alexametrics
Kamis, 13 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Ajukan Bantuan Internet Rp 8 Miliar

02 Agustus 2020, 19: 23: 07 WIB | editor : Imron Arlado

Jawa Pos Radar Mojokerto

Siswa harus belajar daring di sebuah warung untuk menghindari pembengkakan biaya kuota internet. (sofankurniawan/radarmojokerto.id)

Polemik metode pembelajaran dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring) tidak hanya dikeluhkan para orang tua dan peserta didik. Para guru pun nyatanya juga banyak yang mengeluhkan sistem pembelajaran jarak jauh tersebut. Selain tidak bisa mengenal anak didiknya, fasilitas maupun sarana dan prasarana yang dimiliki guru juga tidak semuanya tercukupi.

Fenomena ini pun turut diakui Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto sebagai permasalahan yang harus dipecahkan secepatnya. ’’Kami pun sadar dan tahu betapa sulitnya mengajar tanpa tatap muka. Tapi, mau bagaimana lagi, cara ini yang terbaik di situasi pandemi Covid-19 yang belum berakhir,’’ terang Zainul Arifin, Kadispendik Kabupaten Mojokerto.

Namun, Zainul menegaskan, fenomena pembelajaran di warung kopi (warkop) hingga siswa absen karena tidak memiliki handphone (HP) atau laptop bukanlah masalah yang pelik.

Sebab, masih banyak langkah alternatif agar sistem pembelajaran bisa terus berjalan. Salah satunya dengan home visite guru yang sudah dijadwalkan masing-masing sekolah. Dengan guru mengunjungi siswanya, secara otomatis interaksi antar keduanya bisa saling terjalin.

Baginya, home visite bukanlah sebuah pelanggaran, asalkan standar protokol kesehatan bisa diterapkan dengan baik. ’’Home visite itu memang solusi alternatif yang ditawarkan. Apalagi, bagi siswa baru, guru harus mengenal karakter peserta didiknya secara lebih dalam,’’ tandasnya.

Tidak hanya itu, dispendik juga sudah mengusulkan bantuan untuk mengatasi keterbatasan akses internet selama pembelajaran daring berlangsung. Setidaknya bantuan sebesar Rp 8 miliar tengah diupayakan segera cair untuk diwujudkan dalam bentuk kuota internet gratis selama tiga bulan. Bantuan tersebut nantinya akan dibagi menjadi beberapa macam paket data. Yakni, paket Rp 30 ribu untuk masing-masing 61.475 siswa SD, dan 24.190 siswa SMP.

Sedangkan untuk 3.787 guru SD dan 1.228 guru SMP, juga akan mendapat bantuan paket data masing-masing Rp 50 ribu. ’’Semoga secepatnya bisa disetujui pemkab dan akan langsung kita bagikan kepada masing-masing siswa. Kita usulkan untuk tiga bulan dulu. Harapan kami tidak sampai tiga bulan, situasi pandemi sudah kondusif dan pembelajaran bisa dilakukan secara tatap muka,’’ tuturnya.

Meski begitu, bantuan tersebut diakuinya hanya sebatas solusi dalam pendukung pembelajaran daring. Sedangkan untuk efektifitas pembelajaran sendiri, semua tergantung dari kerja sama antara guru, sekolah, dan orang tua.

Sebab, kunci suksesnya pendidikan di sekolah tetap berpangku pada proses ketiga stakeholder dalam menjalani pembelajaran itu sendiri. ’’Orang tua juga tidak bisa menyerahkan begitu saja anaknya kepada guru atau sekolah, dengan alasan apa pun. Tetap harus ada saling memahami dan kerja sama dalam mendidik siswa. Baik di dalam maupun di luar sekolah,’’ tandasnya.

(mj/far/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia