alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Tersangka Ujaran Kebencian Tidak Ditahan

14 Oktober 2020, 15: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kasatreskrim Polresta Mojokerto AKP Rahmawati Lailah menunjukkan unggahan bukti ujaran kebencian dari tersangka David Handoko di mapolresta Senin (12/10).

Kasatreskrim Polresta Mojokerto AKP Rahmawati Lailah menunjukkan unggahan bukti ujaran kebencian dari tersangka David Handoko di mapolresta Senin (12/10). (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

KEMLAGI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tersangka ujaran kebencian atau hate speech David Handoko, 37, dengan menyebut Mapolsek Kemlagi sebagai sarang ISIS (Islamic State of Iraq dan Suriah) atau teroris tidak ditahan.

Selain kooperatif, penyidik berdalih ancaman hukuman yang menjerat sales air mineral ini juga di bawah lima tahun. Selain itu, untuk memastikan kejiwaan David, penyidik juga akan menggandeng psikiater Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim. ’’Tersangka memang tidak kami tahan,’’ ungkap Kasatreskrim Polresta Mojokerto AKP Rahmawati Lailah.

Menurutnya, tidak ditahannya warga Dusun Balongjati, Desa Mojowatesrejo, Kecamatan Kemlagi, ini memang ada sejumlah pertimbangan. Penangguhan penahahan juga merupakan hak dari tersangka untuk dibebaskan sementara waktu atas dasar kebijaksanaan penyidik atau atas dasar tidak memenuhi alasan-alasan penahanan subjektif maupun objektif.

Hal itu sesuai pasal 20 KUHAP. Selain memang tersangka sudah tak bisa menghilangkan barang bukti, sejauh ini David juga tergolong kooperatif. ’’Secara objektif, ancaman hukuman juga di bawah lima tahun,’’ tandasnya.

Alasan objektif tersebut, lanjut Lalilah, juga sudah diatur dalam Pasal 21 ayat 4 KUHAP. Kendati tidak ditahan, pihaknya memastikan proses hukum terus berjalan. Hingga kini penyidik terus melakukan pemberkasan atas kasus ujaran kebencian yang menjerat David.

Tak hanya itu, untuk memastikan kejiwaan tersangka, penyidik juga akan menggandeng psikiater Rumah Sakit Bhayangkara Samsoeri Mertoyoso Polda Jatim. Pemeriksaan itu untuk memastikan ada atau tidaknya kelainan jiwa yang dialami tersangka.

Sebab, sebagaimana diketahui, David bertindak melawan hukum dengan memposting bernada provokatif di media sosial (medsos) tak lain karena alasan sakit hati. Tersangka merasa sakit hati kepada petugas polsek lantaran perkara yang dialaminya tak pernah diproses, meski pada kenyatannya, tersangka juga tidak pernah melaporkan perundungan yang dialaminya ke mapolsek.

’’Hasil pemeriksaan, motifnya memang sakit hati, tidak ada yang lain,’’ tandasnya. Sebelumnya, tersangka merasa kerap jadi sasaran bully-an lingkungannya dengan ujaran-ujaran tak pantas. Hanya saja, atas peristiwa yang menimpanya, David tak lantas melapor ke mapolsek. Dia hanya mencari perhatian dari pihak berwajib dengan mengunggah konten-konten berbau provokatif.

Salah satunya, bergambar foto Mapolsek Kemlagi dengan caption, Gunakan GPS WANTED Ini Pasukan ISIS Terorganisir. Di foto lain, yang juga di mapolsek sedang mendapat kunjungan dari anak sekolah TK, tersangka juga menulis caption, Ini pasukan ISIS terorganisir, GEMBONG TERORIS. Akibat perbuatannya itu, dia diciduk dan diamankan petugas lantaran diduga melanggar UU ITE.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolsek Kemlagi AKP Supriadi memastikan hingga kini, polsek tak pernah mendapat laporan dengan pelapor David. ’’Selama ini tidak pernah ada laporan soal kasus perundungan dengan pelapor dia (David red),’’ ungkapnya.

Kini, tersangka dijerat pasal 27 ayat 3 juncto pasal 45 ayat 3 UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Informasi Transaksi Elektronik (ITE) Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang Memiliki Muatan Penghinaan dan Pencemaran Nama Baik. Dengan ancaman pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak Rp 750 juta. (abi)

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP