alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
S. Dwi Andrianto, Pelaku Seni Pyrography

Rakit Alat Pembakar, Munculkan Kesan Natural

03 Agustus 2020, 09: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

TANPA TINTA: S. Dwi Andrianto menunjukkan hasil karya lukisan pyrography. (Rizalamrullah/radarmojokerto.id)

Di tangan S. Dwi Andrianto, potongan limbah kayu dapat dikreasikan menjadi sebuah karya yang memiliki cita rasa seni. Ya, seniman dan pelaku usaha di bidang industri kreatif ini memberikan sentuhan lukisan dengan cara proses pembakaran atau dikenal dengan pyrography.

BERAWAL menyalurkan hobi, pria yang akrab disapa Andri ini, mencoba untuk terjun menggeluti usaha kerajinan berbahan baku limbah kayu. Sejak setahun ini, warga asal Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, ini mengolah lembaran kayu untuk dibentuk berbagai macam produk kerajinan.

Di antaranya memproduksi dekorasi interior. Mulai dari rak tempel, rak bunga, maupun hiasan meja. Namun, Andri mencoba untuk memberi sentuhan berbeda agar kerajinan mempunyai ciri khas dan nilai seni tersendiri. Dia memadukannya dengan pyrography untuk memberikan motif pada kerajinan interiornya. ’’Saya tambahkan motif-motif batik agar ada unsur seninya,’’ ulasnya.
Tak hanya itu, Andri akhirnya juga membuat karya khusus pyrography. Yaitu teknik melukis yang proses pembuatannya dengan cara pembakaran pada sebidang kayu. Berbagai karya telah dihasilkannya. Antara lain, melukis wajah, hingga ragam flora dan fauna. ’’Dulu memang senang melukis. Tapi bedanya pyrography ini medianya tidak kanvas dan tinta, cuma pakai kayu sama alat pemanas saja,’’ tandasnya.

Andri mengaku secara otodidak mempelajari seni pyrography. Bahkan, dia merakit sendiri untuk menemukan alat pembakar yang sesuai dengan keinginannya. Untuk menghasilkan alat penghantar kalor itu, dia melakukan uji coba dengan mengutak-atik perangkat elektronik.

Dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan merakit alat tersebut. Hingga akhirnya Andri menemukan elemen pemanas yang dinilai pas dengan kebutuhannya. Elemen pemanas itu dibuat dari hasil memodifikasi perangkat trafo dan kawat nikelin sebagai ujung baranya. ’’Sebenarnya ada alat khusus, cuma harganya terlalu tinggi. Akhirnya merakit alat sendiri,’’ ulasnya.

Andri menyebutkan, agar bisa menghasilkan karya lukis yang bagus, media kayu yang digunakan harus memiliki latar belakang warna putih dan berserat padat. Biasanya, paling sering digunakan adalah kayu jati muda, jati belanda, dan pinus.

Menurutnya, pyrography memiliki keunggulan tersendiri dibanding karya lukis dengan teknik lainnya. Salah satunya, warna yang tidak akan lekang oleh waktu. Sebab, tiap goresan yang dihasilkan merupakan hasil dari proses pembakaran. ’’Tidak akan berubah warna karena tidak pakai tinta. Jadi sampai kapanpun akan seperti itu, kesannya lebih natural,’’ ulasnya.

Di sisi lain, melukis dengan cara pembakaran juga memiliki tingkat kesulitan sendiri. Pasalnya, apabila terjadi kesalahan, maka goresan tidak akan bisa dihilangkan. Selan itu, dibutuhkan kreativitas untuk bisa menghasilkan karya yang baik.

Pasalnya, pelukis tidak bisa mengkreasikan beragam warna. Karena hanya mengandalkan warna alami dari proses pembakaran. ’’Jadi, hanya menggunakan teknik gelap terang yang natural dari proses memanaskan kayu,’’ pungkasnya. 

(mj/ram/ris/ron/JPR)

 TOP