alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features

Pot dan Tong Sampah Karakter Kartun Hasil Daur Ulang Ban Bekas

12 September 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ronald Kayon tengah memaku potongan ban bekas menjadi pot bunga di bengkel kerjanya, lingkungan Pekayon, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

Ronald Kayon tengah memaku potongan ban bekas menjadi pot bunga di bengkel kerjanya, lingkungan Pekayon, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. (Fendy Hermansyah/Radar Mojokerto)

Membanjirnya motor matik menyebabkan tingginya sampah ban. Hanya tangan-tangan kreatif yang dapat mengubah rongsokan ban menjadi aneka kerajinan. Seperti di bengkel kerja di Lingkungan Pekayon Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, yang dikelola Ronald Kayon.

MATAHARI meluncur ke ufuk barat perlahan. Tapi, bengkel kerja di lahan kosong sekitaran lingkungan Pekayon RT 01/RW 01 Kelurahan/Kecamatan Kranggan ramai dikunjungi anak muda setempat.

Bengkel kerja amat sederhana itu menjadi tempat produksi daur ulang ban bekas menjadi aneka produk kerajinan. Mulai pot tanaman, dudukan pot, pot bonsai, hingga tong sampah. Produk kerajinan tangan itu dicat dengan warna-warna mencolok.

Pengelola tempat itu adalah Ronald Reagan atau orang sekitar akrab menyapanya Ronald Kayon. Pria 40 tahun itu mengakrabi ban bekas mulai ban sepeda motor, mobil, hingga truk yang ukurannya semeter lebih.

’’Ini tengah membuat dudukan pot dari potongan ban bekas yang diatur melingkar,’’ ujar Ronald kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Jumat (11/9). Kerajinan berbahan daur ulang itu memang belum lama digelutinya.

Sekitar 8 bulan lalu, dia menceritakan, mendapat pesanan pembuatan pot dan tong sampah. Bahannya dari ban motor matik bekas. ’’Saya dapat keterampilan ini dari kakak saya yang bekerja di Papua. Akhirnya saya terapkan di sini,’’ sambung bapak dua anak ini.

Pria berkulit sawo matang ini menuturkan, beranjak dari pesanan itu, rupanya disukai. Gayung bersambut, beberapa kenalan pun memesan pot dan tong dari bahan ban bekas tersebut. ’’Biasanya 100 tong sampah itu makan waktu 10 hari pembuatan,’’ sebut dia.

Pembuatan pot dan tong sampah terbilang tak mudah. Karena, ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Mulai pembersihan bahan, pemotongan, penyusunan, pengecatan, hingga pelukisan.

Tak sembarang ban bekas bisa dipakai. Ban bekas motor matik ukuran 14 bisa dipakai. ’’Kalau ukuran 17 terlalu besar. Nanti tidak proporsional,’’ tuturnya. Ban motor matik juga bisa disulap jadi pot.

Sisi bagian dalam ban dipotong urat pinggirnya. Kemudian dipotong membuat alur zig-zag. Setelah itu, posisi ban dibalik. Yang bagian dalam jadi keluar. Sehingga, tercipta ban melingkar dengan tepian meliuk mirip daun teratai.

’’Untuk pot seperti ini butuh dua ban. Ditambahi bagian penyangga di bawah. Sudah seperti pot teratai,’’ sambung pria yang pernah merantau ke Papua ini.

Pot jenis itu bisa diwarnai menggunakan cat besi. Dipilih merek tertentu yang bisa mengeluarkan warna kilat lebih tajam dan lebih awet. ’’Kalau bagian dalam ban sudah rantas, itu sudah buang. Tidak bisa dipakai,’’ tandas Ronald.

Beda dengan tong sampah. Bahan yang digunakan ban bekas dump truck. Ukurannya bisa semeter lebih. Setelah dipotong sesuai pola, ban dibalik. Untuk badan tong sampah, butuh tiga lapis ban. Setelah itu, diberi penyangga bawah dan penutup berbahan ban pula.

Tong sampah itu kemudian di-finishing cat menyeluruh. Sebagai bagian artistiknya, Ronald meminta bantuan anak muda setempat untuk melukiskan figur kartun-kartun terkenal. Macam, Doraemon, Mickey Mouse, Naruto, dan lainnya.

Tong sampah ban bekas dengan karakter kartun itu biasa dijual Rp 110 ribu per tong. Untuk pembelian dalam jumlah besar, dia bisa kasih harga lebih murah. ’’Pemasaran sementara ini sistem getok tular,’’ tambahnya.

Keterlibatan anak-anak muda setempat itu sengaja dibentuk Ronald. Maklum, bengkel kerjanya berada di lahan terbengkalai dekat persawahan. Dia membuat bilik sederhana sebagai tempat nongkrong anak muda.

’’Kita ajari semampu mereka sebagai mengisi waktu luang. Tapi, bisa menghasilkan,’’ sambung Ronald. Ketua RT 01 setempat, Priyanto, ditemui di lokasi mengaku terbantu keberadaan Ronald. Karena bisa melatih anak muda setempat keterampilan produk daur ulang ban bekas.

Selain mencegah kenakalan remaja, bengkel kerja Ronald juga bisa memberi pelatihan pembuatan tong sampah dan pot. ’’Produknya banyak dibeli warga setempat. Bisa berdayakan anak muda di masa pandemi juga,’’ ujarnya. 

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya