alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Mojopedia
icon featured
Mojopedia

Proklamasi Kemerdekaan Didengar lewat Radio, Abah Yat Sujud Syukur

13 Agustus 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Foto KH Achyat Chalimy dipasang di pintu masuk makam di Jalan Wahid Hasyim Kota Mojokerto.

Foto KH Achyat Chalimy dipasang di pintu masuk makam di Jalan Wahid Hasyim Kota Mojokerto. (Rizal Amrulloh/Radar Mojokerto)

Diraihnya kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada 17 Agustus 1945 merupakan kabar gembira bagi seluruh rakyat di nusantara. Namun, keberhasilan untuk lepas dari penjajahan kala itu nyaris tak dirayakan secara ingar bingar.

Pasalnya, untuk sekadar mengabarkan tentang teks proklamasi yang dibacakan Soekarno pada 75 tahun silam itu pun harus siap mempertaruhkan nyawa.

DI Mojokerto, salah satu sosok pejuang yang berani menyebarluaskan tentang kemerdekaan RI adalah Mansyur Solikhi. Secara senyap, pemuda asal Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto itu mengabarkan tentang lahirnya negara yang berbendera merah putih.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, untuk menyebarluaskan berita kemerdekaan RI tersebut bukanlah hal yang mudah. Di samping membutuhkan nyali yang cukup besar, alat telekomunikasi massa juga masih terbatas.

”Hanya radio yang menjadi media utama telekomunikasi waktu itu,” terangnya. Itu pun, kata dia, semua radio telah ”dibungkam” oleh Jepang.Sebab, sejak pasukan negeri Matahari Terbit masuk ke Mojokerto 1942, pemerintah militer Jepang mengeluarkan aturan tentang penyegelan gelombang radio milik warga.

Sehingga semua radio warga harus diserahkan ke kantor Pemerintahan Ken atau Kabupaten Mojokerto. Selanjutnya, isolator receiver diatur pada posisi tetap adar radio tidak bisa dipindah gelombangkan selain frekuensi yang telah ditetapkan.

Setelah itu, radio dikembalikan pada pemiliknya. ”Akhirnya semua radio hanya bisa menerima siaran yang dilakukan oleh stasiun radio yang dikelola Jepang,” tandasnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, jika ada warga yang diketahui membuka segel, maka akan ditangkap dan dihukum oleh aparat militer Jepang. Namun, ancaman itu rupanya tidak menyurutkan nyali Mansyur Solikhi.

Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kawedanan Mojokasri tersebut mengubah gelombang penerima radio miliknya. Mansyur Solikhi membuka segel pada isolator receiveragar dapat bisa menerima siaran selain stasiun radio yang dikuasai Jepang.

Yuhan menyebutkan, agar tidak tepergok oleh kenpetai atau tentara Jepang, radio tersebut disembunyikan di bawah atap rumahnya di Kecamatan Gedeg.

Dengan demikian, Mansyur Solikhi banyak menerima berita dan informasi dengan jangkauan frekuensi radio yang lebih luas. Tepat pada hari Jumat, tanggal 17 Agustus 1945, Mansyur Solikhi mendengarkan siaran radio yang mengudara pada pukul 19.00.

Di mana pada siaran radio dalam negeri itu menyiarkan proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Jusuf Ronodipuro. Sebuah teks naskah yang sama seperti yang diproklamirkan Soekarno di Jalan Pengangsaan Timur, Jakarta pagi harinya.

Penulis buku Garis Depan Pertempuaran Laskar Hizbullah 1945-1950 ini menyebutkan, berkat siaran radio itu, Mansyur Solikhi akhirnya mengetahui jika Jepang sudah menyatakan menyerah tanpa syarat pasca Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Sekutu.

Abah Yat dan Jamaah Sujud Syukur

SEMENTARA itu, setelah mendengar siaran proklamasi, Mansyur Solikhi bergegas untuk mendatangi Ketua GP Ansor Mojokerto, Achyat Chalimy. Pemuda asal Gedeg tersebut menilai jika informasi kemerdekaan RI harus disebarluaskan pada rakyat yang sudah lama terbelenggu di bawah kaki penjajah.

Ayuhanafiq menceritakan, Mansyur Solikhi tak ingin berlama-lama untuk menyebarkan berita tentang proklamasi. Ketua GP Ansor Mojokasri itu langsung pergi ke kediaman Achyat Chalimy di Jalan Wahid Hasyim, Kelurahan Mentikan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto pada Jumat malam 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan 9 Ramadan 1334 Hijirah.

Saat itu, Abah Yat, sapaan Achyat Chalimy, tengah mengadakan tadarus di musala yang persis di depan tempat tinggalnya. Di rumah ibadah yang kini menjadi masjid sekaligus pesantren Sabilul Muttaqin itulah Mansyur Solikhi menyampaikan berita tentang proklamasi yang didengarnya dari radio.

”Abah Yat langsung mengajak semua jamaah di langgar itu untuk bersujud syukur,” imbuhnya. Senada dengan Mansyur Solikhi, Ketua GP Ansor Mojokerto itu pun juga menilai bahwa proklamasi harus segera disebarkan. Akan tetapi, peyebaran kemerdekaan RI tersebut belum bisa diumumkan secara terbuka.  Pasalnya, saat itu tentara Jepang masih berkedudukan di Mojokerto dan akan menangkap siapa saja yang menyebarluaskan proklamasi.

Yuhan menyebutkan, Abah Yat bersama Mansyur Solikhi kemudian menyusun rencana agar kemerdekaan republik bisa disebarluaskan dengan senyap. ”Proklamasi itu kemudian menyebar secara berantai dari mulut ke mulut. Khususnya di kalangan Ansor dan Nahdlatul Ulama (NU) Mojokerto,” bebernya.

Lambat laun, berita kekalahan Jepang atas sekutu juga semakin terdengar luas di telinga masyarakat. Yuhan menyatakan, animo kemerdekaan semakin tampak setelah selebaran teks proklamasi yang dicetak para pemuda Surabaya beredar di Mojokerto.

Sehingga pada awal September telah banyak bendera merah putih yang dikibarkan di jalan-jalan protokol hingga perkampungan. Tak hanya itu, para pemuda Mojokerto juga turun ke jalan untuk pasang badan agar sang saka tetap berkibar.

”Keputusan Mansyur Solikhi untuk mendatangi Abah Yat merupakan langkah yang berani. Sehingga berita tentang lahirnya negara Indonesia bisa disebarkan pada warga Mojokerto,” tandasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP