alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader

2021, Masih Merawat Optimisme

01 Januari 2021, 15: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto Farisma Romawan.

Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto Farisma Romawan.

Sekali pun seorang ekonom dunia seperti Sri Mulyani dipertahankan Presiden Jokowi dalam jajaran kabinetnya, toh bencana nonalam Covid-19 tak bisa dicegah. Di sepanjang tahun 2020, sendi kehidupan masyarakat seolah porak poranda diterpa badai virus yang tiba-tiba menghantam.

Indonesia yang terkenal gemah ripah loh jinawi pun juga tak kuasa menahan kuatnya gempuran virus hingga mengakibatkan pergolakan politik, sosial hingga ekonomi masyarakat. Rasa pesimistis sempat berulang-ulang mencuat kala pembatasan aktivitas diterapkan pemerintah.

Ya, pandemi virus korona telah melahirkan ketakutan dahsyat secara global. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut korona jauh lebih berbahaya ketimbang terorisme. Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus pun sempat menyebut Korona sebagai musuh publik nomor wahid saat ini.

Apa yang dikatakan Tedros tidaklah berlebihan. Toh realitanya masyarakat memang dan masih dalam situasi sulit. Buktinya, Pemkab Mojokerto melalui Badan Perencanaan pembangunan daerah (Bappeda) Agustus lalu sempat merilis pertumbuhan ekonomi 1,2 juta warganya merosot tajam di angka minus 6 persen.

Padahal, di tahun 2019, masyarakat sempat optimis saat ekonomi melesat hingga menembus 5,23 persen. Produktivitas di lima sektor penyokong utama bahkan masih lesu sejak korona menyapa Maret lalu. Industri manufacturing, jasa kontruksi, pariwisata, perdagangan dan pertanian tak bisa berkutik akibat pembatasan wilayah.

Pemerintah bukannya tinggal diam dalam mengatasi persoalan. APBD tahun 2020 senilai Rp 2,6 triliun yang sudah diplot dan didok bersama dewan, dirombak total lewat refocusing. Hasilnya, lebih dari Rp 200 Miliar dialokasikan khusus untuk penanganan Covid-19.

Nilai yang begitu fantastis hingga harus mengorbankan sejumlah proyek prestisius. Seperti melanjutkan pembangunan jalan cor hingga seribu kilometer, pembangunan gedung islamic Center, hingga pembangunan dua SMP baru terpaksa di-pending.

Namun kebijakan dalam mengatasi pandemi dengan nilai anggaran ratusan miliar nyatanya dianggap terlalu nanggung. Buktinya, beberapa program yang dicetuskan untuk mengurangi resiko infeksi justru tak terlihat dampak positifnya. Lihat saja program pemberdayaan dua juta masker yang tak begitu efektif.

Alih-alih jumlah pasien berkurang, justru uang pembuatan dibuat ’’Bancaan’’ para pemegang kebijakan. Lalu kemana dua juta masker itu? apakah dibagi habis ke 1,2 juta penduduk? entahlah. Kalaupun ada yang kebagian, ya syukurlah. Belum lagi program bantuan sosial tunai (BST) yang dicover dari APBD.

Jangankan tepat sasaran, untuk bisa tepat waktu saja ternyata sulit. Dua bulan pencairan BST sempat molor dengan dalih integrasi data penerima. Lah, katanya data masyarakat miskin sudah berkurang.

Tapi ya sudahlah, kini waktu terus berjalan. Seberat apa pun, situasi pandemi yang menghadapi saat ini, kita perlu tetap merawat rasa optimisme, bukan pesimisme. Khususnya tantangan di tahun 2021 mendatang. Agaknya perlu mengutip ungkapan pejuang difabel asal Amerika Helen Keller.

’’Optimism is the faith that leads to achievement. Nothing can be done without hope and confidence. Yang artinya, Optimisme adalah keyakinan yang mengarah pada pencapaian. Tidak ada yang bisa dilakukan tanpa harapan dan keyakinan.  Kita mesti melihat pandemi korona ini sebagai tantangan yang harus diupayakan solusinya.

Kita perlu mengapresiasi tinggi kepada mereka yang masih memelihara optimismenya. Dengan terus berjuang, berikhtiar, sesuai kemampuan bidang masing-masing. Sebut saja para tenaga kesehatan yang siap sedia berkorban merawat pasien setulus hati.

Kita perlu juga memperkuat kemampuan mempersiapkan diri, bertahan, bangkit serta belajar dari setiap terjadinya gejolak. Pada saat yang sama, sikap dan pandangan optimistik perlu terus kita pelihara bersamaan dengan datangnya pemimpin baru yang sudah ancang-ancang menjadi nakhoda kapal pemerintahan. Atau justru mereka yang harus kita kawal? Mari kita tunggu..... (*)

Oleh: FARISMA ROMAWAN

Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto

(mj/far/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya