alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Mojopedia
icon featured
Mojopedia

Penjarahan Senjata Opas Pabrik Gula Dipelopori Tokoh GP Ansor

06 Agustus 2020, 22: 11: 46 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pos pertahanan Belanda yang berada di dekat PG Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, tahun 1947.

Pos pertahanan Belanda yang berada di dekat PG Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, tahun 1947. (Dokumen istimewa)

WILAYAH di utara Sungai Brantas Mojokerto menjadi salah satu titik lokasi bersejarah dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Pasalnya, di wilayah eks Kawedanan Mojokasri dulu kerap terjadi aksi heroik para pejuang dalam mengusir penjajah. Kecamatan Gedeg menjadi saksi terjadinya sejumlah peristiwa perlawanan.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, pada awal pendudukan Jepang 1942, para pejuang berencana melakukan perampasan senjata. Penjarahan senjata tersebut digagas oleh para tokoh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Mojokerto yang kala itu diketuai Achyat Chalimy.

’’Dalam sebuah forum rapat, penjarahan pertama akan dilakukan pada Pabrik Gula (PG) Gempolkrep,’’ terangnya. Strategi pun disusun untuk bisa menyusup ke PG Gempolkrep. Rencananya, perampasan akan dilakukan langsung oleh Mansyur Sholikhi bersama sejumlah anggota lainnya.

Mansyur dinilai lebih menguasai medan. Sebab, selain menjadi Ketua GP Ansor Kawedanan Mojokasri, pemuda tersebut juga berdomisili di Desa/Kecamatan Gedeg.

Tak ketinggalan, Achyat Chalimy juga berperan sebagai mata-mata. Tokoh perjuangan yang dikenal Abah Yat ini bertugas mengawasi pergerakan tentara Jepang selama rencana penjarahan dilakukan.

Pada 10 Mei 1942, Mansyur Solikhi berhasil meranggsek ke PG Gempolkrep. Penjarahan dilakukan dengan melucuti senjata api dari tangan penjaga pabrik. ’’Karena para opas pabrik saat itu dibekali senjata senapan. Selain itu, para pimpinan setingkat sinder biasanya juga memiliki pistol,’’ paparnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, rupanya strategi penjarahan senjata itu tak sesuai dengan harapan. Pasalnya, Mansyur hanya berhasil merampas beberapa pucuk senjata api. Setelah itu, para pemuda Ansor tersebut segera membubarkan diri.

Namun, pasca aksi perampasan keamanan Jepang mendengar setelah mendapat laporan dari pegawai. Sehingga, pasukan dari Negeri Matahari Terbit menggunakan truk militer bergegas ke PG Gempolkrep dari markasnya di Alun-Alun Mojokerto.

Mengetahui hal tersebut, Achyat Chalimy yang berjaga di dekat Jembatan Lespadangan berusaha lekas memberitahu para pemuda Ansor. Agar cepat menyusul rekan-rekannya, tukas Yuhan, Abah Yat menumpang sebuah truk yang kebetulan melaju ke arah Gempolkrep.

Namun nahas, truk yang ditumpangi Abah Yat mengalami kecelakaan saat  melaju di Jalan Raya Desa Kematren, Kecamatan Gedeg. Truk bermuatan ubi jalar tersebut terguling sehingga rencana untuk menyelamatkan Mansyur Solikhi dan pemuda GP Ansor pun gagal.

’’Tentara Jepang berhasil menangkap Mansyur Solikhi tepat saat melintas di Jembatan Ranjen,’’ tandasnya. Di jembatan yang menghubungkan antara Desa Gempolkrep dengan Desa Gedeg itu, senjata api hasil rampasan dari pegawai pabrik gula diamankan oleh Jepang.

Kemudian, Mansyur Solikhi serta para pemuda Ansor yang ikut menjarah dijebloskan dalam penjara. Dari barang bukti beberapa pucuk senjata rampasan itu, para pejuang tersebut diadili. Dalam sebuah persidangan cepat, mereka diputuskan bersalah dan divonis hukuman mati.

Tak menunggu waktu lama, eksekusi dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 1942 di Alun-Alun Mojokerto. ’’Mansyur Solikhi sempat ditembak, tapi entah bagaimana beliau bisa selamat,’’ tandas penulis buku Garis Depan Pertempuaran Laskar Hizbullah 1945-1950 ini. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP