alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Ecoprint Produk Fashion Berbahan Alami

Warna dan Motif Manfaatkan Dedaunan hingga Secang

03 Oktober 2020, 13: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

M Hasib menunjukkan teknik ecoprint yang diterapkan pada produk alas kaki dan busana.

M Hasib menunjukkan teknik ecoprint yang diterapkan pada produk alas kaki dan busana. (Fendy Hermansyah/Radar Mojokerto)

Muhamad Hasib mengenal teknik ecoprint sejak empat tahun lalu. Setahun belakangan mulai menerapkan teknik ramah lingkungan itu pada produk fashion. Hingga kini, rasa penasaran eksplorasi teknik itu belum terpuaskan.

TERAS rumah di Perum Japan Raya Jalan Bola Voli CC Nomor 6, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto tak hanya ditempatkan kursi dan meja tamu. Almari kaca berisi busana, alas kaki, tas, dan maneken dibalut kain warna-warna alam sengaja ditempatkan menjadi pajangan.

Aneka produk itu berbahan kain dan kulit dilapisi dengan teknik ecoprint. ’’Itu teknik pemberian motif dan warna menggunakan bahan alam,’’ ujar Muhamad Hasib, di kediamannya Jumat (2/10).

Dia menceritakan awal ketertarikan terhadap teknik itu ketika ada seseorang yang memakai produk fashion ecoprint. Dari situ dia lantas terbesit rasa ingin tahu untuk menelisik lebih dalam. Dia kemudian berinisiatif mencari tahu sekaligus belajar kepada orang-orang yang telah mengetahui terlebih dahulu.

Selain motivasi tersebut, rupanya Hasib, panggilan Muhamad Hasib mengaku ketertarikannya juga didorong oleh pekerjaannya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Perpustakaan dan Arsip Pemkab Mojokerto.

Posisinya pada bidang pengembangan juga menuntutnya berpikir kreatif. Utamanya, yang berfokus terhadap pengembangan perpustakaan. ’’Nah salah satunya memberikan keterampilan atau pelatihan kepada masyarakat atau komunitas. Dari situ, setelah saya menguasai ecoprint, saya ajarkan di perpustakaan,’’ terang pria 50 tahun ini.

Faktor insiatif pribadi ditunjang tuntutan pekerjaan membuatnya lebih kreatif lagi. Terlebih, teknik yang didalaminya itu memiliki keunggulan dibanding lainnya. ’’Ini beda dibanding batik. Jadi pewarnaan dengan bahan alam, tapi bukan batik. Meski, terkadang hasilnya mirip-mirip hasil batik,’’ jelas Hasib.

Hampir setahun ini dia mempelajari teknik ecoprint. Setelah itu, mulai berani mengajarkan keterampilannya. ’’Baik di kantor maupun di komunitas, PKK, hingga sekolah, sering mengajarkan teknik ini,’’ imbuhnya. Menurut Hasib, teknik ini terbilang sederhana.

Karena tidak membutuhkan proses panjang. Proses produk ecoprint paling tidak makan waktu 3-7 hari. Sekali pengerjaan bisa dibikin pada satu kain hingga ribuan kain. Atau medium lain, seperti kulit, kayu, hingga keramik. Proses utama teknik pemberian motif dan warna menggunaan bahan alam ini ada tiga tahap.

Pertama, pembersihan medium. Kedua, pemberian motif dan warna, serta ketiga, penguatan warna. ’’Semuanya menggunakan bahan alam. Kalau ingin lebih murah, bisa gunakan bahan yang ada di sekitar rumah,’’ tutur dia.

Bahan alam seperti dedaunan menjadi pemberi motif utama. Pada dasarnya seluruh daun dapat digunakan. Entah daun mangga, sirsak, pakis, daun jarak, daun jati, mahoni, dan lainnya. ’’Semua daun itu bisa dibuat menjadi motif. Bisa dikombinasikan. Selain menghasilkan motif, daun juga bisa menyumbang warna,’’ tambahnya.

Untuk pewarnaan, penggunaan bahan alam juga tak dilepaskan. Rempah-rempah macam kunir, tegaran, secang, jolawe bisa digunakan. Daun mangga bisa digunakan pewarna merah. Daun jati bisa untuk warga terakota atau merah bata.

’’Daun jati yang muda dengan tua bisa hasilkan warna berbeda,’’ ucapnya. Teknik ecoprint, tandas Hasib, juga menghasilkan produk cetakan yang kerap tak terduga. Karena ketika motif dan pewarnaan diberikan, pada hasilnya bisa berbeda dari ekspektasi.

’’Ecoprint itu hasilnya selalu saja ada yang beda. Jadi kalau ada pesanan seragam ecoprint, itu tidak bisa malah sulit sekali,’’ bebernya. Dalam teknik itu, bisa dikombinasikan aneka bentuk motif dan warna. Hasil ecoprint pada kain atau kulit bisa diterapkan pada produk fashion, seperti alas kaki, hingga busana.

Hasib sendiri setahun belakangan mencoba pemasarkan hasil ecoprint yang diterapkan pada produk fashion. Selama pandemi ini, pesanan justru meningkat. ’’Seminggu bisa 3-4 pesanan produk sepatu ecoprint. Per item seharga Rp 450 ribu. Ya lumayan. Saya pemasaran masih lewat FB (Facebook),’’ tambah dia.

Pada produk busana, dibanderol harga kisaran Rp 200 ribu hingga di bawah Rp 1 juta. Bedanya, dia tidak secara langsung menggarapnya. Dia hanya membuat bahan setengah jadi baik itu kain atau kulit ecoprint.

Kemudian dia menyerahkan pada perajin alas kaki, tas, atau tailor untuk mengimplementasikan hasil ecoprint pada produk fashion. ’’Eksplorasi ecoprint masih luas. Karena hasilnya bisa tak terduga,’’ pungkas Hasib.

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya