alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Puluhan Sekolah Buka Tatap Muka

01 September 2020, 12: 05: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

BERTEMU TEMAN: Siswa SMALB Negeri Seduri, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, melakukan pembelajaran membatik di masa uji coba pembelaran tatap muka. (Rizalamrullah/radarmojokerto.id)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto menambah jumlah sekolah percontohan dalam melaksanakan perpanjangan masa uji coba pembelajaran tatap muka.

Tak tanggung-tanggung, dari semula hanya diterapkan di enam lembaga, saat ini 57 SMA, SMK, dan SMALB ditunjuk membuka kegiatan belajar mengajar di kelas.

Sebelumya, Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menegaskan jika pemprov bakal melajutkan masa uji coba pembelajaran tatap muka. Tidak hanya itu, jumlah sekolah yang menjadi pilot project juga diperluas dengan menambah lembaga pelaksana.

Kepala Cabdindik Provinsi Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto Kresna Herlambang menyatakan, Dispendik Provinsi Jatim telah menindaklanjuti arahan dari gubernur. Dia menyebutkan jika tiap daerah diharapkan menambah jumlah sekolah untuk uji coba pembelajaran tatap muka setikdanya 25 persen dari total keseluruhan lembaga. ’’Untuk wilayah Mojokerto, ada 57 lembaga yang melaksanakan pembelajaran tatap muka,’’ terangnya, Senin (31/8).

Herlambang menyatakan, dari 57 lembaga tersebut, 48 di antaranya adalah satuan pendidikan di Kabupaten Mojokerto. Terdiri dari 18 lembaga SMA, 27 SMK, serta 3 SLB. Sedangkan 9 lembaga lainnya di Kota Onde-Onde. Dengan rincian 4 SMA, 4 SMK, dan 1 SLB.

Penambahan jumlah sekolah yang melaksanakan uji coba pembelajaran itu terbilang cukup signifikan. Bahkan, jumlah persentasenya mencapai 44 persen dari jumlah keseluruhan 132 lembaga di wilayah Mojokerto Raya. ’’Kalau kita hitung persentasenya kurang lebih 44 persen dari jumlah lembaga keseluruhan,’’ paparnya.

Mantan Kepala Cabdindik Wilayah Probolonggo ini menjelaskan, ditunjuknya 57 sekolah itu berdasarkan pertimbangan kesiapan lembaga. Dia menyebut jika masing-masing sekolah telah memiliki kelengkapan sarana prasaran dalam mendukung protokol kesehatan. Mulai dari sarana cuci tangan, thermal gun, pengaturan alur masuk sekolah, hingga penataan bangku dalam physical distancing.

Meski demikian, kehadiran siswa tetap ditentukan oleh restu orang wali murid. Pasalnya, seluruh siswa yang mengikuti pembelajaran di sekolah harus membawa surat pernyataan dari orang tua. ’’Tetapi kalau orang tua tidak memperbolehkan, maka tetap melaksanakan pembelajaran daring,’’ tandasnya.

Herlambang menyatakan jika perpanjangan uji coba tatap muka di 57 sekolah langsung diterapkan kemarin. Setiap sekolah hanya diperbolehkan menghadirkan siswa tidak lebih dari 25 persen dari jumlah keseluruhan siswa. Di samping itu, setiap kelas juga paling banyak harus diisi separo dari kapasitas rombongan belajar (rombel).

Waktu pembelajaran juga dibatasi dengan maksimal 4 jam pelajaran. Selama KBM berlangsung juga tidak ada jeda istirahat. Setelah bel berbunyi, siswa langsung diminta untuk kembali pulang.

Disinggung apakah pihaknya menjamin tidak ada persebaran Covid-19 selama pembelajaran di kelas, Kresna menyebutkan jika seluruh guru dan tenaga pendidikan (GTK) di jenjang SMA, SMK, dan SLB telah menjalani rapid test masal. Setidaknya, ada 27 orang yang dinyatakan reaktif dan telah diminta untuk isolasi mandiri.

Untuk itu, pihaknya juga meminta peran orang tua (ortu) untuk membantu mengawasi peserta didik. Hal itu untuk memastikan agar anak-anak langsung kembali ke rumah setelah dari sekolah. ’’Karena syarat utamanya jangan sampai ada anak atau guru dan tenaga pendidiknya terpapar. Karena risikonya jika ada yang terpapar, maka kita akan kembali pada nol kembali,’’ tandasnya. 

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP