alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Warga Kesulitan Air Bersih

04 Agustus 2020, 12: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

BELUM MERATA: BPBD Kabupaten Mojokerto melakukan pengiriman air bersih di Dusun Telogo, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Minggu (2/8). (sofankurniawan/radarmojokerto.id)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Krisis air bersih di Dusun Telogo, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto yang terjadi selama sebulan lebih akhirnya disikapi pemerintah daerah. Melalui BPBD Kabupaten Mojokerto, pemerintah mulai mengirimkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan warga Minggu (2/8). Seperti mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto M. Zaini mengatakan, kekurangan air bersih di Desa Kunjorowesi memang menjadi atensi pemerintah daerah. Selain sudah menjadi bencana tahunan, di wilayah setempat memang tak ada sumber air yang mengalir. Sehingga tidak heran, jika setiap musim kemaru tiba, desa berada di lereng Gunung Penanggungan sisi utara itu selalu mengalami krisis air bersih. ’’Karena sudah masuk kemarau, warga mulai kesulitan air bersih,’’ ungkapnya.

Sebagai langkah awal, BPBD sudah melakukan pengiriman air bersih ke Dusun Telogo layaknya tahun-tahun sebelumnya. Hanya, bantuan ini baru dilakukan di satu dusun. ’’Data yang masuk memang baru Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro,’’ tuturnya. Untuk itu, proses pengumpulan data masih terus dilakukan BPBD dalam mitigasi bencana musiman ini. ’’Untuk kecamatan lain belum masuk. Kita berharap minggu ini proses pendataan sudah tuntas,’’ tambahnya.

Menurut dia, mitigasi bencana itu nantinya sebagai modal pemerintah menetapkan status siaga darurat kekeringan di Mojokerto. Yadi, warga Desa Kunjorowesi mengatakan, saat musim kemarau tiba, dua dusun di Desa Kunjorowesi menjadi wilayah yang paling terdampak. ’’Dusun Telogo dan Dusun Sumber ini memang dusun yang pertama dan paling terdampak kekeringan. Lokasinya paling ujung. Juga tidak ada sumber air,’’ katanya. Dengan pengiriman air bersih oleh pemerintah Minggu (2/8) sedikit membuat warga lega. Namun, pengiriman dianggap belum maksimal karena masih dua tangki saja.

Sehingga belum seimbang dengan kebutuhan warga di dua dusun yang memiliki 700 jiwa dengan KK (kartu keluarga) mencapai 250-an. ’’Setidaknya butuh 4-5 tangki dalam sehari. Saya kira bisa maksimal. Karena di Telogo ada dua titik penampungan air, dan empat titik di Dusun Sumber,’’ tandasnya. Mengacu tahun-tahun sebelumnya, bencana krisis air besih di kabupaten terdapat di 3 dari 18 kecamatan. Dua dari 3 kecamatan ini menjadi kawasan yang sudah menjadi langganan setiap tahun.

Masing-masing, di Kecamatan Ngoro dan Dawarblandong. BPBD menyebut, di dua wilayah ini setidaknya ada 6 desa yang selalu terdampak. Di Kecamatan Ngoro meliputi Desa Kunjorowesi, Desa Manduromanggunggajah, Desa Kutogirang, dan Desa Wotanmas Jedong. Dari empat desa itu terdapat sekitar 3.297 jiwa yang biasa terdampak kekeringan.

Sedangkan di Kecamatan Dawarblandong, krisis air berdampak pada 750 jiwa di Dusun Sekeping, dan 700 jiwa di Dusun Dawar. Selebihnya, sebanyak 375 jiwa di Dusun Tempuran; 825 jiwa Dusun Ngagrok; 420 jiwa di Dusun Genceng; dan 450 jiwa di Dusun Mlati, Desa Simongagrok. Sedangkan untuk satu wilayah lagi terdapat di Desa Duyung, Kecamatan Trawas.

(mj/ori/ron/JPR)

 TOP