alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Bhre Kahuripan Klinterejo Pasca Ekskavasi

Muncul 11 Susun Batu Andesit, Ditemukan Arca Membentuk Relief

23 September 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Arkeolog meneliti struktur batu andesit yang tersusun di bawah situs di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Arkeolog meneliti struktur batu andesit yang tersusun di bawah situs di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (Farisma Romawan/Radar Mojokerto)

Situs yang dulunya Petilasan Ratu Majapahit Tribuana Tunggadewi itu kembali diekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim. Ekskavasi kali kedua ini untuk menggali bentuk asli dan fungsi bangunan purbakala yang diperkirakan sebagai bangunan suci raja ketiga Majapahit itu.

SITUS yang terletak di tengah sawah Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko ini, memang dianggap istimewa setelah banyak ditemukan fakta-fakta baru yang berserakan di sekitar bangunan. Sebagai cagar budaya yang teregister sebagai Situs Bhre Kahuripan sejak tahun 1990, situs yang sempat dijadikan tempat pemujaan umat Hindu ini pun akhirnya dibongkar BPCB Jatim di Trowulan tahun 2019 untuk digali lebih dalam lagi.

Bahkan BPCB kembali melanjutkan proses ekskavasi tahap kedua tahun ini yang sudah dimulai sejak 5 September hingga 5 Oktober nanti. Tujuannya tak lain untuk menyempurnakan temuan bangunan yang menyimpan banyak teka-teki akan cerita Majapahit masa lampau.

Termasuk yoni yang berdiri tegak di tengah-tengah bangunan yang panjang dan lebarnya sama-sama 25 meter itu. Sebagai simbol kesempurnaan raja dan penganutnya yang beragama Hindu, struktur bangunan di bawah yoni pun diyakini lebih bermakna dan bersejarah.

Benar saja, setelah menggali lebih dari 2,3 meter, arkeolog menemukan struktur bangunan berundak yang tertanam di bawahnya. Bahkan bangunan tersebut tidak hanya tersusun oleh bata merah khas Kerajaan Majapahit. Tapi juga tersusun batu andesit berukuran cukup besar yang tertanam di bawah bata merah.

Susunannya pun telah terlihat 11 tingkat ke bawah. Kini, BPCB mencoba memperluas wilayah ekskavasi hingga ke sisi selatan bangunan utama. Dan masih ditemukan struktur batu andesit dengan tersusun berundak.

’’Untuk uji test pit-nya bukan struktur paling bawah. Tapi mencari data dimensinya. Jadi nyebar yang kesamping dulu. Selesai ini kami lanjutkan ke bawahnya,’’ tutur Kepala Sub Unit Pemanfaatan BPCB Jatim Pahadi kemarin.

Pahadi tak memungkiri jika bangunan yang dulunya petilasan ini disebut dalam folklor sebagai tempat pendharmaan Tribuana Tunggadewi terhadap Sang Hyang Widi. Apalagi, masyarakat Hindu juga mempercayai jika bangunan ini adalah tempat suci raja ketiga Majapahit itu.

Bahkan, jika dicocokkan dengan angka yang terpahat dalam yoni, sangat cocok digambarkan sebagai tahun meninggalnya Tribhuwana, yakni 1294 Saka atau 1372 Masehi. Hanya saja, keyakinan itu nantinya masih harus dikonfirmasi kembali kepada ahli di bidangnya untuk memastikan fungsi bangunan tersebut.

’’Kami akan konfirmasi ke ahli klasik atau orang kompeten di bidang akademis terkait dengan Hindu-Buddha. Untuk menarik interpretasi apakah ini pendharmaan Tribuana Tunggadewi, atau pendharmaan yang lain atau pemujaan yang lain,’’ tegasnya.

Tak hanya itu, selama proses ekskavasi, tim peneliti juga menemukan arca yang terpendam di samping bangunan. Dalam arca itu, juga muncul pahatan yang membentuk relief layaknya candi.

Hanya saja, bongkahan arca tersebut sudah tak utuh. Beberapa serpihannya pun ditemukan berserakan di lokasi lain dan tengah dikumpulkan tim peneliti. Ditanya soal arca, Pahadi juga belum bisa menerangkan lebih jauh.

’’Kayaknya ada reliefnya. Kami juga belum tahu apakah memang arca ini sengaja dihancurkan saat Majapahit runtuh atau jauh setelah itu. Kami masih mengumpulkan serpihannya,’’ pungkas Pahadi.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP