alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Tipu Muslihat Upal Rp 18 Juta Dibongkar

13 Oktober 2020, 11: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

SUDAH BEREDAR: Kasatreskrim Polresta Mojokerto AKP Rahmawati Lailah didampingi Kasubaghumas Iptu Katmanto menunjukkan barang bukti upal dari tangan tersangka di mapolre, Senin (12/10). (sofankurniawan/radarmojokerto.id)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokero - Peredaran uang palsu (upal) jaringan antarkota dibongkar. Tersangka pengedar, Musrilan, 51, warga Dusun Bakalan, Desa Mojodadi, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, berhasil diamankan berikut barang bukti upal pecahan Rp 100 ribu senilai Rp 18,2 juta. Sebelumnya, tersangka mampu meyakinkan korban, Mohammad Qomari, 44, jika dirinya adalah supranatural dan mampu menggandakan uang pecahan Rp 2 ribu menjadi Rp 100 ribu-an.

Status warga Dusun Kanigoro Lor, Desa Mojopilang, Kecamatan Kemlagi, ini tak lain juga rekan bisnis tokek tersangka. ’’Tapi, ternyata uang yang dipakai menggandakan pecahan Rp 100 ribu itu uang palsu yang sudah disiapkan tersangka,’’ ungkap Kasatreskrim Polresta Mojokerto AKP Rahmawati Lailah, dalam pers rilis.

Upal ini dibeli Musrilan dari Siswandi, warga Surabaya yang kini juga sudah diamankan Polrestabes Surabaya. Dia membeli upal pecahan Rp 100 ribu senilai Rp 23 juta dari Siswandi seharga Rp 10 juta. Menurut Rahmawati, pembelian upal ini berawal dari  bisnis tokek yang digeluti keduanya. Karena bisnis tersebut mengakibatkan korban mengalami kerugian Rp 80 juta, membuat Musrilan menjanjikan bisa mengembalikan kerugian korban melalui ritual penggandaan uang.

Sebagai syaratnya, Qomari diminta menyiapkan uang Rp 4 juta pecahan Rp 2 ribu-an. Uang pecahan Rp 2 ribu-an ini diminta tersangka untuk ditaruh dalam tumbu atau besek. Dalam tumpukan uang paling atas itu, pelapor juga diminta menyisipkan uang Rp 100 ribu. Sehingga dalam proses ritual yang dilakukan tersangka, nantinya uang Rp 2 ribu-an itu akan  berubah menjadi uang Rp 100 ribu-an. ’’Itu tipu muslihat yang dilakukan tersangka. Padahal, uang tersebut tidak berubah, tapi diganti dengan uang palsu yang sudah dibelinya dari tersangka Siswandi, pencetak upal yang sudah ditangkap Polrestabes Surabaya,’’ paparnya.

Meski upal yang dipakai dalam ritualnya sempat berjalan mulus, tetapi modus ini akhirnya terbongkar juga. Setelah Qomari sadar usai dikomplain petugas SPBU jika uang yang digunakan membayar membeli BBM adalah palsu.

Qomari pun mengklarifikasi tersangka. Sayangnya, Musrilan tetap ngotot jika uang yang diberikan itu asli, hingga akhirnya mendorong korban melapor ke kepolisian untuk ditindaklanjuti pada Rabu (7/10) pukul 14.00 WIB. ’’Setelah kita lakukan lidik, pelaku akhirnya kita amankan di rumahnya lengkap dengan barang bukti tindak kejahatan, sekitar pukul 17.30 WIB,’’ tuturnya.

Dengan rincian masing-masing Rp 5 juta dari tangan tersangka, dan Rp 13,2 juta dari korban. Tak hanya itu, petugas juga menyita uang pecahan Rp 2 ribu asli senilai Rp 4 juta dari tangan tersangka. Uang ini sejatinya uang korban yang ditukar pelaku dengan upal pecahan Rp 100 ribu senilai Rp 13,2 juta dengan modus penggandaan uang. ’’Sisanya (uang palsu Rp 4,8 juta) sudah diedarkan tersangka untuk membeli kebutuhan sehari-hari,’’ tegasnya.

Tersangka dijerat pasal berlapis, yakni pasal 378 dan 372 KUHP tentang Penipuan dan Penggelapan dengan ancaman empat tahun penjara, serta pasal 36 ayat 2, dan 3, sebagaiamana dimaksud dalam pasal 26 ayat 2, dan 3, UU RI 7  Tahun 2011 tentang Mata Uang. Dengan ancaman paling lama 15 tahun penjara.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP