alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Lima Desa Terdampak Kekeringan, 11 Ribu Jiwa Menanti Air Bersih

07 Oktober 2020, 08: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga mengambil air bantuan dari relawan dan pemerintah di Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Warga mengambil air bantuan dari relawan dan pemerintah di Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bencana kekeringan di puncak musim kemarau saat ini masih berlanjut. Kondisi ini membuat pemerintah harus aktif melakukan dropping air bersih di sejumlah desa yang tersebar di dua kecamatan paling terdampak.

’’Dari 18 desa yang terdampak, ada lima desa di dua kecamatan yang sudah mengalami krisir air bersih,’’ ungkap Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, M. Zaini, Selasa (6/10).

Lima desa itu antara lain, Desa Kunjorowesi, Kutogirang, Manduromanggunggajah, dan Wotanmasjedong, Kecamatan Ngoro, serta di Desa Duyung, Kecamatan Trawas. Menurut Zaini, lima desa di dua kecamatan ini tergolong sangat terdampak bencana kekeringan.

Sehingga untuk memenuhi kebutuhan air bersih saja harus menunggu dropping air. Setidaknya BPBD harus mengirim air besih sekitar 10 truk tangki, dengan kapasitas satu truk mencapai 5.500 liter, setiap harinya. Tiga tangki di Desa Kunjorowesi dan Kutogirang, serta satu tangki masing-masing ke Desa Manduromanggunggajah, Wotanmasjedong, dan Desa Duyung.

’’Total warga yang terdampak kekurangan air bersih sekitar 11.525 jiwa dengan jumlah kartu keluarga 3.451 di Kecamatan Ngoro, dan 509 jiwa di Desa Duyung, Trawas. Untuk desa di kecamatan lain belum ada permintaan bantuan air,’’ urainya.

Faktornya pun masih sama. Khususnya, di Desa Kunjorowesi. Selain memang tidak ada sumber air, selama ini mereka hanya memanfaatkan tadah hujan saja saat musim hujan. Terutama untuk Dusun Telogo dan Sumber.

Menurut Zaini, setiap tahun dua dusun yang berada di ketinggian lebih dari 1.000 Meter di atas permukaan laut (MDPL) selalu menjadi permukiman yang paling terdampak di musim kemarau tiba. Sedangkan di Desa Duyung krisis air karena airnya sebagian diambil oleh Desa Kunjorowesi.

’’Sehingga di Duyung ini perlu dibangunkan sumber air baru,’’ tegasnya. Untuk jangka panjang, saat ini di Desa Duyung sedang dikerjakan pemasangan pipa dari sumber air di Dusun Bantal, Desa Duyung dengan anggaran Rp 300 diambilkan dari bantuan keuangan (BK) desa.

’’Saat ini pengerjaan sudah 50 persen,’’ ujarnya. Sementara Desa Kunjorowesi dapat proyek dari PU Cipta Karya. ’’Besarnya belum terminator karena yang menangani dari provinsi. Saat ini sedang dikerjakan bentuknya pipanisasi. Dan untuk Desa Kutogirang juga proses sumur bor,’’ papar Zaini. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya