alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi
Produk Lokal Menggairah di Era Digital

Ubah Mindset, Rombak Manajemen Lama

05 Oktober 2020, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Admin toko sepatu online di Desa Banjaragung, Kecamatan Puri saat memasarkan produk mereka.

Admin toko sepatu online di Desa Banjaragung, Kecamatan Puri saat memasarkan produk mereka. (Farisma Romawan/Radar Mojokerto)

Pandemi membuat sejumlah pelaku usaha, khususnya di bidang produksi sepatu di Mojokerto mulai menyesuaikan diri dengan terjun ke pemasaran online. Namun, menjalankan roda bisnis e-commerce tidak hanya cukup memiliki akun media sosial (medsos) maupun masuk ke marketplace. Akan tetapi, juga membutuhkan strategi agar usaha tidak sekadar bertahan.

KONSULTAN Bisnis Online Ade Ariefianto Yuga Sumartono, 38, menjelaskan, pondasi awal dalam membangun bisnis pada platform digital adalah dengan mengubah mindset. Yaitu, menanamkan kesadaran bahwa di era teknologi saat ini, mau tidak mau harus segera menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

”Paling tidak sadar bahwa situasi dan kondisi saat ini, terutama pandemi ini tidak sama seperti kemarin. Kalau masih terlalu lama terlena, akhirnya kita akan kalah dengan yang lain,” terangnya. Warga asal Perumahan Wikarsa Sejahtera, Desa Kenanten, Kecamatan Puri ini menyebutkan, setelah pola pikir terbentuk, langkah berikutnya adalah segera melakukan perubahan terhadap sistem manajemen.

Ade menyebutkan jika pelaku usaha harus merombak strategi lama dan menyusun cara baru dalam menjalankan gerbong perusahan. ”Jadi strateginya harus dirombak total,” ujarnya. Dia menjelaskan, terdapat banyak pilihan dalam memasarkan produk di dunia maya.

Baik dipromosikan melalui akun medsos maupun dengan membuka gerai di marketplace. Namun, lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini menyebutkan, para pelaku usaha harus bijak dalam memilihnya.

Sebab, kata Ade, baik medsos maupun marketplace memilik kekurangan dan kelebihan masing-masing. Oleh sebab itu, pemilihan media untuk berjualan online yang tepat bisa jadi penentu keberlangsungan usaha ke depan. ”Karena setiap platform memiliki pesaing dan pangsa pasar sendiri-sendiri,” ulas pria kelahiran 26 September 1982 ini.

Kehadiran di platform digital tidaklah cukup, Ade menyebutkan jika diperlukan metode yang tepat untuk melakukan branding dan promosi. Stertegi ini lah yang tidak jarang menjadi batu sandungan dari para pelaku usaha.

Karena transaksi penjual dan pembeli bertatap muka secara langsung, maka setiap produk harus dicantumkan keterangan yang informatif. Agar lebih meyakinkan buyer, produk juga bisa di-review, dan diunggah melalui kanal YouTube.

”Jadi kalau sekadar bikin website, Instagram (IG), Facebook (FB), dengan tujuan untuk memperkenalkan produk, orang tidak akan mau tahu beli atau tidak,” papar pria yang bergelut di usaha produksi sepatu ini.

Ade menambahkan, yang patut jadi perhatian adalah, penjulan secara online juga harus mengukur kapasitas produksi. Sebab, hal tersebut dapat memengaruhi rating dari marketplasce.

”Misalnya produksi per bulan 1.000 pasang, tapi permintaan 3.000 pasang. Akhirnya membuat rating menjadi turun, karena kita dinilai terlambat merespons buyer. Jadi harus seimbang,” pungkasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya