alexametrics
Rabu, 16 Jun 2021
radarmojokerto
Home > Mojopedia
icon featured
Mojopedia
R. Ardi Sriwidjaya (2-habis)

Dibesarkan dari Keluarga Priyai, Dimakamkan di Losari

18 September 2020, 20: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ardi Sriwidjaya, semasa masih hidup.

Ardi Sriwidjaya, semasa masih hidup. (Dok Ayuhanafiq for Radar Mojokerto)

SEMENTARA itu, sebelum menjadi Bupati Mojokerto, Ardi Sriwidjaya dikenal sebagai sosok birokrat yang meniti karir sejak dari bawah. Pengalaman pertama birokrasinya dilakoni di era kolonial.

Ayuhanafiq menceritakan, Ardi Sriwidjaya dibesarkan oleh keluarga priayi. Orang tuanya bekerja sebagai pegawai pemerintah kolonial. Oleh karena itu, Ardi Sriwidjaja memiliki hak bersekolah hingga tingkat lanjutan.

Bahkan, setelah menamatkan pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS), Ardi meneruskan ke Opleiding School Voor Inlandsche Qmbtenaren Opleiding (OSVIA).

Baca juga: Kodim Silaturahmi dengan Keluarga Besar TNI

Yuhan mengatakan, OSVIA adalah sekolah pendidikan di zaman Belanda yang dikhususkan bagi calon pegawai-pegawai bumi putra. Mengenyam pendidikan di lembaga tersebut membuat Ardi Sriwidjaja bisa bekerja di dalam pemerintahan kolonial sebagai pamong praja.

”Karir kepegawaiannya diawali di wilayah Kabupaten Malang,” imbuhnya. Posisinya terus menajak hingga dipromosikan sebagai Asisten Wedana di Pakisaji Malang.

Pada tahun 1941, karir Ardi Sriwidjaja kembali naik setelah ditunjuk sebagai Wedana di Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. ”Jabatan wadana diemban hingga masa pendudukan Jepang,” paparnya.

Memasuki zaman revolusi kemerdekaan, Ardi Sriwidjaya tetap menduduki Wedana Ngadiluwih dengan status pegawai republik. Pada tahun 1950, Ardi dipercaya menjadi Patih Kabupaten Mojokerto setelah R. Soeharto ditunjuk sebagai Bupati Mojokerto.

Menduduki posisi setara sekretaris daerah, Ardi Sriwidjaya dipercaya sebagai ketua Serikat Sekerja Kementerian Dalam Negeri (SSKDN) di Mojokerto. Posisi tersebut mendekatkan dirinya pada dunia politik.

Kedekatan itu kemudian yang menjadi pertimbangan DPRD Kabupaten Mojokerto memilihnya sebagai Bupati Mojokerto. Yuhan mengatakan, selepas diberhentikan menjadi bupati, Ardi Sriwidjaya kemudian diberi jabatan sebagi Residen Bojonegoro oleh Gubernur Jawa Timur R. Wijono.

Setelah pendiun, Bupati Mojokerto di masa transisi Orde Lama dan Orde Baru itu memilih tinggal di Mojokerto. Pejabat kelahiran Ngawi ini kemudian meninggal dunia di usia 85 tahun. Pemakaman umum Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg menjadi perisitirahatan terakhirnya.

”Ardi Sriwidjaya adalah salah seorang yang memiliki kecintaan terhadap Mojokerto,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya