alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radarmojokerto
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Lapas Mojokerto Tak Miliki Dokter

21 November 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Sejumlah napi di Lapas kelas IIB Mojokerto dinyatakan bebas setelah menjalani hukuman. (dok/radarmojokerto)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Rentan tertular penyakit, napi lanjut usia (lansia) di Lapas Kelas II-B Mojokerto masih belum mendapat perlakuan khusus dari segi kesehatan. Ditambah lagi minimnya tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di poliklinik lapas. Sehingga pelayanan kesehatan untuk lansia masih belum maksimal.

”Kami hanya punya dua nakes (masing-masing adalah bidan). Sedangkan penghuni lapas banyak. Jadi nggak bisa kalau memperhatikan napi lansia saja,” ungkap Wahyu Susetyo, Kepala Lapas Kelas II-B Mojokerto, Jumat (19/11). Di lapas sendiri tercatat ada sepuluh napi lansia. Mereka berusia 61 hingga 79 tahun. Yang mana usia tersebut memang memiliki potensi besar untuk penularan penyakit.

Apalagi, di masa pandemi ini, virus korona sendiri notabene menyerang orang usia lanjut. Pelayanan kesehatan tetap diberikan secara menyeluruh, jadi tak hanya lansia saja. ”Kita masih belum bisa menyiasati hal tersebut, pembatasan hanya kami lakukan jika si napi tersebut memang punya penyakit parah,” ujarnya. Belakangan diketahui penghuni lapas hingga saat ini tercatat sebanyak 720. Masing-masing terdiri dari napi dan tahanan.

Dia menambahkan, untuk sementara ini, hanya ada satu napi lansia yang tercatat memiliki riwayat penyakit parah. Napi tersebut memiliki penyakit hepatitis dan asma. Sehingga tak menutup mata, penyebaran Covid-19 pun menjadi risiko yang sangat mungkin. Pihaknya hanya memisahkan napi yang ditahan karena kasus korupsi tersebut untuk menjalani masa tahanannya di blok perawatan.

”Sebab, dia penyakitnya bisa kambuh dan butuh minum obat. Jadi kami satukan dengan napi lain yang punya riwayat penyakit juga,” tuturnya. Sementara itu, pelayanan kesehatan dari nakes sendiri hanya berupa pemeriksaan biasa. Pemeriksaan kesehatan tersebut hanya berupa pengecekan tensi dan suhu badan. Selain itu, petugas lapas akan memberikan vitamin kompleks dan jatah makanan yang memiliki kandungan gizi lebih banyak daripada napi lainnya. ”Biasanya untuk napi ibu hamil, anak-anak, dan lansia. Mereka ini yang selalu dapat jatah makanan tambahan,” imbuhnya.

Untuk pelayanan seperti posyandu lansia, di Lapas Kelas II-B Mojokerto sendiri belum tersedia. Hanya ada posyandu untuk ibu hamil saja. Sebab, keterbatasan tempat, poliklinik yang tersedia di lapas juga sangat minim. Ia menyebutkan poliklinik lapas adalah sebuah bonus. Sebelum masa pandemi, memang ada dokter dari puskesmas setempat yang selalu mengecek kondisi napi. Namun, sebab pandemi jadi dokter tidak bisa melakukan kunjungan lagi ke lapas. ”Biasanya tiap Kamis kunjungan, tapi sekarang ya semisal ada yang sakit langsung nakesnya yang koordinasi sama pihak dokter di puskesmas,” tukasnya. (oce)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya