alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Batalyon Diponegoro Mansyur Solichy

Pasukan Penyusup Pertahanan, Bernyali Menghadapi Pertempuran

24 Desember 2020, 12: 15: 59 WIB | editor : Imron Arlado

jawapos.radarmojokerto.com

Mayor Mansyur Solichy bermarkas di Kodim 0815 Mojokerto saat ini. Hingga akhirnya, dilakukan penyederhanaan yang membuat jumlah kekuatan Hizbullah dijadikan dua batalyon. (rizal amrulloh/radarmojokerto)

DI masa revolusi, di Mojokerto dibentuk stoot troep atau kesatuan tempur guna mempertahankan wilayah kemerdekaan. Salah satu yang melegenda adalah Batalyon Diponegoro. Pasukan di bawah pimpinan Mansyur Solichy ini memiliki keterampilan menyusup ke garis pertahanan tentara kolonial.

Selain itu, keberanian dari pasukan bernomor register TNI 42-203 ini juga tidak diragukan lagi. Itu terbukti ketika operasi wingate atau penyusupan di wilayah kedudukan musuh di Pacet, Kabupaten Mojokerto. Sehingga terjadi peristiwa pertempuran dahsyat yang meletus di malam pergantian tahun baru 1949.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, peristiwa bersejarah itu berawal dari operasi wingate dilancarkan pada akhir Desember 1948. Perang gerilya dilakukan Batalyon Mansyur Solichy bersama sejumlah pasukan batalyon lain yang tergabung dalam Komando Hayam Wuruk.

Masing-masing adalah Batalyon Bambang Yuwono dan Batalyon Tjipto. Sehingga, pasukan gabungan tersebut juga dikenal dengan sebutan pasukan MBT. Yang merupakan akronim dari Komandan Batalyon Mansyur, Bambang, dan Tjipto. ’’Dalam pertempuran itu, Komando Hayam Wuruk berhasil mengalahkan pasukan Belanda,’’ ulasnya.

Sehingga, wilayah selatan Mojokerto yang sempat diduduki serdadu kolonial bisa kembali dikuasai pejuang. Di antaranya di kawasan Pacet, Mojosari, Ngoro, hingga Trawas. Lokasi tersebut kemudian dijadikan sebagai basis teritorial untuk menyusun serangan ke Surabaya yang saat itu telah jatuh ke tangan lawan.

Batalyon Mansyur Solichy memiliki peran yang sentral dalam operasi menyusup ke garis pertahanan musuh. Pasalnya, tokoh pejuang kelahiran Gedeg, Kabupaten Mojokerto tersebut sebelumnya juga memiliki pengalaman dalam pertempuran meraih kemerdekaan.

Sebab, kata Yuhan, sebelum bergabung dalam TNI, Batalyon Mansyur Solichy merupakan kesatuan kelaskaran Hizbullah Keresidenan Surabaya. Tentara berpangkat mayor tersebut juga dipercaya untuk menduduki kursi Komandan Resimen Hizbullah pada tahun 1945-1947. ’’Batalyon Mansyur Solichy ini juga merupakan cikal bakal Kodim (0815) Mojokerto,’’ tandasnya.

Selama menjadi komandan resimen, Mayor Mansyur Solichy bermarkas di Kodim 0815 Mojokerto saat ini. Hingga akhirnya, dilakukan penyederhanaan yang membuat jumlah kekuatan Hizbullah dijadikan dua batalyon. Pertama adalah batalyon teritorial yang dikomandoi Mayor Moenasir. Dan kedua adalah batalyon tempur yang dipimpin oleh Mayor Mansyur Solichy.

Dari track record tersebut, maka tak heran jika batalyon tempur yang memiliki lambang kepala macan ini memiliki nyali dan jiwa berani mati. Terutama saat terjadinya pertempuran Pacet pada 72 tahun silam. Meski mengakibatkan ribuan nyawa berguguran, mereka tetap pantang sebelum meraih kemenangan. ’’Peristiwa pertempuran yang patut dijadikan pengingat, karena banyak pejuang yang gugur demi mempertahankan kemerdekaan,’’ ulas penulis buku Garis Depan Pertempuran Hizbullah 1945-1950 ini. 

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya