alexametrics
Kamis, 21 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Pemasangan Bilik Bangku Siswa Dikebut

27 November 2020, 12: 15: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

GOTONG ROYONG: Beberapa petugas dan guru tengah merampungkan pemasangan bilik untuk bangku murid, Kamis (26/11). (sofankurniawan/radarmojokerto.id)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto - SD Negeri 1 Miji Kota Mojokerto akhirnya memasang bilik-bilik pada setiap bangku. Hal ini dilakukan menyusul rencana uji coba pembiasaan pembelajaran tatap muka yang akan dilaksanakan 30 November sampai 22 Desember mendatang.

Untuk mencegah terbentuknya klaster baru, maka pihak sekolah sepakat memasang sekat pada setiap bangku siswa. ”Total ada 6 kelas, semuanya kami pasangi plastik seperti ini di tiap bangku. Sudah mulai sejak kemarin (Rabu, 25/11) masangnya,” ujar Kepala Sekolah SD Negeri 1 Miji Kota Mojokerto Mei Uminarsih.

Mei menerangkan pemasangan bilik-bilik ini akan dikebut. Lantaran, waktu uji coba pembelajaran yang terbilang hanya tinggal beberapa hari lagi. Sehingga pihaknya juga akan mendatangkan beberapa orang dari paguyuban untuk membantu memasangkan bilik-bilik tersebut. ”Kalau nggak dirampungkan sesegera mungkin, susah. Anak-anak lho minggu depan sudah masuk. Bahaya kalau nggak dikasih beginian (bilik),” imbuhnya.

Pemasangan bilik-bilik tersebut inisiatif dari hasil musyawarah guru. Mengingat, anak-anak usia SD yang masih dalam masa aktif. Sehingga perlu dilakukan pencegahan ganda, yakni dengan pemberian bilik-bilik pada setiap bangku. Selain sarana cuci tangan, jumlah siswa yang ada di kelas pun juga dibatasi dan dibagi menjadi 50 persen dari total murid satu kelas. ”Kelas I sampai III itu totalnya kira-kira 28 anak. Jadi, ya satu kelas nanti isinya cuma 14 anak,” tambahnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mojokerto Amin Wachid menambahkan, sejauh ini rata-rata SD dan SMP negeri maupun swasta sudah memiliki sarana kelengkapan yang baik untuk melakukan pembelajaran tatap muka (PTM). Tak hanya dari cuci tangan, dan hand sanitizer yang tersedia di setiap ruang kelas. Jarak bangku-bangku murid juga sangat diperhatikan. Termasuk nanti untuk jam pembelajarannya yakni tanpa istirahat dan siswa dipebolehkan membawa bekal dari rumah. ”Jumlah murid kami batasi untuk isi kelasnya, tapi kuota untuk SD dan SMP berbeda. Kalau yang SD itu 50 persen dari jumlah murid satu kelas. Sedangkan yang SMP itu 33 persen,” tandasnya. (oce)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya