alexametrics
Selasa, 26 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Khusnul Khuluq di Mata Warga

Dikenal Ulet Berjualan, Religius dan Aktif Jadi Muazin

03 Desember 2020, 12: 25: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Seorang anggota TNI mencoba menenangkan pelaku melalui jendela kamar. (sofankurniawan/radarmojokerto.id)

Belakangan diketahui Khusnul Khuluq, 38, pelaku penganiayaan dua tetangganya, warga RT 1, RW 2 Dusun Belahan, Desa Brayung, Kecamatan Puri telah lama mengidap gangguan jiwa. Bahkan, disebut-sebut sejak tamat SMA. Namun, dia juga dikenal warga sebagai pribadi yang religius dan suka berdagang.

MARTDA VADETYA, Puri, Jawa Pos Radar Mojokerto

KOORDINATOR Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto Johanna menceritakan Khuluq merupakan adik kelasnya semasa duduk di bangku SMP. ”Kira-kira mulai ada gangguan jiwa ini sejak lulus SMA. Mungkin waktu itu masih gejala saja ya, belum seperti ini,” ujarnya. Khuluq juga sudah mendapatkan perawatan dari berbagai jenis pengobatan. Mulai dari pengobatan alternatif hingga medis. Sebelumnya dia sempat mendapatkan perawatan intensif di RSJ Menur dan RSJ dr Radjiman Wediodiningrat Lawang sejak 2018. Berikutnya rutin sebulan sekali kontrol ke RSJ Lawang didampingi keluarga.

Khuluq merupakan anak kelima dari enam bersaudara. ”Sebulan sekali dia dibawa ke RSJ Lawang, dapat obat sekitar 4 macam lah. Itu obat rutin yang harus dia minum setiap hari,” tambahnya. Ketika Khuluq mengonsumsi obat dan mendapat pendampingan dengan baik. Dia mampu bersikap normal. Namun, akhir-akhir ini dia bersikap destruktif. Diduga lantaran obat hariannya banyak tak diminum. ”Mungkin karena dia akhir-akhir ini tinggal di rumah sendirian ya. Terus, obatnya itu juga masih banyak, jadi banyak yang nggak diminum,” bebernya.

Terkadang Khuluq dikunjungi keluarganya untuk memastikan kebutuhan sehari-hari dan kondisinya.Kendati demikian, belum ada yang tahu pasti diagnosa gangguan jiwa yang dialami Khuluq. Kepemilikan kartu kuning sebagai pasien gangguan jiwa pun masih belum diketahui pasti. ”Dari informasi yang kita dapat selama ini, ada indikasi gangguan jiwa akibat depresi. Untuk kartu kuning kami masih tahu pasti, kalau pengobatan rutin, itu iya,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, Khuluq sempat membangun rumah tangga sekitar 2016. Namun, istrinya kabur lantaran tak kuasa dengan sikap dan perlakuan suaminya saat penyakitnya kambuh. Dari hasil pernikahan itu, Khuluq belum dikaruniai anak. ”Mungkin istrinya nggak kuat sama Khuluq. Saya dapat laporan dari tetangganya, sempat malam-malam pukul 24.00 itu Khuluq bawa linggis, istrinya mau dihajar. Untung istrinya lari, kalau nggak ya sudah gak tahu lagi,” tambah Johanna.

Di sisi lain,di mata warga, Khuluq juga dikenal sebagai pribadi yang ulet. Sehari-harinya dia berprofesi sebagai pedagang. Namun, yang dia kerap bergonta-ganti dagangan. Mulai dari jualan tahu pong, pentol, hingga cireng. ”Sehari-harinya dia jualan keliling, jualan tahu pong, pentol, cireng dia kreatif orangnya,” ujar Naim, 40, warga setempat yang juga masih kerabatnya itu.

Bahkan, Khuluq dikenal sebagai pribadi yang religius. Dia tak pernah telat saat hadir di masjid. Dia kerap menjadi muazin di masjid setempat. ”Seperti saat masuk waktu Duhur, dia berangkat ke masjid untuk mengumandangkan azan dan pujian. Setiap hari begitu,” tambahnya. (ris)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya