alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarmojokerto
Home > Politik
icon featured
Politik
Tiga Srikandi di Tengah Kontestasi

Tak Hanya Jadi Magnet Suara

03 Agustus 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

(Dari kanan) Ikfina Fahmawati, Choirunnisa dan Titik Mas'udah. (ilustrasi/nadzir)

Kehadiran perempuan di dunia politik selalu menarik perhatian publik. Mereka seakan menjadi magnet meraup suara di masyarakat bawah. Di pilkada Mojokerto 2020 nanti, tiga sosok perempuan bakal mengikuti kontestasi.

Satu di antaranya adalah Choirunnisa. Mantan Wakil Bupati Mojokerto periode 2010-2015 ini berpasangan dengan kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Mojokerto YokoPriyono dan diusung dua parpol besar. Yakni, Golkar dan PPP.

Semula, Choirunnisa tercatat bukan terlahir menjadi seorang politisi. Ia adalah seorang guru PNS yang jauh dari ingar-bingar percaturan politik. Sedangkan, suaminya, Syihabul Irfan Arif adalah mantan Ketua PC NU Kabupaten Mojokerto.

Running bersama Mustofa Kamal Pasa (MKP), pasangan ini mampu melesat jauh dibanding dua rivalnya, Suwandi-Wahyudi Iswanto dan Khoirul Badik-Yazid Qohar. Banyak yang menyebut, kemenangan telak ini, tak bisa lepas dari sentimen gender. ’’Sebenarnya nggak ada bedanya. Nggak lanang tok sing pinter, tapi perempuan juga sama,’’ ungkap Ketua DPD Golkar Kabupaten Mojokerto Subandi.

Sebagai parpol pengusung Yoko-Nisa di pilkada 2020 nanti, Subandi menambahkan, generasi milenial sangat responsif terhadap keberadaan kandidat perempuan. Tak dimungkiri, jumlah pemilih pemula dan muda di Kabupaten Mojokerto cukup mendominasi. ’’Kalau saya, melihatnya bukan menjadi magnet suara. Tapi lebih bersifat umum. Mereka juga memiliki kapasitas dalam berpolitik,’’ tegas dia.

Nisa, kata pimpinan DPRD Kabupaten Mojokerto ini, juga dinilai memiliki komitmen kepempinan yang baik. Hal itu bisa terlihat selama kepempinannya selama lima tahun di Kabupaten Mojokerto. ’’Dan, akar rumpun juga sangat baik,’’ kata Subandi.

Figur perempuan kedua yang akan berkompetisi di pilkada 2020 nanti adalah Titik Mas’udah. Adik kandung Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah ini akan berpasangan dengan petahana Pungkasiadi. Ia juga bukan perempuan yang sekadar paham tentang kebutuhan dapur saja. Tetapi, ia memiliki segudang pengalaman di bidang birokrasi.

Data yang dikantongi Jawa Pos Radar Mojokerto menyebutkan, alumnus UIN Sunan Ampel 1998 ini sudah mulai masuk ke Senayan sejak 2007 silam dan sebagai asisten pribadi anggota DPR RI. Perempuan berjilbab ini kemudian tercatat sebagai tenaga ahli anggota DPR RI selama sembilan tahun terhitung sejak 2010 hingga 2019.

Di bidang organisasi, ibu dua anak ini juga kerap menduduki jabatan sejak menjadi aktivis. Mulai Wakil Ketua PW IPPNU Jatim, PP IPPNU, hingga jabatan saat ini Bendahara Umum PP Fatayat NU.

Sarat pengalaman, membuat Titik tak tinggal diam. Peluang menjadi pendamping petahana pun diambilnya. ’’Perempuan memiliki hak dan kapasitas yang sama dalam berpolitik,’’ kata perempuan berjilbab ini.

Namun, dalam praktiknya, kaum perempuan kerap menjadi minoritas di dunia politik. ’’Data sudah sangat jelas. Caleg perempuan yang terpilih hanya 20,5 persen. Padahal, jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding laki-laki,’’ jelasnya.

Untuk itu, ia pun terjun dan berharap agar keberpihakan terhadap perempuan kian besar. ’’Keberadaan politisi perempuan di parlemen maupun eksekutif, kurang menguntungkan. Sehingga, perlu dorongan agar perempuan memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk mewarnai politik tanah air,’’ harap Titik.

Kandidat perempuan yang bakal running di pilkada 2020 adalah Ikfina Fahmawati. Perempuan ini akan duet dengan anak kandung pengasuh PP Amanatul Ummah, Pacet, Prof. Dr. Asep Saifudin Chalim, Muhammad Al Barra.

Ikfina bukan seorang politisi. Ia dikenal banyak orang sebagai seorang dokter. Namun, label itu mulai memudar saat suaminya, Mustofa Kamal Pasa (MKP) menjabat Bupati Mojokerto tahun 2010 silam. Ikfina lebih dikenal sebagai ketua PKK yang sangat rajin dengan berbagai kegiatannya di masyarakat.

Ikfina sangat keibuan. Sebagai seorang dokter, ia selalu perhatian tentang kesehatan seseorang. Hal inilah yang membuat perempuan ini dikenang dan mudah bergaul dengan masyarakat kelas bawah.

Tak hanya bermodal grapyak. Ikfina yang mendampingi MKP selama tujuh tahun saat menjabat sebagai bupati, telah menempa dirinya dengan berbagai situasi politik. ’’Perempuan lebih sensitif. Sehingga, ketika ada gejolak sedikit saja, sudah bisa dirasakan,’’ jelas Ketua Tim Pemenangan Ikbar, Agus Basuki.

Menurut Agus, selama terjun hingga ratusan kali, Ikfina lebih dikenal sebagai seorang figur dokter. Sehingga, berbagai kasus kesehatan pun seringkali dijawab dengan gamblang. ’’Tetapi, hampir semua bidang, sudah dipahami. Sebagai seorang dokter, tentu memiliki kemampuan berpikir yang berbeda. Lebih cerdas dibanding profesi lain,’’ pungkas Agus Basuki.

Meski memiliki berbagai latar belakang, namun para kandidat ini akan berhasil dengan sejumlah faktor. Diantaranya, mesin politik. Karena, mereka memiliki peran penting dalam mengatur strategi dalam kontestasi.

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP