alexametrics
Senin, 30 Nov 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Metode Pengobatan Sakit Gigi Nonmedis

Diibaratkan Penyakit Pasien, Paku Dipukuli Berkali-kali

16 November 2020, 20: 46: 03 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pengobatan sakit gigi dengan menggunakan media paku dipercaya dapat menyembuhkan secara cepat.

Pengobatan sakit gigi dengan menggunakan media paku dipercaya dapat menyembuhkan secara cepat. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Sakit gigi menjadi momok bagi penderintanya. Sebab, efeknya yang sangat menyakitkan hingga bisa mengganggu aktivitas keseharian. Obat sakit gigi dengan efek cepat sembuh dan murah tentu paling dinanti banyak orang. Termasuk pengobatan nonmedis dengan cara nyleneh sekalipun.

SALAH satunya pengobatan sakit gigi dengan menggunakan media paku. ”Orang kalau sakit gigi pasti kan pasrah, jadi gampang ngobatinnya. Energinya lemah soalnya,” ujar Nanang Muni, budayawan di Desa Watesumpak, Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Muni, panggilan akrab Nanang Muni sudah melakukan pengobatan sakit gigi menggunakan paku sejak tahun 2003 silam. Dulu, cara pengobatannya yang aneh tersebut digandrungi banyak orang. Hingga rumahnya sempat dipenuhi antrean orang yang ingin berobat.

Muni menceritakan, sejak tahun 2010 pun ia akhirnya mengurangi jumlah pasien. Dengan alasan tak enak dengan tetangganya. ”Sampai sekarang ya masih ada yang ngobatinnya pakai cara paku itu. Cuma saya kan ndak terang-terangan kayak dulu,” ungkapnya sambil terkekeh.

Ia juga tak ingin dianggap sebagai orang aneh oleh masyarakat. Demikian pun juga tak ingin dicap sebagai dukun. ”Sebenarnya pengobatan tersebut hanya butuh energi dari alam saja, juga sugesti jangan lupa,” tutur pria yang juga seorang seniman tersebut.  

Baginya, penyakit merupakan hal yang gaib dan memiliki aura negatif. Maka, cara menghilangkan tersebut harus didukung dengan energi positif. Seperti halnya orang mandi, harus dibilas dengan air bersih agar kotoran tersebut hilang.

Sederhananya, pengobatan sakit gigi melalui media paku hanya dengan menyebutkan nama saja. Bisa nama panggilan atau nama lengkap. Tak harus bertemu langsung, bisa melalui perantara telepon. Kemudian, si pasien akan ditanyai keluhan yang dirasakannya, dan posisi gigi yang dirasa sakit.

Lalu, Muni akan memindahkan penyakit tersebut ke paku yang ia sediakan. Paku tersebut ditancapkan ke sebuah kayu dan kemudian di palu. ”Selama di paku, pasien harus tahan napas dulu. Nanti kalau saya tanya masih sakit, bilangnya iya, ya terus saya paku (dipukul) lagi sampai mereka bilang udah nggak sakit. Lima menit nggak ada biasanya sudah sembuh,” jelas bapak dua anak yang juga berprofesi sebagai perajin patung batu.

Lalu, setelah paku dipasang pasien dipastikan bisa pulang dengan kondisi seperti biasa tanpa rasa sakit lagi. Paku tersebut akan terpasang selamanya di kayu tersebut. Jika paku tersebut lepas dari kayunya, maka dipastikan sakit gigi si pasien akan kambuh lagi.

”Paku-pakunya saya sendirikan, untuk pasien yang dari luar kota ada di bagian mana, yang keluarga sebelah mana. Masih hafal saya bagiannya si A, si B sebelah mana sampai sekarang,” imbuhnya. Menurut Muni, pengobatan dengan cara nyentrik itu sejatinya mudah dipelajari. Tanpa perlu mantra, yang penting hanya energinya harus positif.

Sebab, lanjut ia, orang sakit mudah terserang karena imunitasnya menurun begitu pula kondisi jiwanya. Sehingga butuh dukungan energi positif dari orang lain. ”Pengobatannya lebih pakai energi. Jadi kalau mau ngobatin, saya harus pasang energi positif dulu biar orang itu bisa sembuh. Saya tularkan ke mereka, intinya saling berbagi lah,”ungkapnya.

Untuk masalah tarif sendiri, Muni tak pernah menargetkan biaya pengobatan dari pasien-pasiennya. Prinsipnya, ia hanya menerima jika diberi. Dan tak meminta jika memang tak diberi. Sebab, ia hanya ingin membantu orang yang sekiranya kesakitan.

”Bahkan, ada satu pasien dulu ngasih saya satu batang rokok pun, ya saya terima,” selorohnya. Ia menuturkan, pasiennya banyak juga yang datang dari luar kota. Ada yang dari Surabaya, Jogjakarta, Sidoarjo, bahkan Kalimantan.

Tingkat Kesembuhan Hanya Temporer

Pengobatan alternatif dinilai masih belum efektif menurut pandangan medis. Seperti contohnya, kasus pengobatan sakit gigi dengan media paku. ”Memang hal semacam itu lebih mengedepankan sugesti.

Sebab, secara pemeriksaan, aslinya penyakit itu tak diapa-apakan. Jadi dikatakan sembuh total, ya belum bisa,” terang drg Nurul Mufida, dokter spesialis gigi di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto.

Nurul mengungkapkan, memang sugesti merupakan hal yang turut berperan dalam proses penyembuhan. Sebab, tak hanya penyakit, kondisi psikis seseorang juga bisa memengaruhi suatu penyakit tersebut. ”Otomatis kalau lewat alternatif gitu, berarti mereka percaya kan. Ya, karena dari psikologis, ada semacam hipnoterapis gitu lah,” ujarnya.

Menurut dia, pengobatan semacam itu belum menjamin kesembuhan seorang pasien. Lantaran, hanya sekadar sugesti bukan berarti membuat penyakit tersebut hilang dengan sendirinya. Pengobatan alternatif sendiri belum bisa dijamin menurut sisi medisnya.

”Semisal, giginya kalau bolong, itu pasti kan penyebabnya bakteri. Ya nggak bisa hilang. Wong kan ya itu nggak diapa-apakan,” imbuhnya. Penyembuhan dari pengobatan alternatif, lanjut dia, hanya bersifat sementara dan pasti akan kambuh lagi.

Ada baiknya cara mencegah supaya terhindar dari sakit gigi, yaitu dengan menjaga pola makanan. Tentunya dengan tak lupa menyikat gigi minimal dua kali sehari dan melakukan pemeriksaan gigi secara rutin ke rumah sakit atau klinik terdekat, kurang lebih satu bulan sekali.

”Karena kalau urusannya sama sakit gigi itu susah memang. Makanya, harus teratur jaga kebersihan mulut dan gigi,” tukasnya. (oce/ris)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya