alexametrics
Rabu, 16 Jun 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Anggaran Kosong, Koleksi Bacaan Masih Jadul

24 November 2020, 11: 10: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

TAK UPDATE: Belum ada penambahan buku di Perpustakaan Kota Mojokerto menyusul nihilnya anggaran pengadaan buku baru. (sofankurniawan/radarmojokerto.id)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Terhitung hingga saat ini, Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Mojokerto memiliki 42 ribu koleksi buku. Dengan berbagai macam judul yang lengkap sesuai kebutuhan masyarakat. Biasanya, koleksi buku tersebut didapat dari pengadaan buku setiap tahun melalui APBD.

Namun, selama pandemi ini anggaran untuk pembelian buku baru ditiadakan. ’’Koleksi barunya saat ini belum ada. Sebab, dana sudah teralihkan untuk Covid-19 kan. Jadi ya sampai sekarang ndak ada belanja buku,’’ ujar Kepala Bidang Layanan Perpustakaan Kota Mojokerto Wahyu Sri Sedono, Senin (23/11).

Sejauh ini, pihaknya memperbarui koleksi bacaan di perpustakaan hanya mengandalkan pembelian buku setiap tahun. Belum ada masyarakat umum yang mendonasikan buku ke perpustakaan (perpus) kota. Sehingga koleksi masih terbatas dan tidak mengalami perubahan dari tahun lalu. ’’Belum pernah ada warga nyumbang buku ke perpus, kalau masalah persediaan buku pasti kami beli sendiri,’’ paparnya.

Baca juga: Tanak Uruk untuk Biaya Operasional

Meskipun tak adanya anggaran pembelaanjaan buku tahun ini, Wahyu menjelaskan, koleksi buku di perpus tetap terjaga. Terjaga dari segi kondisi dan jumlah. Sebab, anggota perpus sendiri termasuk rajin mengembalikan buku. ’’Kalau kasus buku hilang atau mungkin ndak balik akhir-akhir ini belum pernah terjadi sih. Ada dulu satu-dua, tapi kami sudah bisa nyiasati,’’ terangnya.

Dia melanjutkan, untuk mengantisipasi buku yang tak kembali tersebut, pihaknya memberi aturan khusus warga luar kota yang ingin meminjam buku harus membuat kartu anggota dan membayar Rp 100 ribu sebagai jaminan agar buku kembali.

Dia menuturkan, untuk pembelian buku sendiri didasarkan pada kuisioner yang diisi pengunjung. Sehingga petugas perpus bisa memetakan jenis buku yang akan masuk dalam daftar anggaran belanja. Adanya pandemi, tidak menutup kemungkinan petugas perpus untuk selalu mengadakan kuisioner bagi pengunjung. ’’Tetap kami mintakan saran buku apa yang mereka ingin, jenis buku yang mendominasi tersebut akan kami cover tahun depan. Ya, semoga aja korona bisa hilang,’’ harapnya. (oce)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya