alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

90 Hektare Padi Terendam Banjir

19 Desember 2020, 10: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

jawapos.radarmojokerto.com

TANAM ULANG: Samutri, Petani padi di Desa Suru, Kecamatan Dawarblandong, menanam ulang padi yang diterjang banjir beberapa waktu lalu. (Sofan Kurniawan/Radarmojokerto.jawapos.com)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Banjir telah merendam 90 hektare lahan sawah tanaman padi di Kabupaten Mojokerto. Namun demikian, banjir yang terjadi pada musim tanam ketiga ini diprediksi tidak akan mempengaruhi jumlah produksi gabah kering panen (GKP). Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto menargetkan 350.643 ton GKP pada tahun depan.

Selain mengakibakan banjir di permukiman, hujan yang turun sejak November lalu juga merendam puluhan hektare lahan padi. Kasi Produksi Tanaman Pangan dan Holtikultura Disperta  Kabupaten Mojokerto Ahmad Faisol menyebutkan, dari total lahan baku sawah seluas 36.315 hektare, sedikitnya 90 hektare lahan tanaman padi yang tersebar di empat kecamatan terendam banjir. Meliputi Kecamatan Ngoro, Kecamatan Dawarblandong, Kecamatan Mojoanyar,  serta Kecamatan Sooko.

Menurut Faisol, sekitar 44 hektare lahan yang terdampak banjir terdapat di Kecamatan Mojoanyar. ’’Hampir separo dari keseluruhan (lahan sawah tanaman padi) yang kebanjiran,’’ ungkapnya, Jumat (18/12). Banjir yang terjadi kali ini bertepatan dengan musim tanam padi ketiga yakni  yang dimulai Oktober.

Sejumlah tanaman padi yang terdampak banjir rata-rata berusia lebih dari 70 HST (hari setelah tanam). Menurutnya, meskipun terdampak kemungkinan penurunan hasil produksi tidak terlalu besar. ’’Insya Allah kalau tanaman sudah tua di atas 70 HST itu masih bisa panen. Meskipun mungkin sedikit terjadi penurunan (hasil panen),’’ terangnya.

Namun demikian, lahan yang masih dalam tahap persemaian otomatis harus melakukan persemaian ulang. Hal itu juga terjadi pada tanaman padi yang baru ditanam seminggu hingga dua minggu terakhir. Para petani harus menanam ulang padi yang rusak karena diterjang banjir serta terendam selama berhari-hari.

Faisol mengatakan, penanaman ulang ini akan memengaruhi masa panen. Pihaknya juga memprediksi panen raya pada bulan Januari mendatang akan mundur. ’’Biasanya kalau petani (yang tanaman padinya terdampak banjir) itu kan ditanam ulang. Kalau masih kecil, itu mereka tanam  ulang,’’ ungkapnya.

Mundurnya musim tanam ini, menurutnya, tidak akan memengaruhi hasil produksi padi pada tahun depan. Pihaknya menarget, pada tahun 2021 produksi GDP sebanyak 350.643 ton dari  luas lahan sawah baku di Kabupaten Mojokerto yang mencapai 36.315 hektare. Sedangkan, sasaran luas sawah yang akan ditanami padi pada periode Oktober 2020 hingga September 2021 mencapai 56.021 hektare.

Target itu dirasanya realistis lantaran menurutnya, banjir tidak akan terlalu berpengaruh pada jumlah hasil panen padi.  Meskipun terdapat 90 hektare lahan sawah yang terdampak, tetapi para petani sudah mulai menanam ulang padinya. ’’Kalau produksinya insya Allah kalau sampai saat ini belum terpengaruh oleh banjir,’’ pungkasnya. (adi)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya