alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radarmojokerto
Home > Lifestyle
icon featured
Lifestyle
Agustin Wulandari, Pelukis Sketsa Mojokerto

Dari Foto KTP sampai Kado Ultah dan Pernikahan

20 November 2020, 13: 25: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

KREATIF: Agustin Wulandari menyerahkan sketsa wajah hasil karyanya kepada pemesan. (khudorialiandu/radarmojokerto.id)

Pandemi Covid-19 tidak menjadi penghalang bagi Agustin Wulandari untuk tetap berkarya. Di sela kesibukan mendampingi anaknya belajar daring, perempuan asal Dusun Losari Barat, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg ini, tetap menorehkan imajinasinya melalui media kertas.

KHUDORI ALIANDU, Gedeg, Jawa Pos Radar Mojokerto

SEJAK pembelajaran dilakukan di rumah akibat pandemi Covid-19, membuat ibu tiga anak ini harus bisa pintar-pintar membagi waktu. Selain menjadi ibu rumah tangga, tiap harinya dirinya juga dituntut untuk mendampingi anak mengikuti pembelajaran daring. Namun, menjadi seorang seniman, tentunya kondisi itu tak menjadi halangan.

Di tengah pandemi saat ini, Agustin masih bisa menorehkan imajinasinya melalui media kertas. ’’Pandemi ini saya malah tambah sregep (rajin),’’ ungkapnya. Di tengah nyambi menemani anaknya sekolah daring di rumah, dirinya harus bisa menyisihkan waktu untuk bisa berkarya. Bahkan, lebih produktif lagi dalam mengasah kemampuan mengambarnya. Di lain sisi, dirinya juga harus berpacu mengerjakan berbagai pesanan yang diterima.

Seperti sebelum pandemi, kebanyakan pesanan yang mengalir padanya tak lain adalah sketsa wajah. Baik diperuntukkan untuk anak pemesan atau pun kado ulang tahun dan pernikahan. ’’Ada juga foto KTP almarhum bapaknya yang memang sudah tidak ada foto lain lagi,’’ terangnya. Meski belakangan lebih sebatas mengisi waktu sebagai ibu rumah tangga. Hingga kini, ratusan karyanya sudah banyak dinikmati khalayak.

Agustin menceritakan, empat tahun berjalan, peminat karyanya juga tak hanya dari Mojokerto. Namun, melebar hingga berbagai wilayah Jatim. Seperti Sidoarjo, Lamongan, dan Gresik. Namun, perempuan kelahiran Kediri 17 Agustus 1989 ini mengaku belum puas dengan karyanya. Hingga kini, dirinya masih terus mengasah kemampuannya. Apalagi, melukis memang menjadi hal yang tak bisa lepas dari kesehariannya. ’’Dengan melukis, saya juga bisa menghilangkan bad mood. Jadi, lumayan, buat hiburan saja, di tengah letihnya sebagai ibu rumah tangga dan pandemi Covid-19 sekarang,’’ ujarnya terkekeh.

Karena menggambar merupakan sebuah hobi yang timbul sejak di bangku TK (Taman Kanak-kanak), membuatnya terus termotivasi. Apalagi, sejak kecil lihat lukisan sudah membuatnya senang. Tak hanya bemodal pensil mekanik, untuk menyempurnakan karyanya, sesekali dia juga menggunakan media arang. Sebab, arang itu bisa membuat karya lebih gelap. Sekaligus menjadikan gradasi dalam karya lebih unik.

’’Gradasi itu yang membuat karya lebih hidup,’’ katanya. Harga jual karyanya relatif berbeda, menyesuaikan ukuran dan kerumitan. Mulai Rp 250 ribu untuk ukuran 20x30 cm. Sedangkan ukuran 50x80 cm dibanderol Rp 1 juta. ’’Harga menyesuaikan ukuran dan kerumitan,’’ tuturnya.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya