji

01 Januari 2021, 13: 05: 59 WIB | editor : Imron Arlado

jawapos.radarmojokerto.com

Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto Imron Arlado. (Sofan Kurniawan/Radarmojokerto.jawapos.com)

Politik adalah puisi. Begitu kata eks presiden Amerika Serikat Richard Nixon saat ia digulingkan dari jabatannya tahun 1974 silam. Nixon baru menyadari, seorang politisi harus tetap menari meski musik telah mati. Politikus harus selalu berpenampilan elok terhadap siapa pun. Apalagi di negeri demokrasi. Sangat dilarang mencibir yang bisa menggerus empati.

Baru-baru ini, kalimat Nixon itu terlihat nyata di Kabupaten Mojokerto. Di momen pilkada yang telah berlalu. Tiga pasangan calon bertarung dengan gigihnya. Mereka saling berpuisi dengan indah.

Di depan para pendukungnya, mereka bak seorang penyair yang tengah jatuh cinta. Lantunan syairnya sangat indah. Kata-kata yang dilontarkan sangat menggetarkan. Berbagai kelemahannya selalu ditutupi dengan kepiawaiannya bertutur kata.

Kini, syair-syair itu tak lagi terdengar. Kita hanya menunggu pentas selanjutnya. Panggung besar telah menunggu janji-janji manisnya. Janji Ikfina Fahmawati-Muhammad Al Barra.

Banyak janji yang telah didengungkan. Mulai insentif guru TPQ, guru honorer, pembangunan infrastruktur, hingga pertanian dan kesehatan. Semua komplet tanpa tercecer sedikit pun.

Di tahun 2021 nanti. Kita akan melihat kerja pemimpin baru itu. Apakah langsung tancap gas atau justru sebaliknya. Landai dan nyaris tak membawa perubahan besar di wilayah dengan 18 kecamatan ini.

Yang terdengar nyaris di balik panggung, justru bukan siap-siap menjalankan program. Pertama kali yang akan disasar hanyalah perombakan struktur jabatan. Mengelus figur pendukung dan membuang lawan.

Semua adalah pilihan. Toh, semua itu tak dilarang aturan. Aturan membolehkan meski harus dijalankan dengan penuh sentimen dan ajang balas dendam. Boleh diberlakukan meski didasari kebencian.

Ini didengar sangat kencang di kalangan pejabat. Tak sedikit yang waswas. Tak sedikit pula yang sudah melobi ke sana kemari. Mencari jalan untuk mengamankan kursinya. Namun, ada pula yang hanya pasrah dan ogah dengan hiruk pikuk pemerintahan.

Namun, semua perlu diingat. Hadirnya Ikfina ke dunia pemerintahan, bukan untuk merusak. Ikfina sosok wanita yang lembut dan berhasrat membangun. Dan, ingin membersihkan citra suaminya, Mustofa Kamal Pasa yang terjerat kasus korupsi di pertengahan masa pemerintahannya itu.

Perlunya membersihkan citra bukan alasan. MKP dikenal sebagai figur kepala daerah dengan program yang sangat matang. Berbagai pembangunan infrastruktur jalan dikebut. Alasannya saat itu, jalan yang bagus akan meningkatkan mobilitas tinggi di masyarakat.

Sementara itu, wakilnya, Muhammad Al Barra. Ia bukan sosok antagonis. Ia kalem dan justru berkeinginan membangun Mojokerto dengan sangat indah. Ia ingin prestasi pemerintahan dikenal seantero negeri ini. ’’Saya ingin Mojokerto menjadi daerah pencontohan bagi daerah lain,’’ katanya saat kampanye.

Dalam waktu dekat, janji itu bisa dilihat. apakah, Ikfina dan Gus Barra mampu menjalankan programnya, atau hanya sekedar menjadi sebait puisi yang membuai. (*)

Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya