alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

8 Bulan, 338 Orang Terjangkit HIV/AIDS

17 November 2020, 09: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto dr Langit Kresna Janitra. (dok/radarmojokerto)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Jumlah kasus Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) selama pandemi Covid-19 di Kabupaten Mojokerto bak gunung es. Bahkan, saat ini mengalami peningkatan sekitar 20 persen. Selama 10 terakhir, jumlah ODHA didominasi usia produktif.

”Terus meningkat jumlahnya. Itu data terbaru sampai Agustus. Untuk November dan Desember pasti tambah lagi,” ujar dr Langit Kresna Janitra, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Senin (16/11).

Dari jumlah 6.602 jiwa yang diuji HIV/AIDS, perhitungan sejak Januari hingga Agustus lalu total ada 338 ODHA. Di antaranya, 40 kasus positif baru dan 298 lainnya sudah menjalani masa pengobatan. Dari 40 kasus positif baru tersebut jumlah terbanyak masih didominasi oleh kalangan umum. ”Jumlah tertinggi masih dari kalangan umum, total ada 23 orang. Termasuk pekerja seks komersial (PSK) kami masukkan ke golongan ini,” ungkapnya.

Untuk kategori lain berasal dari pelanggan PSK, pasangan dengan risiko tinggi, ibu hamil (bumil) dan pria penyuka sesama jenis. Para ODHA tersebut 98 persen terpapar virus akibat hubungan seksual yang tidak aman dan berganti-ganti pasangan. Penyakit mereka baru terdeteksi saat yang bersangkutan mengalami sakit.

Sehingga baru dilanjutkan dengan proses pemeriksaan HIV/AIDS. ”Jadi sasaran pencegahan semua umur. Setiap ibu hamil wajib dilakukan tes HIV/AIDS. Karena bisa dijadikan deteksi dini jangan sampai si anak tertular atau bahkan orang lain,” paparnya.

Langit menambahkan, proses pengobatan ODHA akan berlangsung selamanya. Sehingga setiap tahun pasti jumlah kasus akan mengalami peningkatan. Untuk itu, pihaknya terus melakukan poses pendampingan kepada para ODHA. ”Bisa ditekan kasusnya, kalau masyarakat tetap menerapkan hidup sehat dan menghindari kontak darah dengan ODHA. Apalagi pandemi ini, yang penting kekebalan tubuh harus tetap terjaga,” tukasnya. (oce)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya