alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Penipuan Grosir Sepatu Online Dibongkar, Pelaku Pakai Rekening Ibunya

01 Agustus 2020, 12: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sejumlah barang bukti diamankan petugas dari tangan para tersangka di Mapolresta Mojokerto.

Sejumlah barang bukti diamankan petugas dari tangan para tersangka di Mapolresta Mojokerto. (Satreskrim Polresta for Radar Mojokerto)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto - Sindikat penipuan online antarkota antarprovinsi dibongkar Satreskrim Polresta Mojokerto. Dua dari tiga pelaku berhasil diringkus.

Para pelaku bahkan telah meraup ratusan juta dari korban. Mereka adalah Yusup Aryanto, 26, warga Kecamatan Bumi Jawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah (Jateng), dan Hariansyah, 29, warga Desa Karang Raja, Kecamatan Merbau Mataram, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

’’Status Hariansyah ini sebagai pelaku utama. Dan Yusup pembantu,’’ ungkap Kasatreskrim Polresta Mojokerto AKP Sodik Efendi, Jumat (31/7). Keduanya ditangkap berdasarkan laporan warga Lingkungan Jayeng, Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Awal Juni lalu, sekitar pukul 12.00 WIB, korban dihubungi oleh pelaku melalui aplikasi WhatsApp. Pelaku menawarkan sandal dan tas dalam jumlah partai besar dengan harga grosir. ’’Setelah terjadi kesepakatan harga, korban kemudian mentransfer uang Rp 92.648.000 ke rekening pelaku,’’ katanya.

Sayangnya, setelah uang ditransfer, barang yang dijanjikan tak juga dikirim. Bahkan, nomor handphone (HP) yang sebelumnya digunakan transaksi oleh tersangka sudah tidak aktif lagi.

Sadar menjadi korban penipuan, korban lalu melapor ke Mapolresta Mojokerto. Bermodalkan laporan itu petugas pun memburu pelaku. Hasilnya, pada Kamis (23/7) pukul 21.00 WIB, dua pelaku ditangkap.

Penangkapan keduanya berawal dari identitas nomor rekening  yang ditransfer korban. Yakni, atas nama Jumaroh, yang kebetulan posisinya berada di Desa/Kecamatan Bumi Jawa, Kabupaten Tegal, Provinsi Jateng. Dari hasil keterangan Jumaroh, ternyata rekeningnya dimanfaatkan anaknya, Yusup Aryanto, untuk melakukan tindak pidana penipuan.

’’Seketika itu pelaku langsung diamankan. Untuk sang ibu tidak tahu. Hanya rekeningnya saja dimanfaatkan anaknya,’’ ungkapnya. Tak mau mendekam seorang diri, Yusup pun buka suara. Tak membutuhkan waktu lama, giliran petugas mengamankan pelaku utama, Hariansyah.

Dengan di-back up tim Resmob Polres Metro Jakarta Barat, Hariansyah ditangkap di Lokasari Square, Kelurahan Mangga Besar, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, berikut barang bukti kejahatan.

Meliputi, dua lembar rekening koran BRI atas nama Regi Oktaviana, dua lembar rekening koran BRI atas nama Jumaroh, ATM BRI dan buku rekening milik Jumaroh, dua lembar rekening koran BRI atas nama Bahtiar Maulana, dua lembar rekening koran BRI atas nama Aji Maemun.

’’Kami juga mengamankan rekaman CCTV, laptop, dan HP yang diduga sebagai alat melancarkan aksinya,’’ tuturnya. Selama ini, para pelaku juga bekerja sama dengan satu seorang pelaku lagi dalam satu jaringan. Dia yang berperan sebagai marketing hingga kini masih pengejaran.

Hasil pengembangan, kata Sodik, komplotan ini tergolong profesional. Bukan kali ini saja melakukan penipuan. Melainkan sudah beraksi di beberapa kota besar. ’’Mereka ini memang sindikat penipuan online antarkota antarprovinsi,’’ tegasnya.

Dari pengakuan pelaku, mereka sudah beraksi berulang-ulang. Masing-masing di Surabaya, Solo, Klaten, dan sejumlah kota lain. Dalam sekali beraksi, pelaku meraup uang puluhan juta dari korban.

’’Kerugian setiap korban mencapai Rp 10 juta hingga Rp 92 juta. Karena sebagian korban ada yang masih bayar uang muka,’’ tegas perwiwa dengan tiga balok di pundak ini. Dalam aksinya, pelaku biasa melakukan acak.

Mereka mencari target dengan berselancar di dunia maya. Setelah pelaku menemukan toko sandal, sepatu, atau dan yang mencantumkan nomor handphone, pelaku lantas menawarkan barang dagangan yang dicari korban. Untuk menarik pembeli, mereka menawarkan dengan harga grosir dan murah.

Untuk meyakinkan korban, mereka juga mengirimkan sejumlah gambar sebagai contoh melalui WhatsApp. Bahkan, mereka terus membujuk para korban agar tertarik membelinya dalam jumlah besar.

Sehingga tak jarang hingga terjadi kesepakatan harga. Selanjutnya, korban baru diminta mentrasfer sejumlah uang ke nomor rekening yang sudah disiapkan pelaku. ’’Pelaku ini memang banyak stok gambar, tas, sepatu dan sandal. Tidak ada merek, seperti home industry. Tapi, ini gambarnya saja, asal jiplak,’’ tandas Sodik.

Kini kedua tersangka dijerat pasal 378 KUHP tentang Penipuan. ’’Dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara,’’ tuturnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia