alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi
Produk Lokal Menggairah di Era Digital

Rawat 26 Akun, Omzet Rp 2 M Per Bulan

05 Oktober 2020, 20: 21: 43 WIB | editor : Mochamad Chariris

Akhmad Basyir bersama ribuan pasang sepatu lokal yang akan ia jual lewat 26 akun digital marketing miliknya.

Akhmad Basyir bersama ribuan pasang sepatu lokal yang akan ia jual lewat 26 akun digital marketing miliknya. (Farisma Romawan/Radar Mojokerto)

Berawal dari seringnya tertipu hingga rugi puluhan juta, kini Akhmad Basyir mulai menikmati hasil atas jerih payah bisnis online sepatu yang dirintis sejak awal 2019 silam. Berbekal 26 akun marketplace, brand sepatu lokal yang dipasarkan pun kini siap menyaingi produk impor.

SEBUTAN sebagai ’’penghancur penjualan konvensional’’ pun tak kuasa ia hadapi atas digital marketing yang dikembangkan. Ya, kejengkelannya atas aksi penipuan yang kerap dialami perajin sepatu Mojokerto menjadi alasannya ’’balas dendam’’ dalam mengembangkan bisnis digital marketing lewat e-commerce.

Saat itu, Basyir yang baru lulus kuliah S-1 jurusan akuntansi terjun langsung mengoperasikan toko digitalnya di dua marketplace paling ternama. Berbekal keberanian berspekulasi tanpa untung, pria asli Dusun Genengan, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini langsung menggeber hasil produksi perajin sepatu di sekitar rumahnya.

Dengan harga semurah-murahnya dan untung seminim-minimnya, Basyir mencoba ’’merusak’’ pasar penjualan sepatu lokal yang selama ini didominasi sales dan grosir besar. ’’Awal-awal saya sempat coba pasarkan lewat sales dan toko grosir, tapi malah ketipu Rp 15 juta. Dari situ, saya punya prinsip siapa yang dirugikan, maka akan mendapat untung lebih besar,’’ tegasnya.

Basyir memang tidak serta merta menjual sepatu hingga meraup banyak untung tanpa strategi matang. Dengan menekan harga jual sepatu serendah-rendahnya, Basyir mencoba merebut perhatian konsumen. Nominal Rp 60 ribu per pasang tak segan ia lepas agar konsumen terus tertarik dengan sepatu yang ditawarkan.

’’Jujur saya hanya dapat untung Rp 20 ribu per pasang. Sangat minim, tapi dengan harga segitu, saya dapat mencuri pelanggan,’’ terangnya.  Namun, harga bukan menjadi satu-satunya strategi. Ia juga tak segan mengiklan setiap hari demi mendapat banyak tanggapan dari konsumen.

Termasuk me-manageq-word dalam tayangan iklan demi mendapat clickbait tertinggi. Sehingga trafficorder naik dan rating akun tokonya turut terangkat hingga mendapat banyak bintang. Nah, disinilah bapak dua anak ini memerankan empat operator yang ia gaji hingga Rp 2,7 juta per bulan, sebagai pelayan terbaik demi mendapat trust dari konsumen.

’’Di bulan pertama sampai ketiga, saya nggak ambil untung karena hasilnya langsung saya setorkan buat ngiklan. Baru di bulan keempat dan seterusnya, penjualan saya sudah melebihi ongkos iklan. Nah, baru di sini untungnya saya ambil,’’ tegasnya.

Strategi itu bukannya tanpa hambatan. Space penjualan sepatunya masih dirasa terbatasi oleh marketplace. Sehingga untuk mengembangkan orderan, Basyir kini menebar jaring sebanyak mungkin dengan membuka toko online hingga 26 akun. Termasuk merawat dropshiper luar pulau sebagai penyangga toko online-nya.

Bahkan, saat ini 26 akun tersebut mampu menerima order hingga 1.400 resi setiap hari. Atau jika dinominalkan, ia bisa mendapat omzet hingga Rp 2 miliar per bulan.

’’Mungkin satu akun hanya mendapat 100 resi, tapi kan saya punya akun banyak. Ibaratnya, meskipun perjaring hanya dapat sedikit, tapi kita menebar banyak jaring,’’ tegasnya. Tidak hanya sepatu, Basyir juga mencoba memasarkan lebih luas produk lokal. Berupa helm, mulai dari jenis retro, bogo, hingga helm anak-anak.

Termasuk dalam waktu dekat produk kosmetik yang kini menjadi kebutuhan utama kaum hawa. ’’Kalau helm saat ini sehari bisa 300 sampai 400 resi. Saya sudah menganalisa produk kosmetik yang sekarang seperti kebutuhan primer bagi wanita,’’ tandas alumnus UMM Malang tahun 2017 ini. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP