alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarmojokerto
Home > Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader
Cerita di Balik Lingkungan Pekuncen

Kunci Penyebaran Islam

03 September 2020, 14: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

JEJAK SEJARAH: Kompleks pemakaman Pie Kuan Chen dan para mantan Bupati Mojokerto di Lingkungan Pekuncen, Kelurahan Surodinawan. (Rizalamrullah/radarmojokerto.id)

Nama Pie Kuan Chen pun semakin dikenal oleh masyarakat. Tak terkecuali juga terdengar di telinga kalangan ulama dan sesepuh desa (kelurahan). Salah satu yang mendengar nama pejuang keturunan Tionghoa itu adalah Kiai Husain.

Kiai yang turut membabat atau membuka Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko hingga Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon. Kiai Husain merupakan sosok kakek dari Kiai Chusaini. Di mana, salah satu putra Mbah Kiai Husain tak lain adalah Mbah Ilyas, Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, yang tak lain adalah ayah kandung Kiai Chusaini.

Kiai Chusaini menlanjutkan, pada suatu waktu Kiai Husain dan Pie Kuan Chen saling dipertemukan. Kedua sosok yang sama-sama dikarunia kemampuan lebih ini akhirnya memutuskan untuk menjalani bahtera pernikahan. Setelah cukup lama berjuang menegakkan agama Islam dan berjuang melawan penjajah di Mojokerto, Pie Kuan Chen kemudian meninggal dunia. ”Sebelum Pie Kuan Chen sedho (meninggal), beliau minta dimakamkan di sana (Pekuncen, Red),” sambung Kiai Chusaini.

Mantan Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto ini menambahkan, kendati sudah wafat, karomah dari Pie Kuan Chen rupanya masih tampak. Itu terbukti ketika Belanda kembali menerbangkan pesawat dengan melintas di atas wilayah Pekuncen. Armada udara itu pun kembali mengalami kejadian serupa seperti tragedi sebelumnya.

Entah kenapa, pesawat yang diawaki tentara Belanda itu  tiba-tiba terbang tak seimbang dan meluncur deras menuju arah utara. Selang waktu beberapa lama kemudian, pesawat tempur tersebut terjatuh tepat di Rolak Songo, Sungai Brantas, Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar.

”Nah, dari situ kemudian diangkatlah nama Pie Kuan Chen menjadi perkampungan jadi Pekuncen. Jadi tidak sekadar ada namanya, semua itu ada cerita sejarahnya. Makanya, sejarah itu penting bagi kita semua untuk mengenang para leluhur,” pesan Kiai Chusaini mengakhiri cerita kecil sejarah terbentuknya Pekuncen di pendapa kediamannya.

Kisah tersebut dibenarkan oleh warga Lingkungan Pekuncen, Syaifudin, 55. Dia menuturkan, warga menganggap bahwa Pie Kuan Chen adalah sesepuh di perkampungan mereka. Tak hanya itu, perjuangan perempuan keturunan Tionghoa baik dalam syiar agama maupun perjuangannya melawan penjajah juga masih menjadi cerita tutur yang diwariskan secara turun temurun. ”Nyai Pie Kuan Chen itu itu orang lelono (pengembara) yang menyebarkan agama Islam. Sehingga, Pekuncen dulu adalah kuncinya orang muslim di Surodinawan,” tambahnya.

Kasi Pemerintahan dan Ketertiban Umum Kelurahan Surodinawan ini menyebutkan, tempat peristirahatan terakhir Pie Kuan Chen terletak di Pemakaman Islam Pekuncen, Kelurahan Surodinawan. Hingga kemudian, area tersebut dijadikan sebagai kompleks pemakaman bagi Bupati Mojokerto pertama R.A. Tjondronegoro beserta keturunannya.

Bahkan, tanah di Jalan Pekuncen Gang 2 itu juga dijadikan sebagai tempat bersemayamnya beberapa pejuang kemerdekaan, tokoh pemerintahan, hingga pahlawan nasional. ”Sampai sekarang masih banyak yang datang untuk berziarah. Tidak hanya dari warga setempat, tetapi juga dari luar kota,” imbuh pria kelahiran 4 Maret 1965 ini.

(mj/ram/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya