alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Kebingungan Wali Murid SLB Negeri Seduri

Ada Siswa yang Tidak Mau Mandi dan Berpakaian

03 Agustus 2020, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Siswa SLB Negeri Seduri belajar membantik.

Siswa SLB Negeri Seduri belajar membantik. (Rizal Amrulloh/Radar Mojokerto)

Penerapan pembelajaran dalam jaringan (daring) selama pandemi ini rupanya belum bisa berjalan maksimal di lembaga pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus (PK-PKL). Pasalnya, tidak semua peserta didik yang notabene anak berkebutuhan khusus (ABK) mampu mengikuti pembelajaran secara online.

SEPERTI yang terjadi di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Seduri, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Para guru dan siswa masih mengalami berbagai kendala dalam menjalankan proses belajar mengajar secara daring. Hal tersebut disebabkan karena kemampuan masing-masing ABK yang beragam.

”Hanya sebagian yang daring dan sebagian luring (luar jaringan),” terang Plt Kepala SLB Negeri Seduri Tatok Budi Utomo, kemarin. Dia menuturkan, pembelajaran daring hanya dapat diikuti bagi kelompok siswa tunarungu wicara saja.

Pasalnya, peserta didik tersebut hanya memiliki keterbatasan secara fisik. Sedangkan untuk kemampuan kognitif dan mental masih relatif sama dengan anak normal pada umumnya.

Kendati demikian, dalam pembelajaran jarak jauh berlangsung, peran dari orang tua juga sangat dibutuhkan. Hal tersebut guna mendampingi peserta didik selama proses belajar daring. Sebab, kata Tatok, siswa berkebutuhan khusus tidak bisa dipaksakan untuk mengikuti seluruh proses pembelajaran.

”Memang sulit, tapi tetap harus dilaksanakan semampunya siswa. Entah ditugaskan apa, yang penting anak bisa tetap belajar di rumah,” ulasnya. Sementara untuk kekhususan lainnya, diakui Tatok masih sulit untuk diterapkan secara daring. Sehingga pihak sekolah lebih memilih untuk melakukan pembelajaran luring.

Yaitu, dengan cara mendatangi ke rumah siswa. Dia menyebutkan, dari 163 siswa jenjang SD-LB, SMP-LB, dan SMA-LB di SLB Negeri Seduri, terdapat lima kategori kekhususan. Selain tunarungu wicara, juga terdapat kelompok siswa tunagrahita, tunanetra, tunadaksa, dan autisme.

Namun, kekhususan tersebut tidak memungkinkan untuk melakukan pembelajaran online. ”Kadang-kadang orang tua yang kita kasih tugas untuk disampaikan anaknya. Tapi, rata-rata orang tua kebingungan, sehingga tidak bisa maksimal,” tegas pria yang juga menjabat kepala SLB PGRI Dlanggu ini.

Sehingga, imbuh Tatok, wali murid merasa sangat membutuhkan peran guru pendamping agar buah hatinya bisa kembali belajar secara tatap muka di sekolah. ”Karena anak ada yang justru tidak mau mandi, dan tidak mau berpakaian,” bebernya.

Oleh karena itu, selama berjalannya pembelajaran daring di tahun ajaran baru sejak 13 Juli lalu, pihak sekolah berencana akan melakukan evaluasi. Rencananya, dia akan berkoordinasi dengan kepada Cabang Dinas Pendidikan (Dispendik) Provinsi Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto untuk bisa menggelar kegiatan belajar mengajar secara klasikal.

Khususnya dalam kegiatan vokasional atau pembelajaran yang bersifat praktik. Sebab, selama ini, para siswa berkebutuhan khusus diberdayakan dengan berbagai kegiatan yang produkif. Antara lain, membuat karya batik, bernyanyi, maupun bermain berbagai alat musik.

”Entah seminggu sekali masuk ke sekolah, tetapi tetap dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat. Kita juga akan melakukan pengamatan pada lingkungan keluarganya untuk memastikan benar-benar bebas dari paparan Covid-19,” tambahnya.

Upaya itu dilakukan agar selama pembelajaran jarak jauh ini anak tidak sekadar menerima pelajaran dalam bentuk materi, tetapi juga tetap mendapatkan praktik keterampilan. Sebab, pada dasarnya, tiap ABK memiliki kelebihan di bidang tertentu.

Sehingga perlu dilakukan pendampingan agar bisa mengembangkan potensi tersebut. ”Kalau tidak dipaksakan seperti itu, nanti perkembangannya sangat minim. Bisa jadi malah kemunduran jika tidak ada yang mendampingi,” tandasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP