alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Fenomena Tanaman Hias Janda Bolong

Tak Ada Patokan Harga, Tergantung Sentuhan Pemiliknya

07 Oktober 2020, 13: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Mokhammad Arifin bersama monstera hasil budidayanya selama tiga bulan terakhir.

Mokhammad Arifin bersama monstera hasil budidayanya selama tiga bulan terakhir. (Farisma Romawan/Radar Mojokerto)

Tanaman hias jenis monstera atau janda bolong saat ini tengah booming di kalangan pecinta tanaman. Tak main-main, harganya pun meroket tajam hingga disebut-sebut mencapai puluhan juta seiring banyaknya permintaan.

MENCUATNYA tanaman ini tak lepas dari situasi pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, tujuh bulan silam. Pada saat itu, orang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan beraktivitas di rumah demi menghindari penyakit.

Termasuk merawat tanaman sebagai hobi alternatif di tengah keterbatasan. Nah, salah satu jenis tanaman yang mulai menarik perhatian adalah jenis monstera adansonii.

Corak daunnya yang berlubang dan warna-warni membuat tanaman merambat ini kian tenar dengan sebutan janda bolong. Namun, ketenaran monstera tidak hanya terpaku pada satu varietas saja. Beberapa jenis monstera nyatanya juga diburu banyak kolektor.

Sejumlah kolektor siap menawar dengan harga puluhan juta demi bisa merawat tanaman tropis ini. Tingginya permintaan dan minimnya persediaan menjadikan tanaman ini sebagai barang mahal dan langka.

Kondisi inipun yang membuat para pembudidaya meraup banyak untung. Seperti Mokhammad Arifin, warga Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto,selama tiga bulan belakangan ini.

Sebagai petani tanaman hias, Arifin sempat kaget dengan booming-nya monstera selama pandemi. Sempat tidak menghiraukan, Arifin akhirnya tergiur hingga turut membudidayakan beberapa jenis monstera koleksinya.

’’Sejak dulu sebenarnya saya sudah punya. Cuman memang merambat liar, bahkan sempat dibiarkan sama tukang saya. Tapi, pas booming, kami kemasi lagi dan pilih satu-satu yang punya corak bagus untuk dibudidayakan,’’ tuturnya.

Untuk perawatan, Arifin memang tak sendiri. Ia dibantu oleh anak-menantunya, Galuh Sakti dan Risa Arfiana. Ada beberapa jenis monstera yang terus ia budidayakan mulai dari tunas hingga bisa merambat dewasa. Mulai dari monstera ekornaga, monstera borsigiana, hingga monstera deliciosa.

Khusus untuk borsiagiana dewasa, Abah Arifin, sapaan akrabnya, berani menjual hingga Rp 8 juta sampai Rp 10 juta per tangkai. Sementara jenis deliciosa, hingga Rp 3 juta pertangkai, sedangkan ekornaga atau monstera lokal mencapai Rp 300 ribu per tangkai.

Meski tak ada patokan khusus, namun Arifin berani memasang harga setinggi itu seiring banyaknya permintaan yang datang. ’’Sebenarnya tergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli, mau tinggi atau rendah. Kalau saya, tergantung yang beli, bisa merawat atau tidak,’’ tambahnya.

Dia mengaku sudah tiga bulan terakhir ini fokus membudidayakan monstera. Bahkan, dua kali panenan berhasil meraup untung sampai Rp 250 juta dengan ratusan bibit yang sudah ia rawat.

’’Yang memasarkan anak saya, kira-kira antara Rp 190 juta sampai Rp 250 juta. Untuk yang bibit usia sebulan, kami biasa menghargai cuman Rp 50 ribu per bibit,’’ tambahnya.

Untuk perawatan, Arifin mengakui tanaman ini gampang-gampang susah. Dimana, sentuhan tangan dan kesabaran perawatnya menjadi kunci kesuksesan.

Mulai dari penyiraman yang durasinya cukup empat hari sekali. Sedangkan nutrisi, Arifin biasa menggunakan empat campuran jadi satu sebagai medianya.

Mulai dari tanah biasa, pupuk kandang, sekam bakar, dan sekam biasa dengan perbandingan komposisinya merata semuanya. Ditambah juga nutrisi pendukung berupa satu sachet MSG atau micin yang ditabur seminggu sekali.

Termasuk tembakau kering yang ia sebar di sekitar tanaman sebagai pestisida agar daun dan batangnya tidak mudah diserang hama.

’’Perbandingannya sama, 1:1:1:1. Tapi, itupun tergantung dengan sentuhan yang merawatnya. Meskipun komposisinya sudah pas, kadang bisa mati. Yang penting jangan terlalu banyak bahan kimia. Cukup MSG satu sachet kecil saja untuk nutrisi pendukung,’’ tandasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP