alexametrics
Rabu, 16 Jun 2021
radarmojokerto
Home > Mojopedia
icon featured
Mojopedia
Pernyataan Mosi Rakyat Mojokerto (2-habis)

Kandas setelah Dilayangkan Surat Keberatan

22 Oktober 2020, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Para peserta rapat menyepakati untuk membuat sebuah mosi atas nama rakyat Mojokerto.

Para peserta rapat menyepakati untuk membuat sebuah mosi atas nama rakyat Mojokerto. (Koleksi Yuhan for radarmojokerto.id)

SEMENTARA itu, setelah mendengarkan pandangan dari sejumlah tokoh politik yang menghadiri rapat, usulan pembubaran Pemkot Mojokerto pun semakin menguat. Pasalnya, keberadaan gementee dianggap tidak menguntungkan bagi rakyat.

Oleh karena itu, para peserta rapat menyepakati untuk membuat sebuah mosi atas nama rakyat Mojokerto. Mosi tersebut dilayangkan pada Gubernemen Belanda melalui RP. Soeroso.

Ayuhanafiq membeberkan, setidaknya terdapat dua poin utama dalam mosi rakyat Mojokerto tersebut. Pertama, adalah menyatakan bahwa situasi politik di Kota Mojokerto sedang memburuk karena kurangnya representasi rakyat pribumi.

Baca juga: Mencuat Permintaan Pembubaran Pemerintahan Kota

’’Oleh karenan itu, dalam keputusan rapat itu juga mengusulkan amandemen konstitusi agar menambah jumlah perwakilan pribumi,’’ ungkapnya.

Sedangkan mosi berikutnya menyebutkan jika pelaksanaan desentralisasi pemerintahan di Kota Mojokerto terlalu mahal. Karena itu, keberadaannya dipandang lebih baik untuk dibubarkan. Selanjutnya, pemerintahan digabungkan dalam Pemkab Mojokerto.

Mosi tersebut pun membuat keberadaan Pemkot Mojokerto semakin terdesak. Sebab, sebelaumnya, pembubaran pemerintahan juga telah diputuskan oleh Gemeenteraad atau DPRD Kota.

Keputusan untuk membubarkan Gemeente Mojokerto itu berdasarkan hasil rapat yang dipimpin Asisten Residen Mojokerto, M.J Cornelius. Melalui pertemuan yang digelar Mei 1927, sebanyak 9 anggota sepakat untuk mengakhiri gemeente di Mojokerto.

Meski demikian, ulas Yuhan, keputusan pembubaran yang didok oleh DPRD kota maupun mosi rakyat Mojokerto ternyata kandas. Sebab, warga Eropa yang tinggal di Kota Onde-Onde melayangkan surat keberatan atas rencana pembubaran Pemkot Mojokerto.

Warga Benua Biru rupayanya tetap menginginkan adanya pemerintahan yang otonom dan lepas dari pemerintahan kabupaten. ’’Akhirnya pemerintahan Belanda lebih memperhatikan surat keberatan warga asing daripada keputusan dewan maupun mosi rakyat Mojokerto,’’ pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya