alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Dedikasi Mochamad Asrori Kembangkan Literasi

Sepuluh Tahun Tekuni Sastra, Raih Anugerah Sutasoma

17 Oktober 2020, 11: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

TEKUN: Mochamad Asrori (batik kuning) mendapat pengharagaan pada Anugerah Sutasoma 2020 yang digelar Balai Bahasa Jawa Timur, baru-baru ini. (dok/radarmojokerto)

Mengembangkan literasi tak cukup dengan menulis dan membaca. Berkomunitas, membuka ruang diskusi, hingga membuat penerbitan juga kegiatan literasi. Aktivitas itu yang ditekuni Mochamad Asrori, 10 tahun belakangan ini.

FENDY HERMANSYAH, Kranggan, Jawa Pos Radar Mojokerto

PRIA berkacamata minus dengan tinggi badan 170 sentimeter (cm) ini tampak tenang. Memakai kemeja seragam cokelat keki, celana kain, dan tas punggung hitam. Menyembunyikan senyum dengan menunduk ketika disinggung penghargaan yang baru saja diraihnya. ’’Sama sekali tidak menyangka,’’ ujar Mochamad Asrori ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin (16/10).

Sebelumnya, dia dihubungi Balai Bahasa Jawa Timur (Jatim) untuk diminta mengirim portofolio. Belakangan dia mengetahui mendapat penghargaan guru bahasa Indonesia berdedikasi dalam Anugerah Sutasoma besutan Balai Bahasa Jatim. Saat penyampaian penghargaan, Asrori, sapaan akrab Mochamad Asrori, mengetahui penilaian penghargaan yang diterima dilakukan tanpa sepengetahuan dia. ’’Ternyata ada tim juri yang melakukan penilaian sebelum portofolio saya kirim,’’ ujar pria yang sehari-hari mengajar di SMKN 2 Kota Mojokerto ini.

Asrori mendapat penghargaan Anugerah Sutasoma 2020 kategori guru bahasa dan sastra daerah berdedikasi. Selain dia, ada enam peraih penghargaan pada masing-masing kategori. ’’Cara penilaiannya tidak tahu. Kelihatannya juri menghimpun informasi sendiri,’’ imbuh pria kelahiran Surabaya ini. Anugerah Sutasoma memberikan penghargaan kepada sosok-sosok yang mendedikasikan diri pada dunia sastra. Nama Asrori sendiri sudah akrab di telinga masyarakat Mojokerto. Utamanya di kalangan pegiat sastra, pegiat literasi, hingga guru- guru. Maklum, pria 40 tahun ini sudah terjun di dunia sastra sejak 10 tahun lalu.

Sedikitnya 4 buku cerpen dan antologi puisi bikinannya sudah dipublikasikan. Di luar itu, tulisan esai, puisi, cerpennya banyak bertengger pada serambi sastra media massa dan media digital. Asrori juga dikenal sebagai pegiat Terminal Sastra yang biasa digelar di perpustakaan Mojokerto. Beberapa komunitas literasi juga dikembangkannya. Selain itu, dia juga sempat menyerap ilmu penerbitan ke sejumlah penerbit di Jatim. Dua tahun lalu, dia mendirikan penerbit Temalitera beralamat di rumahnya, Perum Graha Japan Asri, Jalan Palem Kartika I-03, Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Sedikitnya 120 buku aneka genre sudah diterbitkan. Mayoritas buku karangan kalangan guru dan siswa berbentuk kumpulan cerpen dan puisi.

Sebagai guru, Asrori sehari-hari mengajar bahasa Indonesia dan sastra daerah. Profesinya itu jelas mendukung aktivitas kepenulisan. Adanya penerbitan yang didirikannya, juga membantu kawan-kawan seprofesi mengembangkan kepenulisan. ’’Sekarang banyak guru yang kembali menulis. Termasuk yang ingin menerbitkan buku,’’ terang dia.

Geliat kalangan pendidik kembali menulis hingga membuat buku tak lepas Gerakan Literasi Nasional yang dibesut pemerintah pusat. Asrori menilai kalangan guru seharusnya menulis hingga membuat buku. Karena secara kompetensi kemampuan itu menjadi tuntutan seorang pendidik. ’’Sebenarnya ada juga yang menulis, tapi memaksa menerbitkan bukunya. Tapi, secara pribadi saya tidak merekomendasikan untuk dibaca,’’ beber dia.

Menurut informasi yang dihimpun, Asrori menjadi sastrawan kedua Mojokerto yang mendapat penghargaan Anugerah Sutasoma. Sebelumnya, sastrawan Dadang Ari Murtono mendapat penghargaan pada tahun 2017. Disinggung soal penghargaan yang baru saja didapatkannya, Asrori menilai sastrawan, pegiat sastra, atau penulis adalah pekerjaan sunyi. Sehingga, pemberian penghargaan tersebut bisa jadi pelecut bagi dirinya. ’’Sebenarnya pekerjaan sastra ini kan pekerjaan sunyi. (Penghargaan) ini bentuk untuk bertahan. Sekaligus untuk mengembangkan diri,’’ tandasnya.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP