alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Zona Muda
icon featured
Zona Muda
Dimensi Kopi, Trawas

Demi Wujudkan Satu Impian

12 Oktober 2020, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Barista Dimensi Kopi membuat sajian kopi pesanan pelanggan.

Barista Dimensi Kopi membuat sajian kopi pesanan pelanggan. (Aris Dwi/Radar Mojokerto)

Menjadi roaster kopi sejati adalah keinginan Galih Abdi Surya, 26, semenjak kali pertama mengenal kopi. Meski kala remaja ia sudah memperdalam pengetahuannya tentang segala seluk beluk perkopian. Mulai proses penanaman kopi, penyangraian, penyeduhan, hingga penyajian.

SEBENARNYA dunia kopi bukanlah hal baru bagi pria yang akrab disapa Galih ini. Terlebih, keluarganya mempunyai sebidang tanah yang khusus ditanami kopi di lereng Gunung Welirang, Trawas.

Namun, awal terjunnya Galih dalam dunia perkopian justru dimulai dengan berjualan kopi memakai gerobak pada saat kuliah. Selain sebagai usaha sampingan, ia rela berjualan di pinggir jalan demi mematangkan ilmunya. ”Sambil mencari tambahan uang saku, sekaligus juga mencari ilmu tentang kopi,” kata Galih.

Baru pada sekitar tahun 2017, Galih memantapkan diri untuk memulai usaha berjualan kopi dengan membuka warung di kawasan Trawas. Warung sederhana yang kemudian dinamakan Dimensi Kopi ini mengawali jejak karirnya di kampung halaman.

Melejitnya kawasan Trawas sebagai lokasi tujuan wisata favorit ikut membantu mendongkrak jumlah pengunjung yang mampir di Dimensi Kopi. Selain karena lokasinya yang strategis di tepi jalan, pertunjukan live music yang digelar rutin setiap hari Rabu dan Sabtu juga turut andil menyumbang jumlah pengunjung atau pelanggan.

Kendati semakin maju, namun Galih lebih suka menyebut lokasi seduh kopi miliknya sebagai warung ketimbang kafe. Dalam pemikirannya warung adalah kata yang tepat sebagai implementasi dari impiannya sebagai seorang roaster atau penyangrai sejati.

Apalagi, kini Galih dapat lebih fokus di bagian penyangraian. Demi memenuhi hasratnya tersebut, Galih tak segan mendatangkan alat roasting canggih dan serba computerized berharga puluhan juta. Tujuannya jelas, agar dapat memonitor hasil sangrai biji kopi olahannya.

”Dengan alat ini, semua proses sangrai biji kopi di sini tercatat secara otomatis ke dalam laptop berupa bentuk grafis. Mulai dari segi kadar air, temperatur mesin saat awal, hingga proses sangrai. Agar lebih mempermudah pengolahan biji kopi agar semakin optimal,” terangnya.

Kini ia juga membuka jasa sangrai biji kopi yang kerap dijadikan jujukan bagi para pemilik kedai kopi maupun penikmat kopi itu sendiri. Beberapa pelanggan sangrai di sini juga banyak yang berdatangan dari luar kota. (dwi)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP