alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Pandemi, Omzet Perajin Rambak Bangsal Terjun Bebas

02 Oktober 2020, 14: 10: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Perajin kerupuk rambak di Bangsal, Mojokerto mengerjakan pesanan. (Arini for Radar Mojokerto)

BANGSAL, Jawa Pos Radar Mojokerto – Industri kerupuk rambak di Kabupaten Mojokerto tengah lesu. Sejak pandemi Covid-19, omzet para perajin mengalami penurunan drastis, lebih 50 persen.

Seperti yang diungkapkan Muhammad Burhanuddin Yusuf, 21. Perajin asal Bangsal ini menuturkan, setiap bulan, target penjualannya mengalami penurunan hingga 60-70 persen. ’’Per bulan, kalau ramai, ya Rp 50 juta sampai Rp 70 juta. Kalau sepi, Covid-19 kayak gini, ya Rp 30 juta sampai Rp 40 juta aja,” paparnya.

Ditegaskan Yusuf, untuk menyiasati agar bisnis yang digelutinya tetap berjalan, sejumlah penjual rambak di wilayahnya terpaksa menurunkan harga penjualan. ’’Malah ada yang sampai diturunkan harganya. Yang stik super itu harganya Rp 85 ribu-Rp 86 ribu per kilogram (kg) jadi Rp 75 ribu,” katanya.

Yusuf menambahkan, untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19, ia harus meminimalisir pengeluaran. Di antaranya, dengan memangkas jumlah pekerja. Dari semula sebanyak 10 pekerja, kini hanya tersisa satu orang saja.

Namun, mereka tak diberhentikan total. Saat ada pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu cepat, mereka bisa dipanggil.Penjualan juga lesu. Stok kerupuk mentahan saja, menumpuk hingga puluhan karung.

Padahal, di kondisi normal, pembuatan kerupuk dikebut di awal tahun untuk mengantisipasi permintaan pada pertengahan tahun yang melonjak tinggi.  ’’Bulan satu sampai puasa itu penuh yang kerja di sini, ” jelasnya.

Tak hanya itu, produksi kerupuk rambak siap saji yang hanya bisa bertahan selama sepekan, juga dikurangi. Tetapi untuk mempertahankan bisnis usahanya, produksi kerupuk mentahan masih tetap ia produksi seperti biasa.

Hal ini disebabkan karena kerupuk rambak mentah mampu bertahan jauh lebih lama. Menurunnya omzet, tak membuat ia patah semangat. Ia pun mencoba beralih dari berjualan secara offline kini menjadi online.

Berjualan online bisa mengurangi kerugian usahanya tersebut.  ’’Semoga pandemi ini cepat berakhir. Penjualannya pelan-pelan meningkat serta bisa bersaing dengan usaha yang lain. Yang paling penting saya bisa menjaga kualitas dari produk tersebut,’’ harap Yusuf. (rin)

(mj/ron/ron/JPR)

 TOP