alexametrics
Kamis, 21 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Lifestyle
icon featured
Lifestyle
CB 100 Tahun 1973

Gelatik yang Kian Antik

23 November 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Semakin tua, motor ini kian memiliki daya tarik. Apalagi, Arif Indrianto, pemilik motor ini mempertahankan keaslian komponen kendaraannya. (imronarlado/radarmojokerto.id)

Honda CB 100 kian naik daun. Motor ini makin diburu para pencinta otomotif pasca rilisnya film Dilan, tahun 2018 lalu. Motor klasik ini semakin memiliki daya tarik bagi pecinta otomotif.

Seperti CB 100 yang diproduksi tahun 1973 milik Arif Indrianto, 33 ini. Berulang-ulang, motor ini ditawar sejumlah orang dengan harga di atas Rp 80 juta. Mahalnya tunggangan ini bukan sekadar disebabkan legendanya. Namun, keaslian part kendaraan menjadi salah satu faktornya. ’’Sulit dapatkan ini. Karena, semua masih orisinal,’’ katanya.

Pria yang tinggal di Dusun Panjer RT1 RW 4, Desa Tunggal Pager, Kecamatan Pungging, ini menuturkan, seluruh part kendaraannya masih orisinal dan tak pernah mengalami restorasi sedikit pun. ’’Hanya ban dan jerujinya saja yang tidak orisinal,’’ imbuh dia.

Pantas saja. Motor berkapasitas 100 cc dengan topspeed 110 km/jam ini sudah lelah menjadi pemenang di berbagai ajang kontes CB orisinal. Arif pun sembari menunjukkan sederet piala yang terpajang di tembok salah satu kafe miliknya di kawasan Mojosari.

Motor ini memang tak sekadar klasik dan orisinal, tetapi sejumlah komponen juga sangat menarik perhatian. Lihat saja, karburator kendaraan ini yang hanya menggunakan pengait kawat. Bukan menggunakan baut seperti kendaraan keluaran terbaru.

Tak hanya itu. Baut blimbing yang membalut di bagian pengapian menggunakan platina itu, juga masih nampak utuh. Nyaris tak terlihat bekas lecet sedikit pun di baut yang menempel. ’’Semua ini bautnya asli. Memang tidak pernah dibuka,’’ beber dia.

Karet yang menempel di sejumlah part, juga demikian. Arif menunjukkan karet pengganjal tutup aki. Meski karet itu sudah nampak kusut dan tak lagi berfungsi dengan baik, tetapi ia tak berusaha menggantinya dengan barang aftermarket yang banyak dijajakan di pasar online. ’’Saya berusaha terus mempertahankannya. Jangan sampai ada barang comotan dari kendaraan lain,’’ tegasnya.

Memiliki kendaraan CB klasik, bukan berarti hanya dipajang dan disimpan di kamar saja. Arif mengaku, motornya kerap menerabas hujan dan panasnya jalanan beraspal. Berbagai kota telah disinggahi oleh kendaraan ini.

Selain irit, kendaraan ini juga dianggap memiliki daya tarik selama perjalanan di jalanan. ’’Hanya butuh perawatan sedikit saja, motor ini sudah sangat asyik. Jalannya juga kencang sekali,’’ jelasnya.

Untuk merawat kendaraan ini, Arif mengaku hanya rutin mengganti oli saja. Sementara, untuk menjaga bodi agar tak berkarat, ia hanya rutin mengelapnya saja. ’’Tetapi, kalau habis kena hujan, harus dicuci,’’ tambah Arif.

Proses mencuci motor klasik juga tak boleh sembarang. Arif yang memiliki sederet motor klasik ini mengaku, mencuci motor lama berbeda dengan motor baru keluaran pabrikan. Jika motor lama, ia harus melepas jok dan tanki motor sebelum dilakukan pencucian.

Dengan begitu, dua kelengkapan motor ini bisa terjaga dari siraman air. ’’Kalau kena air terus-terusan, bisa merusak cat. Makanya, cukup dilap pakai kain saja,’’ pungkas dia.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya