alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Tren Budidaya Cray Fish Rumahan (2-Habis)

Dinilai Berisiko Tinggi, Warga Enggan Budidaya Lobster

30 November 2020, 22: 41: 22 WIB | editor : Mochamad Chariris

Proses budidaya lobster di kolam terpal milik R.R Ayu Nandita, di Jalan Anjasmoro, Lingkungan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

Proses budidaya lobster di kolam terpal milik R.R Ayu Nandita, di Jalan Anjasmoro, Lingkungan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Pemkot Mojokerto hingga kini belum melirik budidaya lobster. Selain biayanya dinilai tinggi dan dibutuhkan perawatan khusus, dari ratusan pembudidaya ikan yang dibina peminat lobster masih rendah.

KEPALA Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Mojokerto Happy Dwi Prastiawan mengatakan, sejauh ini pemkot belum berani melakukan pembudidayaan udang maupun lobster.

Sebab, lanjut dia, jika dilihat dari sejumlah masyarakat yang dibina, sebagian besar belum memiliki keahlian. Sebaliknya, mereka lebih memilih budidaya ikan nila, lele, dan patin. ”Untuk pembudidaya lobster air tawar kami belum berani, statusnya juga sebatas tahap belajar,” ungkapnya.

Meski status belajar, kata dia, nyatanya mereka juga belum ada yang berhasil. Sehingga dia mengibaratkan jangankan lobster air tawar, untuk mencoba budidaya udang saja tingkat keberhasilannya rendah.

Dengan demikian, kondisi itu membuat pembudidaya ikan banyak yang beralih ke ikan nila merah dan lele. Mantan kasatpol PP Kota Mojokerto ini menegaskan, berbagai faktor turut menjadi pemicu.

Di antaranya, biaya perawatan lobster tinggi, berisiko, dan perlakuannya lebih istimewa. ”Sehingga teman-teman masih enggan membudidaya,” tambahnya.

Walau demikian, imbuh dia, pemerintah akan selalu membuka peluang dengan menjalin kemitraan bagi masyarakat kota yang memang terbilang sukses membudidaya lobster air tawar capit merah atau red claw.

Seperti yang dilakoni R.R Ayu Nandita, warga Jalan Anjasmoro, Lingkungan/Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Hanya, Happy mengaku baru mengetahui keberadaan pembudidaya lobster air tawar yang belakangan omzetnya diklaim mencapai Rp 250 juta per bulan ini.

Dia berdalih, Ayu sendiri hingga kini bukan dan belum terdaftar menjadi satu dari ratusan masyarakat Kota Onde-Onde binaan pemkot. Untuk itu dengan informasi ini, pihaknya akan mencoba dan belajar untuk mengejar ketertinggalan sektor budidaya hewan air yang memiliki nama latin cherax quadricarinatus tersebut.

Sebab, dia menyadari, jika tidak belajar akan ketinggalan dengan daerah lain yang sudah lebih dulu mengawali budidaya lobster. Utamanya di wilayah pesisir pantai. Seperti Banyuwangi, Situbondo, dan Tuban.

Nah di Kota Mojokerto, sementara dalam tahap belajar dan menganalisa cara pembudidaya udang dan lobster. ”Makanya, jika memang betul ada masyrakat yang punya ilmu kaitannya dengan budidaya udang dan lobster air tawar yang selama ini agak sulit dan budidayanya mahal,” jelasnya.

Sejauh ini setidaknya ada sekitar 300 pembudidaya aktif yang tergabung dalam 15 kelompok binaan. Dari ratusan itu, untuk sementara ini, penggalian dan minat masyaraat cenderung budidaya ikan lele dan nila merah. Dengan alasan budidaya dua jenis ikan tersebut lebih mudah.

”Kalau memang lobster dan udang itu menjanjikan, tentu bisa jadi potensi baru,” tegasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya