alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Tren Budidaya Cray Fish Rumahan (1)

Nilai Tawar Lobster ”Tawar”

30 November 2020, 22: 03: 17 WIB | editor : Mochamad Chariris

Lobster rumahan milik pembudidaya asal Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto siap panen.

Lobster rumahan milik pembudidaya asal Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto siap panen. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Di Kota Mojokerto berkembang pembudidaya lobster air tawar jempolan. Tak disangka, budidaya hewan air yang bisa menguntungkan hingga ratusan juta rupiah itu dilakoni seorang perempuan muda.

ADALAH RR. Ayu Nandita, 24, warga Jalan Semeru Nomor 19, Kelurahan/Kecamatan Wates,Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Ia membudidaya lobster air tawar sejak tahun 2015 silam. Perempuan berkacamata minus itu kini setiap bulannya bisa mengantongi uang hingga ratusan juta.

Hal itu berawal dari budidaya cray fish ini. Kondisi itu tak lepas dari kegigihannya bergelut dengan budidaya hewan bercapit tersebut. Awalnya memang tak mudah. Bahkan, Ayu sapaan akrabnya, harus merugi Rp 5 juta karena seluruh lobster yang dibiakkannya mati gara-gara salah budidaya. ’’Áwalnya ”berdarah-darah”. Karena harus rugi Rp 5 juta, setelah semua lobster yang saya budidaya mati,’’ ujarnya ditemui di tempat budidayanya Lingkungan Karanglo, Kelurahan Wates.

RR. Ayu Nandita, pembudidaya lobster asal Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

RR. Ayu Nandita, pembudidaya lobster asal Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Dia menyadari, kemampuan membudidayakan hewan nocturnal ini awalnya berbekal pengetahuan dari internet. Sehingga dia merasa belum mahir berpraktik budidaya secara langsung. ’’Outodidak, belajar dari internet. Trial and error. Jadi ya wajar sempat gagal,’’ kata dia. Pengalaman itu membuatnya membuka pikiran untuk belajar ke sesama pembudidaya lainnya yang sudah sukses terlebih dahulu.

Dengan begitu, dia bisa mencontoh apa yang sudah sukses dilakukan pembudidaya lain. ’’Ya, akhirnya belajar juga dari pembudidaya lain,’’ tukas perempuan bertubuh subur itu. Setahun belajar teknis budidaya, Ayu terbilang sudah menguasai dan berhasil panen. Hasil panenan awalnya dikonsumsi keluarga dan tetangga sekitar. Lantas, timbul pemikiran untuk mengembangkan budidaya lebih besar dan luas lagi.

’’Terlebih peminat lobster air tawar juga tambah banyak. Baik itu restoran, hotel, warung, hingga frenchise,’’ lanjutnya. Dari situ, dia mulai memperbanyak budidaya. Bahkan, dia menggandeng kemitraan dengan orang lain yang ingin budidaya serupa. Dengan jaminan, bibit, peralatan, hingga penjualan pasca panen bisa kembali ke Ayu.

’’Yang ingin bibit atau pembesaran bisa beli ke saya. Kalau menjual pun bisa juga,’’ tandasnya. Dengan pola manajerial usaha demikian, kata Ayu, dirinya sudah menjalin kerja sama dengan 1.400 pembudidaya dari seluruh pelosok Indonesia.

Dari hasil kerja sama itu, setiap minggunya terdapat 10 ribu bibit dan 10 ribu lobster air tawar masuk ke tempatnya. ’’Kalau bibit bisa dilempar ke pembudidaya yang lain. Kalau hasil panenan saya kirim ke restoran, hotel, dan lainnya,’’ rincinya. Secara teknis, Ayu membeberkan budidaya lobster air tawar relatif dapat dikuasai dengan mudah. Asalkan, menggunakan metode yang dianjurkan.

’’Budidayanya mudah. Bisa di perkotaan hingga pedesaan. Tidak butuh lahan luas. Karena kolam terpal atau akuarium saja bisa,’’ beber lulusan SMA Taman Siswa (Tamsis) Kota Mojokerto ini. Menurut Ayu, komiditi lobster air tawar tergolong tahan penyakit. Asalkan, aerator dalam kolam tetap menyala selama 24 jam. Untuk menyiasati lampu mati, disiapkan instalator AC/DC yang menyambung otomatis begitu listrik mati.

Dan, dapat langsung mati ketika listrik menyala. Dari sisi usaha, lobster air tawar tergolong memiliki harga jual yang stabil. Karena sifat produksinya yang berasal dari budidaya menyebabkan pasokan menjadi stabil. Selain itu, budidaya cray fish ini tidak tergantung musim pula.

’’Per kilogram bisa Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu,’’ terangnya. Alhasil, usaha yang dikembangkannya bisa berjalan selama lima tahun. Kini, dia tidak lagi membudidayakan lobster air tawar secara langsung skala misal. Lantaran, sudah terjalin kemitraan dengan pembudidaya lainya.

’’Meski begitu, orang yang ingin budidaya bisa datang. Kami ajari, kami siapkan bibit dan perlatannya. Hasil panennya kami akan beli,’’ tandasnya. Dari penguasaan kemitraan dari pembibitan, pembesaran, hingga pemasaran hasil budidaya lobster air tawar, Ayu mengaku bisa mengantongi untung hingga ratusan juta. Itu karena dia juga memasarkan produk lobster air tawar berupa frenchise olahannya.

’’Cabang kami ada di Malang, Jogjakarta, Kediri, Pasuruan, Mojosari, dan lainnya. Kami juga ada restoran yang menampung lobster hasil panenan,’’ terangnya. Kendati demikian, dirinya mengakui, setiap usaha tetap ada kompetitornya. Itu tak lain juga berasal dari teman-teman sesama pembudidaya lobster air tawar lainnya. ’’Itu wajar dan pasti. Tapi, kalau tidak ada kompetisinya rasanya gimana gitu,’’ pungkasnya sambil terkekeh. (fen/ris)

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya