alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Eks Kades Ditahan, Perangkat Desa Kompak Mundur

04 Agustus 2020, 10: 15: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Ratusan warga Lebak Jabung, Jatirejo memberikan dukungan ke Arif (sofankurniawan/radarmojokerto.id)

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto - Penahanan yang dilakukan kejari terhadap kades (nonaktif) Lebakjabung, Arif Rahman, memantik reaksi keras dari warga. Para perangkat desa memastikan bakal mengajukan pengunduran diri secara serentak.

Hal itu diungkapkan korlap aksi, Ahmad Yani kepada Jawa Pos Radar Mojokerto di tengah aksi demonstrasi di depan gedung kejari Senin (3/8) siang. ’’Kalau sampai ditahan, RT, RW, Linmas akan mundur. Bahkan, perangkat yang lain juga akan mundur,’’ ujarnya.

Dengan aksi mundur massal itu, tegas Yani, sebagai bentuk keseriusan warga untuk membela kades. ’’Kita akan membubarkan diri. Karena sudah tidak dianggap oleh pemerintah daerah,’’ imbuh dia.

Ancaman itu terus didengungkan lantaran proses pembagian hasil tambang di kampungnya tersebut sudah melalui kesepakatan seluruh warga dan muspika. ’’Waktu itu, ada Pak Camat, Danramil, dan Kapolsek,’’ ceritanya.

Yani menambahkan, Arif Rahman bukanlah kades yang serakah. Karena dari hasil normalisasi sebesar Rp 2 miliar, warga kompak meminta agar kades mendapat jatah Rp 500 juta. Nyatanya, kades menolak dengan alasan jumlah yang terlalu besar. ’’Akhirnya, hanya minta Rp 300 juta saja,’’ kata dia.

Dana lainnya, tak hanya dibagikan ke masyarakat. Namun, sisa dana dipakai untuk pembangunan bahkan irigasi di area persawahan. ’’Jadi, ini murni normalisasi. Karena tanahnya sekarang sudah produktif,’’ imbuh dia.

Yani menceritakan, tanah seluas 2 hektare yang ditambang itu, bukan tanah yang produktif. Warga di kampung ini menyebutnya sebagai karang gantung. Tanah ini memiliki ketinggian yang berbeda dibanding tanah di sekelilingnya. Irigasi tak mampu menyentuhnya yang mengakibatkan tanah menjadi tak produktif. ’’Ini sejak tahu 2014 lalu. Dan, sejak tahun 2016, tanah sudah produktif,’’ tegas Yani.

Tak hanya produktif. Aset desa yang semula hanya seluas 2 hektare, kini sudah mengembang hingga 3,5 hektare. ’’Karena ada dana, sempat dibelikan tanah sampai 1,5 hektare,’’ pungkas dia.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP