alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Batalyon Diponegoro Mansyur Solichy

Ditugaskan Redam Konflik dan Pemberontakan

24 Desember 2020, 12: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

jawapos.radarmojokerto.com

SIMPAN SEJARAH: Kodim 0815 Mojokerto yang pernah dijadikan sebagai markas Resimen Hizbullah dan Batalyon Diponegoro/Mansyur Solichy. (rizal amrulloh/radarmojokerto)

SEMENTARA itu, setelah penyerahan kedaulatan kemerdekaan Desember 1949, Mayor Mansyur Solichy masih tetap ditunjuk menjadi Komandan Komando Daerah Militer (KDM) Mojokerto. Karena bersataus sebagai kesatuan tempur, Mantan Komandan Resimen Hizbullah Keresidenan Surabaya ini ditugaskan untuk meredam sejumlah konflik dan gerakan pemberontakan.

Ayuhanafiq memaparkan, pada awal pengangkatan Mansyur Solichy sebagai penguasa militer di wilayah Mojokerto tidak sepenuhnya berjalan mulus. ’’Karena dalam perintah resmi yang ditunjuk sebagai Komandan KDM Mojokerto adalah Mayor Isa Idris,’’ ulasnya.

Mayor Isa Idris yang yang saat itu berpangkalan di Jabung Jatirejo juga telah menunjuk anak buahnya untuk bertugas di Komando Onder District Militer (KODM) atau yang sekarang dinamakan Koramil. Di sisi lain, Mansyur juga lebih dulu menugaskan para anggota Batalyon Diponegoro untuk disebar di semua wilayah kecamatan menduduki posisi KODM.
melihat kondisi tersebut, Isa Idris kemudian melaporkannya kepada Panglima Divisi I Brawijaya (kini Kodam V/Brawijaya) Kolonel Sungkono. Namuin, mantan Panglima Divisi Narotama ini akhirnya memutuskan untuk menugaskan Batalyon Isa Idris ke Sidoarjo dengan tujuan untuk menjaga kondusivitas. ’’Sepertinya Mansyur dipertahankan karena memiliki pengetahuan wilayah dan punya basis pendukung di Mojokerto,’’ tandasnya.

Meski demikian, keberadaan Mayor Mansyur Solichy tidak bertahan lama. Sebab, batalyon tempur itu kemudian ditugaskan untuk meredam gerakan pemberontakan di luar Jawa. Di antaranya pemberontakan Abdul Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan serta menangani konflik di Pulau Seram menghadapi Republik Maluku Selatan (RMS).

Pada, tahun 1952, Mansyur Solichy akhirnya kembali ke Mojokerto. Namun, statusnya tidak lagi sebagai anggota militer melainkan sebagai orang sipil. Di samping itu, imbuh Yuhan, sebagian anggota Batalyon Diponegoro juga dikembalikan ke masyarakat. Pasalnya, ikatan dinas tidak lagi diperpanjang.  ’’Tapi Mayor Mansyur masih mengemban status sebagai anggota resimen cadangan,’’ bebernya. 

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya