alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Mohammad Darmawan, Pelukis On The Spot

Dari Gus Baha hingga Gedung Peninggalan Belanda

19 September 2020, 15: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

TERAMPIL: Mohammad Darmawan melukis bangunan di bawah Jembatan Gajah Mada, Kota Mojokerto. (khudorialiandu/radarmojokerto.id)

Sebagai seorang santri tak lantas membuat Mohammad Darmawan menghentikan kreativitas. Waktu-waktu luangnya biasa dimanfaatkan pemuda asal Dusun Sasap, Desa Modongan, Kecamatan Sooko, ini dengan melukis secara outdoor. Ia biasa menggunakan peralatan dan media pensil hingga watercolor.

 

KHUDORI ALIANDU, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto

 ’’SUDAH banyak karya yang telah saya hasilkan,’’ katanya Mohammad Darmawan memulai perbincangan dengan Jawa Pos Radar Mojokerto. Dia menceritakan, selama ini sudah mampu membuat karya lukisan berupa wajah para pahlawan, tokoh nasional, ulama, hingga tokoh inspiratif.

Tokoh-tokoh itu di antaranya, Cak Nun (Ainun Najib), Gus Mus (KH Mustofa Bisri), Gus Baha (KH Achmad Bahauddin Nursalim), Najwa Shihab, dan masih banyak lagi. Dia menuturkan, melukis para tokoh tersebut berangkat dari inisiatif sendiri. Setelah dirinya mengaku sangat mengagumi mereka. ’’Mereka memang jadi inspirasi saya sendiri dalam hidup,’’ tuturnya.

Memang tidak mudah bagi pemuda kelahiran Mojokerto 9 Mei 1999 ini untuk melukis berbagai objek dengan peralatan seadanya. Sehingga dirinya harus belajar dari nol. Apalagi, jika dilihat dari latar belakang keluarga, tak satu pun yang menjadi seniman. Namun, situasi ini tak membuatnya patah arang.  

Berangkat dari keinginan kuat itu, Darmawan mengawali dengan melihat karya temannya yang menggambar wajah menggunakan pensil di 2017 silam. Dari situ dia lantas tertarik dan berusaha mencobanya dengan melihat tutorial di YouTube. Untuk membuktikan kemampuannya, Darmawan memutuskan menggambar sketsa wajahnya hanya dengan sebuah pensil. Meski hasilnya jauh dari kata sempurna. ’’Pertama menggambar wajah saya sendiri. Saya butuh dua hari. Tapi, saya terus mencoba. Kebetulan saya juga masih nyantri di salah satu pesantren di Jombang,’’ ujarnya.

Hasilnya, dari belajar outodidak ini membuatnya terus berkembang. Bahkan, seiring kreativitas yang dimiliki, dia kemudian memberanikan diri mengambil peluang bisnis dengan membuka jasa lukis sketsa wajah.

Pesanan pun banyak diterima. Tidak hanya dari lokal Mojokerto, hasil karya dan imajinasinya bahkan dilirik oleh konsumen luar pulau. ’’Paling jauh Sumatera dan Kalimantan. Paling banyak itu sketsa wajah. Buat kado ulang tahun, wisuda, nikah, dan foto keluarga,’’ urainya.

Namun, dengan hasil karya yang dihasilkan hingga kini tak membuatnya puas begitu saja. Setiap waktu dirinya selalu mengasah kemampuannya dalam menggambar. Seperti menggunakan pensil, arang, cat minyak, cat akrilik, hingga watercolor. Seiring banyak jaringan, tak jarang Darmawan juga sering sharing tentang dunia kesenian sekaligus praktik menggunakan banyak teknik untuk melatih skill dalam melukis. ’’Jadi saya sering silaturahmi juga ke seniman-seniman untuk belajar. Sehingga semangat untuk tetap di dunia seni lukis ini selalu ada dan sampai sekarang masih belajar,’’ tegas santri Pondok Pesantren (PP) Darussalam, Sengon, Jombang ini.

Salah satu yang masih sering dilakukan adalah melukis dengan sistem on the spot (OTS) atau melukis di tempat dengan objek di sekitarnya. Hal itu dimaksudkan sekaligus meningkatkan kepekaan terhadap objek. Sistem OTS ini sering dilakukan di alam terbuka hingga perkotaan. Seperti spot pemandangan Gunung Penanggungan yang dilukis dari Puthuk Siwur, dan Candi Bajang Ratu Trowulan. ’’Terbaru, bebarapa hari lalu melukis gedung tua peninggalan Belanda di sisi timur jembatan Gajah Mada,’’ jelasnya.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP