alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi
Budidaya Larva Lalat di Mojokerto

Jadi Alternatif Pakan, Kurangi Ketergantungan Pabrikan

29 September 2020, 10: 10: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

BUDIDAYA: Wiwit Suhardi ketika memantau kondisi kandang indukan lalat BSF sebagai tempat perkembangbiakan. (DITADWIYANTI/radarmojokerto.id)

Berawal dari banyaknya belatung yang berkembang biak di bawah kandang ternaknya, Wiwit Suhardi berinisiatif membudidayakan lalat jenis Black Soldier Fly (BSF). Pasalnya, kandungan protein yang tinggi pada maggot atau larva lalat bisa menjadi alternatif pakan untuk menghemat perawatan ternak unggas dan lele.

 

DITA DWIYANTI, Mojosari, Jawa Pos Radar Mojokerto

 

SIANG itu, Wiwit tengah sibuk membuat sebuah kandang yang berjarak beberapa meter dari rumahnya. Tempat tertutup itu bakal dijadikan sebagai rumah baru bagi indukan lalat BSF. Ya, sejak dua bulan ini dia menekuni budidaya maggot atau larva sebagai campuran pakan hewan-hewan ternaknya.

Warga Desa Randobango, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, ini secara otodidak mempelajari cara mengembangbiakkan jenis lalat. Kini, dia sudah memiliki dua kandang sebagai sarang sekaligus tempat bertelur lalat BSF. ’’Awalnya lihat di YouTube, saya praktikkan semua tahapnya. Ternyata mudah, meskipun awalnya ada kendala,’’ terangnya.

Menurutnya, budidaya maggot diakui relatif mudah diterapkan. Karena hanya membutuhkan kandang, media bertelur, hingga menetas menjadi larva. Belatung-belatung lalat itulah yang kemudian dimanfaatkan sebagai tambahan makanan ternak ayam, bebek, dan ikan lele, miliknya.

Selain mampu menekan biaya pakan, asupan-asupan nutrisi ternak juga akan terjamin. Pasalnya, larva memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Keuntungan lainnya, jelas dia, juga bisa mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan yang harganya kian melambung. ’’Kalau dengan maggot kan sudah tidak terlalu butuh pakan pabrikan,’’ terang Wiwit sembari memberi makan ternak bebeknya.

Wiwit tidak sendiri, dia dibantu putranya Sayyidina Hamzah untuk membudidayakan maggot. Dijelaskan Hamzah, proses mengembangbiakkan lalat BSF terbilang cukup sederhana. Terbukti, selama dua bulan ini dirinya bisa mencukupi pakan ternak dengan biaya yang lebih murah.

Karena itu, sekarang dia mulai mengembangkan budidaya lalat BSF dengan menambah kandang indukan. Tujuannya agar bisa menambah hasil produksi maggot. Hamzah memaparkan, perkembangbiakan sendiri juga terhitung cepat.

Untuk membuat indukan baru, hanya dibutuhkan waktu sekitar 38 hari terhitung mulai sejak berupa telur. Apalagi, satu ekor lalat bisa menghasilkan kurang lebih 500 butir telur. ’’Perawatannya pun mudah, gak rewel,’’ ujar Hamzah sembari menunjukkan media penetasannya.

Namun, diakuinya, jika prosesnya tidak melulu berjalan mulus. Mengingat, setiap fase pertumbuhan membutuhkan media yang tepat agar bisa berkembang maksimal. Hingga akhirnya dia menemukan cara dengan menggunakan ampas tahu sebagai media penetasan telur.

Setelah menetas menjadi larva, Hamzah memanfaatkan sampah organik sebagai pemenuhan pakan maggot. ’’Biasanya dikasih campuran sisa buah-buahan atau sayuran karena maggot adalah hewan pengurai sampah organik,’’ terang Lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Peternakan ini.

Meski tergolong mudah, tetapi budidaya maggot membutuhkan ketelatenan. Sebab, kandang harus selalu rutin dilakukan pengecekan. Selain itu, juga diperlukan perhitungan yang tepat kapan tiba waktunya panen. ’’Maggot ini kan cocok untuk semua ternak yang butuh protein tinggi seperti unggas atau ikan,’’ imbuhnya. (abi)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP