alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Lifestyle
icon featured
Lifestyle
Pengusaha yang Berbagi Ilmu Produksi Sepatu

Awalnya Beri Pelatihan Gratis, Kini Tularkan Strategi Manajemen

13 Oktober 2020, 13: 10: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

BERBAGI: Samsul Huda, 59, memberi pelatihan pembuatan pola sepatu kepada Qailah Tri Marzah, 19, Mahasiswa Politeknik Negeri ATK Jogjakarta, Senin (12/10). (Rizalamrullah/radarmojokerto.id)

Samsul Huda, 59, pelaku industri rumahan sepatu asal Lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, selama pandemi ini menularkan ilmunya secara cuma-cuma. Dia membuka bengkel gratis untuk pelatihan pembuatan alas kaki di rumahnya setiap hari Selasa dan Rabu.

 

RIZAL AMRULLOH, Kranggan, Jawa Pos Radar Mojokerto

 

USIANYA yang menginjak kepala enam, Samsul Huda terbilang masih aktif terlibat langsung dalam proses produksi di bidang industri alas kaki. Bahkan, saat ini, pelaku usaha yang sudah malang melintang menekuni home industry sejak 1996 ini mendedikasikan pengalaman dan ilmunya untuk ditularkan secara cuma-cuma.

Oleh karena itu, di rumahnya di Lingkungan Sinoman Gang 1, Nomor 9, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Samsul membuka pelatihan gratis. Sebuah ruangan kecil di samping toko sepatunya dijadikan sebuah bengkel untuk melatih proses produksi alas kaki. ’’Karena kebetulan saya mempunyai sedikit ilmu tentang sepatu, jadi ya saya siap membantu barangkali ada yang berminat,’’ terangnya.

Pelatihan tersebut dibuka secara rutin dua kali dalam seminggu. Masing-masing pada hari Selasa dan Rabu. Menurutnya, bengkel pelatihan tersebut telah dibukanya sesaat sebelum pandemi Covid-19 melanda.

Awalnya, Samsul hanya memfokuskan pelatihan tentang pembuatan pola sepatu. Mulai dari jenis pantofel, boots, sneakers, oxford, maupun beragam jenis alas kaki lainnya. Ayah empat orang anak ini menyebutkan, alasan untuk membuka pelatihan gratis hanya berbagi. ’’Dasarnya tidak lain tuntunan. Semoga saja bisa menjadi ilmu yang bermanfaat,’’ urainya.

Namun, semenjak adanya wabah virus korona, Samsul tidak hanya menjadi tutor untuk pembuatan pola sepatu. Namun, pria kelahiran 4 Juli 1962 ini juga tidak jarang berbagi pengalamannya tentang strategi marketing hingga manajemen. ’’Apa yang minta diajarkan, selagi saya bisa ya monggo. Walaupun sekadar saling tukar pikiran,’’ ulasnya.

Samsul mengatakan, dengan saling sharing itulah yang membuat para pelaku usaha sepatu mampu bertahan dari hantaman pandemi. Bahkan, usaha yang digelutinya pun sempat mati suri sejak Maret hingga Juni lalu. Pasalnya, pembatasan sosial membuatnya terkendala terkait bahan baku hingga pemasaran. Secara perlahan, grafik penjualannya saat ini mulai bangkit kembali.

Samsul mengatakan, peminat yang mengikuti pelatihan sejauh ini datang dari berbagai kalangan. Baik dari para pelaku usaha sepatu, mahasiswa, hingga warga pada umumnya. Baik dari Kota Onde-Onde maupun luar kota.

Pria berambut putih ini menyatakan, dirinya tak merasa memiliki kepuasan batin tersendiri jika ilmu yang diajarkan berhasil diaplikasikan. Oleh karenanya, Samsul menganggap dengan tumbuhnya pelaku usaha baru tidak akan menimbulkan persaingan, melainkan justru bisa dirangkul menjadi mitra. ’’Karena pada prinsipnya yang membuat usaha itu sukses dan rugi itu dirinya sendiri, bukan dari orang lain,’’ pungkasnya. (abi)

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP